
Andra datang sambil menepuk pundak Nada, dia mencoba saling menguatkan. Dia tau istrinya tidak akan memberikan harapan lebih, tapi di saat seperti ini saling menguatkan mungkin lebih baik.
"Kalau sampai Alif tidak segera sadar, aku tak akan pernah memaafkan mu," ucap Nada datar.
Andra tersenyum kecil, dia sampai lupa kalau di hadapannya saat ini bukanlah ibu kandung Alif. Kalau orang yang tidak tau, pasti mereka mengira mereka adalah Ibu-anak.
Andra duduk di samping Alif yang tertidur, kakinya sudah pegal karena berdiri sejak tadi. Matanya menatap Alif yang masih terlelap, jauh di dalam lubuk hatinya dia masih merasa bersalah.
Kalau saja dia peka terhadap putranya, pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Bahkan malah ibu sambungnya yang lebih mengerti dia dari pada Ayah kandungnya.
Andra membelai lembut pipi Alif, sentuhannya tak sedikitpun bereaksi pada Putranya. Sepertinya putranya saat ini sedang asik di dunianya sendiri.
"Tidurlah, aku akan menjaga Alif untukmu," ucap Andra.
Nada menggeleng lirih, dia masih bisa melawan kantuknya demi putranya, dia tak mau melewatkan kesempatan saat putranya membuka mata pertama kali setelah melewati masa sulitnya.
Nada baru teringat sesuatu, tak ada sosok bayi mungilnya disini. Bukankah tadi bersama Ayahnya?
"Zaskia mana?"tanya Nada panik.
"Dia sama Ibu," jawab Andra menatap lekat Nada.
Dia tau apa yang ada di pikiran Nada saat ini. Terakhir istrinya tak memperbolehkan bayinya bersama neneknya, karena kelalaiannya.
Bila biasanya Andra akan menurut, tapi tidak kali ini. DIa tidak bisa membawa Zaskia ke rumah sakit, apapun alasannya. Rumah sakit bukanlah tempat yang baik bagi bayi, harusnya nada tau hal ini bukan?
Nada menghela nafas panjang dan mulai beranjak n dari kursinya, Andra meraih tangan Nada, berusaha mencegah niatnya untuk pergi
"Bukankah kau mengerti kesehatan? Apakah menurutmu saat ini Zaskia aman berada disini?"
Nada terdiam, dia tau hal yang akan dia lakukan cukup egois, tapi membiarkan bayi kecil mungil itu sendiri di rumah bersama nenek yang sama sekali tidak mengharapkannya malah akan membuat perasaan Nada tertekan.
"Aku tau kau sangat khawatir, maafkan aku yang lalai menjaga anak kita," ucap Andra.
Nada masih enggan menjawab, dia memutar tubuhnya dan kembali menggenggam tanga Alif. Di hatinya selalu memanjatkan do'a agar putranya segera terbangun dari tidurnya.
Melihat mood Nada yang kurang baik, membuat Andra keluar untuk mencari udara segar. Dia yakin kalau di berada disini terlalu lama, pasti akan ada pertengkaran yang terjadi.
Andra melangkah keluar ruang rawat Alif, pandangannya menyusuri lorong rumah sakit yang di penuhi orang istirahat di setiap kursi di pinggir lorong.
Tampak wajah lelah dan gelisah, telinganya banyak mendengar rintihan orang kesakitan. Ada satu pemandangan yang membuat dia terpaku.
Ada seorang wanita yang di dorong dengar kursi rodanya, di belakangnya ada seorang pria yang amat tampan. Bila di bandingkan penampilan mereka kurang sepadan, karena wanita tersebut memiliki paras yang kurang menarik.
Pria tersebut memberi perhatian lebih dengan wanita tersebut, tampak tatapan penuh cinta dari sorot mata pria itu.
Andai saja Nada dan dirinya bisa berbaikan seperti orang yang ada di hadapannya, dan dia tidak terbelenggu dengan janjinya kepada Kinan. Pasti rumah tangganya tidak akan sehancur ini.
Dia teringat saat beberapa waktu lalu menemui Kinan, padahal dia sudah menjelaskan banyak hal kepadanya. Sayangnya dia tetap bersi kukuh menunggu pintu hatinya terbuka.
Dasar keras kepala, bila bisa. Dia pasti dia meninggalkan Kinan. Masalahnya tetap sama, pada ekonomi yang pasang surut.
Jangankan terbuka, bahkan hati dan jiwanya hanya untuk Nada. Entah mengapa Nada tak pernah merasakan cintanya? Dia selalu merasa di abaikan.
Dia tau, dia tidak cukup mampu untuk mencukupi kebutuhan. Setidaknya dia sudah berusaha bertanggung jawab dan tatap menjaga hatinya untuk Nada.
Semakin Andra memikirkan masalah ini, kepalanya mendadak pening. Memang benar wanita adalah makhluk yang sangat sulit di tebak.
Langkahnya terhenti di sebuah kantin rumah sakit, matanya melebar melihat seseorang yang ada di hadapannya.