Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Bab > 44



Andra dan perawat yang mengantarnya terkejut dengan seorang yang membentak mereka, Andra berbalik badan.


"Saya hanya ingin melihat kondisi anak saya," ucap Andra sopan.


Perawat tersebut hanya menatap Andra dengan tatapan sengit, seolah ingin melemparnya keluar dari ruangan ini sekarang juga.


"Izinkan saya sebentar saja disini," pinta Andra memelas.


"Maaf, apa Anda tidak lihat di depan ada papan peraturan? Di sana sudah tertulis jelas kalau keluarga di larang masuk kan," ucap Perawat tersebut dengan intonasi tinggi.


"Saya hanya ingin melihat Putra saya," Ucap Andra tidak kalah sengit.


"Sekarang sudah kan? jadi Bapak bisa pergi," ucap Perawat tersebut.


Dengan berat hati Andra melangkah keluar kamar Alif, sesekali dia menoleh kebelakang. Berharap suatu keajaiban, Putranya akan membuka mata dan menatapnya saat ini.


Langkah demi langkah, akhirnya Andra menghilang di balik tembok. DI saat yang bersamaan jari mungil Alif perlahan bergerak tanpa di ketahui seorang pun.


Andra duduk di lantai rumah sakit, dia memijat keningnya. Kepalnya seakan di timpa batu besar yang membuatnya sakit kepala berkepanjangan.


"Sabar Mas, perawat disini memang begitu. Nanti setelah ganti shift, perawatnya baik-baik kok." ucap Salah satu orang yang duduk di karpet.


Andra hanya melempar senyum, dia menganggukkan kepalanya lirih. Semoga saja yang di katakan orang itu benar, Nada pasti sangat senang mendengarnya.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nada kalau sampai dirinya tidak bisa melihat Alif walau hanya sekilas.


"Siapa Pak yang sakit?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Anak saya Pak, dia habis kecelakaan." jawab Andra singkat.


"Semoga cepat sembuh ya ... Umur berapa?" ucap Pria paruh baya tersebut dengan tatapan penuh perhatian.


"6 tahun Pak," jawab Andra singkat, dia sedikit terganggu dengan pertanyaan pria tersebut. Kepalanya sedang tidak baik-baik saja, sangat sulit baginya untuk menerapkan mode ramah.


Mungkin pria paruh baya itu tau kalau Andra terganggu, jadi dia tidak melanjutkan obrolannya. Dia bersandar di tembok sambil memainkan jarinya pada benda pipih di hadapannya.


Tak lama kemudian datanglah seorang ibu-ibu paruh baya yang duduk di samping pria tersebut, dia membawa beberapa kantong pelastik dan ada beberapa nasi bungkus di dalamnya.


"Mari sarapan bareng Mas," ucap Wanita itu ramah.


Andra menggelengkan kepalanya lirih, perutnya memang lapar. tapi dia entah mengapa lidah dan mulut nya enggan untuk memasukkan sesuap nasi.


"Eh, nggak boleh di tolak. Monggo," ucap Wanita tersebut sambil menyodorkan sebungkus nasi pada Andra.


Andra terpaksa menerimanya, dan duduk bergaulnya dengan pria dan wanita tersebut. Pada akhirnya mereka pun sarapan bersama.


Sesekali mereka mengobrol ringan, dimana mereka tinggal, siapa yang sakit, sampai jenis penyakitnya. Hingga sampai saat Bapak tersebut menceritakan kisahnya.


Dia pernah kehilangan seorang anak, dia meninggal karena penyakit kanker di rahimnya. Segala cara telah dia tempuh, banyak perjuangan yang dia lakukan hanya untuk berusaha agar jantung anaknya tetap berdetak.


Hingga di suatu ketika, Bapak tersebut bermimpi di temui anaknya tersebut. Dia mengatakan kalau dia sudah lelah dan ingin beristirahat.


Sejak saat itu, tak ada kemajuan pada anaknya. Dia hidup hanya dengan bantuan alat medis, kemudian bapak itu sadar kalau yang dia lakukan selama ini hanyalah menyiksa anaknya.


Raganya di paksa untuk tetap tinggal, sedangkan nyawanya sudah terbang dan masih melayang tanpa arah. Dan pada akhirnya, pihak keluarga menyetujui untuk pelepasan alat medis yang terpasang di tubuh anak tersebut.


Dan keesokan harinya, anak mereka menghembuskan nafas terakhir. Karena memang kondisinya yang menurun drastis.


"Bapak mendoakan kesembuhan putra Mas, tapi saya hanya berpesan. Jangan mempertahankan yang memang harus di lepas, itu malah akan menyiksa kedua belah pihak." ucap Bapak tersebut dengan lembut.


Seolah dia sedang menasehati anaknya sendiri, Andra menganggukkan kepala lirih dan berpamitan. Dia melewati sebuah mushalla rumah sakit.


Entah mengapa hatinya terketuk untuk masuk ke dalam dan melaksanakan shalat Dhuha.


Di sisi yang lain, ada Nada yang sedang sibuk menyuapi Zaskia. Karena tangannya yang terpasang jarum suntik membuatnya merasa terganggu.


Berulang kali darah Zaskia masuk ke selang infus, dan berulang kali pula dia menjerit karena Nada membenarkan selang infus yang tersumbat darah.


Setelah menyelesaikan drama anak sarapan di sertai tangisan, akhirnya Zaskia tertidur karena reaksi obat. Badan mungilnya tertidur pulas, entah sudah berapa lama Nada meninggalkan putri mungilnya ini.


Dia merasa tubuh Zaskia semakin kurus, rambut hitamnya kusut dan berminyak seolah tidak pernah keramas.


"Maafin Bunda ya, setelah Kak Alif sembuh. Bunda pasti akan merawatnya dengan baik Nak," ucap Nada dan membelai rambut kusut Zaskia.


"Gimana? udah baikan belom?" tanya Laras, teman gesrek Nada dulu.


Nada terperanjat karena suara keras Laras, temannya memang memiliki suara yang lantang. Tanpa teriak pun, seluruh rumah sakit sudah mampu mendengar suaranya.


"Udah, tinggal nunggu nafsu makannya aja. Mungkin besok bisa di bawa pulang." jawab Nada dengan senyuman terpaksa.


Laras mengelus rambut kusut Zaskia, dia menatap lekat anak kecil yang sedang tertidur lelap tersebut.


"Andra dimana?" tanya Laras Kemabli.


"Nggak tau, nggak peduli juga." jawab Nada asal, entah mengapa rasanya sudah mati untuk suaminya tersebut.


Padahal, dulu Nada sangat mencintainya. Bahkan mampu menolak orang mapan seperti Satria dan sebaik Faisal, hanya demi pria yang penuh misteri seperti Andra.


"Sabar ya Nad, rumah tangga emang ada pasang surutnya." ucap Laras sambil menyenggol tubuh lemas Nada.


"Gue beliin somay ya?" tanya Laras dengan mata berbinar.


Nada tersenyum kecil, matanya berkaca melihat tingkah temannya itu. Mereka sudah lama tidak bersama karena kesibukan masing-masing, ternyata perhatiannya masih sama seperti dulu.


"Kebiasaan banget sih, di tanya apa. Jawabannya apa." keluh Laras sambil mengacak rambut Nada.


"Makasih ya Ras," ucap Nada memeluk Laras erat.


"Ingat semboyan kita, hidup untuk makan dan makan untuk hidup. Nggak ada yang namanya galau, karena kita ..." lanjut Laras dengan semangat.


"Wonder woman," sahut Nada dan Laras bersamaan. Dan untuk pertama kalinya Nada bisa tersenyum riang setelah sekian lamanya.


"Yaudah, nanti jam makan siang gue sama anak-anak kesini lagi. Kita makan sama-sama, udah gue mau absen dulu." ucap Laras memeluk erat Nada sesaat dan melangkah pergi.


Bangsal khusu ibu melahirkan cukup ramai, sehingga Laras tidak bisa terlalu lama meninggalkan tugasnya. Nada tersenyum kecil melihat punggung Laras yang melangkah menjauh.


Dia tak tak pernah menyesali keputusannya untuk mengurus keluarga kecilnya dan meninggalkan pekerjaannya.


Yang dia sesalkan hanya, ketidak mampuannya untuk melawan orang yang selama ini dzalim kepada nya. Dan sampai harus menyeret kedua anaknya dalam masalah ini.