
"Namanya orang kan bisa berubah," ucap Ibu Faisal yang tak mau kalah.
"Udah, ibu ketularan seperti Bu Laras tuh, gosip sana-sini. Faisal laper tolong masakin, mau mandi dulu," ucap Faisal yang melangkah menuju kamar mandi.
Terdengar ibunya masih ngedumel di belakang Faisal, sepertinya Laras memang pintar berakting. Yang penyiksa yang seolah teraniaya.
Di rumah yang berbeda, Laras sudah kembali dari acara tausiyahnya. Dan segera di sambut oleh Andra yang sudah menunggunya di sofa.
Terlihat marah Andra yang udah sampai di ubun-ubun, sayangnya apa yang di lakukan Laras? Dia bertingkah seolah tak ada Andra di sana. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Melihat kelakuan ibunya membuat Andra semakin murka, dia beranjak dari kursinya dan menghadang langkah Laras.
"Apa sih untungnya ibu ngomong gitu ke orang-orang?" ucap Andra dengan suara melengking.
"Apa untungnya? Kann Nada memang begitu orangnya," jawab Laras enteng.
"Ibu ..." ucapan Andra terhenti ketika mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka.
Nada keluar dari kamarnya, kemudian melangkah ke kamar mandi. Meskipun dia tau apa tema yang di bahas oleh Andra, tetapi dia enggan untuk ambil suara.
Semuanya percuma, Andra akan terdiam dan menutup matanya. Seolah ibunya tak melakukan hal apapun dan yang lebih menjengkelkan adalah, Nada tetap di suruh bersabar dan bersabar menghadapi ini semua.
Menerima semua fitnah yang di sebar, Omelan yang membuat panas gendang telinga dan yang terbaru adalah, mencoba terbiasa melihat suaminya akan sering keluar rumah makan hati dan kembali di pagi buta. Hanya untuk menemani wanitanya itu.
Melihat Nada yang berlalu begitu saja, membuat Laras mengambil kesempatan dan segera masuk ke dalam kamar. Dia tak mau kelemahannya di ketahui oleh Nada, dia cukup malu bila Nada tau kalau Andra memarahinya.
Jam menunjukan pukul 10 pagi, Andra segera melajukan motornya ke sekolah Alif. Dia mau menjemputnya lebih awal. Karena hari ini adalah hari Jumat, dia mau mengajak Alif sekedar bermain dan Shalat Jumat bersama.
Setibanya di sekolah, Bu guru segera menghampiri Andra yang baru saja datang. Dia sedikit kebingungan karena Bu guru mengajaknya ke kantor kepala sekolah.
Semoga saja ini tidak soal biaya, batin Andra yang terus menerka-nerka. Setibanya di kantor, ada bu guru yang lain telah menantinya.
Andra duduk di kursi, tepat di hadapan kepala sekolah. Dia seorang wanita senja yang berbalut dengan seragam PNS nya.
"Iya Bu, maaf ada apa ya?" tanya Andra.
"Maaf Pak, Alif ...."
"Iya, dia sering masukin air yang entah apa itu, ke kopi anak saya. Sebab itu anak saya seperti tadi," ucap Laras.
"Bubar!" ucap seorang yang sudah panas mendengar Nada di fitnah seperti itu.
"Faisal, kamu ngapain sih?" ucap Ibu Faisal yang ikutan nimbrung.
"Faisal laper, ayo Bu pulang," ucap Faisal yang segera meraih tanga ibunya untuk segera beranjak dari teras tetangganya.
Sebenarnya Faisal tau, bagaimana kondisi rumah tangga Nada dan Andra. Sungguh dirinya tak tega melihat Nada selalu di fitnah dengan tetangganya.
Pernah suatu ketika Faisal menawarkan tabungannya untuk Nada, agar dia bisa menyewa rumah yang lebih baik.
Dia tak tega melihat Nada yang selalu sabar selama ini, bukankah setiap orang memiliki batas kesabaran. Tapi entah mengapa Nada tetap terus bersabar, seolah sabarnya tiada batas.
Terlebih saat Nada opname di rumah sakit, semua teman-teman sampai menyuruh Nada untuk kembali bekerja saja. Setidaknya kan dia bisa sedikit lebih di hargai.
Bukankah ibunya mertuanya juga tak ada kesibukan lain? Dari pada dia sebar fitnah kesana-kemari. akan lebih baik jika dia merawat cucunya, toh juga raganya masih sehat.
Faisal sampai di rumahnya yang tak jauh dari rumah Nada, sekitar 500 meter. dia masuk di sertai Ibunya yang melangkah di belakang.
"Untung lo kamu nggak jadi sama Nada, astaghfirullah. Ternyata orangnya seperti itu," ucap Ibu Faisal.
"Cukup Bu, ibu kan pernah ketemu Nada. Coba ibu pikir baik-baik, apa gadis sebaik Nada bisa melakukan hal seperti itu?" tanya Faisal menatap lekat ke arah ibunya.
BERSAMBUNG.....