Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Melawan



Nada berdiri tepat di hadapan Kinan, matanya menyusuri setiap inci tubuh Kinan. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Cantik, kamu sangat cantik. Sayangnya, kenapa kamu lebih suka barang bekas? Harusnya kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini!'' ucap Nada tegas.


Dia melempar pandangan ke Andra, tampak wajah cemas dan gelisah terpancar jelas di paras tampannya.


Nada melangkah melewati Kinan begitu saja dan berhenti di belakangnya, tepat di antara Andra dan Kinan.


"Aku kira, dengan sabarku selama ini kau akan lebih peka Mas. Tapi kenyataannya, enggak." Nada tersenyum kecut.


"Semua tidak seperti yang kamu kira Nad," ucap Kinan memutar badannya.


"Memang apa yang aku pikirkan?" tanya Nada menatap Kinan.


Menatap mata Nada yang penuh amarah, membuat Kinan menghentikan ucapannya. Baru kali ini dia melihat Nada dengan penuh ketenangan, tapi tatapannya cukup tajam.


Nada menyilangkan tangannya ke dada, dia menatap Faisal. Sekaan tau apa yang di maksud Nada. Faisal segera pergi.


Melihat kepergian Faisal yang membawa putrinya, membuat Andra tersulut emosi. Dia hendak melangkah mengejar Faisal.


"Berhenti!" cegah Nada dingin.


Andra menghentikan langkahnya dan menatap Nada, tangannya mengepal menahan amarah yang berkobar.


"Ada hubungan apa kamu sama Faisal?" tanya Andra, menahan amarah.


"Sama seperti kamu dan Kinan, kita berteman dekat. Bahkan sangat dekat!" ucap Nada menekan kalimat akhir dan memicingkan matanya ke arah Andra.


"Kamu mau balas dendam sama aku, kamu mau selingkuh sama dia?!" ucap Andra yang sudah tersulut emosi.


Mendengar ucapan Andra membuat tawa Nada pecah sudah, memang benar. Saat orang marah dan panik, mereka tak akan bisa berkata bohong.


"Selingkuh?" Nada mengulang pertanyaan Andra.


Andra yang sadar akan ucapannya, semakin emosi. Dia tidak tau istri yang dia anggap lembut dan penurut. Bisa bertingkah seperti ini.


Nada melangkah mendekati Andra yang masih mematung, mata Nada merah padam. Memancarkan amarah membara.


Plak!


Entah Nada dapat kekuatan dari mana, dia bisa melambungkan tangannya ke Andra. Hingga pria itu tersungkur di lantai.


Tampak cap merah tangan Nada menempel di pipi Andra. Melihat hal itu, Kinan segera berlarian membantunya untuk bangkit.


"Kurang ajar ya kamu!" ucap Laras dari kejauhan.


Dia melangkah mendekati Nada dengan mata yang melotot, seolah dirinya ingin memakan Nada saat ini juga.


Laras melambungkan tangan, hendak mendaratkan tamparan itu ke pipi mulus Nada. Sayangnya, Nada mulai sadar dengan posisinya saat ini.


Bila dulu dia hanya menerima semua penindasan ini dengan senang hati dan lapang dada, tapi tidak untuk saat ini.


Mulai hari ini, dirinya tidak akan berperan lagi menjadi ibu peri bagi keluarganya.


"Ibu mau nampar aku, gara-gara pelacur ini!" ucap Nada mencengkram tangan Laras dengan erat.


"Argh ..." rintih Laras.


Nada hanya terdiam, cengkeramannya semakin erat saat Laras menjerit. Hal itu seperti lantunan lagu indah terdengar di telinga Nada.


"Nad, kamu jangan gila. Itu mertua kamu!" ucap Kinan.


Nada segera melepas tangan Laras dan mendorongnya, hingga terjatuh di samping Andra. Dia melempar pandangannya ke arah Kinan.


Sebenarnya dia sangat ingin, mencabik-cabik mulut Kinan.


"Kau bilang aku gila?" kekeh Nada.


"Ya, aku memang gila. Karena aku berkumpul bersama orang-orang gila, Ibu mertua yang tidak suka rumah tangga anaknya bahagia. Bahkan nekat menjodohkan anaknya saat dia belum cerai." Ucap Nada menatap lekat Laras.


"Suami yang selalu banyak sekali drama, dan tidak pernah peka terhadap istri. Yang paling membuatku terkejut adalah, dia bisa teledor menjaga putranya gara-gara pelacur." ucap Nada melangkah dan menghempaskan tubuh lelahnya di kursi tunggu.


"Dan satu lagi, orang gila yang tidak tau malu. Yang selalu berusaha meraih apa yang seharusnya tidak dia raih," ucap Nada menatap sinis Kinan.


Mendengar itu Andra segera bangkit dan melangkah mendekati Kinan, dia menghadang langkah Nada yang hendak menyerang Kinan.


Hati Nada semakin sakit, hancur tak berbentuk. Melihat lelakinya malah lebih mementingkan orang lain.


Pintu UGD terbuka ...


"Keluarga pasien atas nama Alif"


BERSAMBUNG....