Let the Heart Choose

Let the Heart Choose
Bab > 45



Andra melangkahkan kaki masuk ke ruangan Zaskia, tampak Nada yang masih duduk dan menatap lekat putrinya yang tertidur pulas.


"Sarapan Yuk," ajak Andra.


Nada memutar kepalanya dan menatap Andra sekilas, dia tersenyum kecil dan mengangguk lirih. Melihat reaksi Nada, bagaikan mimpi baginya.


Dengan semangat Andra melangkah mendekati Nada dan segera menarik sebuah papan yang terselip di nakas Zaskia.


Dia membuka nasi bungkus yang dia pesan di kantin beberapa waktu lalu, Andra segera menyendok nasi dan menyiapkannya ke mulut Nada.


"Aku bisa sendiri," ucap Nada meraih sendok di jemari Andra.


"Tapi aku pengen nyuapin kamu," rengek Andra sudah seperti anak kecil.


Nada menghela nafas panjang dan mencoba menurut apa kata Andra, dia tidak mau ada keributan lagi setelah sekian lama pertengkaran dengan suaminya tak kunjung ada titik temu.


Dengan lembut Andra menyendok nasi sesuap demi sesuap ke mulut Nada, hingga akhirnya seporsi nasi bungkus telah berpindah ke perut Nada.


"Bagaimana keadaan Alif?" tanya Nada dengan tatapan penuh harap.


"Masih sama, tapi jantungnya sudah normal. Sama seperti yang di katakan Dokter Satria," jawab Andra membuang muka.


Entah mengapa mendengar nama Satria yang terucap dari mulutnya, membuat hatinya teriris perih.


Nada hanya tersenyum kecil, alisnya berkerut mendengar jawaban dari suaminya. Karena dia tau persis bagaimana peraturan ruang HCU di rumah sakit tersebut.


Apa mungkin?


"Aku menerobos masuk, tapi harus keluar gara-gara suster galak. Huh, aku do'ain buat nggak punya jodoh tuh suster, jutek banget." keluh Andra dengan mulut manyun.


Nada menggeleng kepalanya lirih, terdengar tawa yang pecah dari mulut tipisnya. Sepertinya mood Nada sudah membaik saat ini.


Semoga saja terus begini ...


Sesaat kemudian hanya keheningan, tak ada obrolan lagi karena Andra sudah kehabisan tema candaan. Sedangkan Nada masih setia menatap wajah suaminya yang terlihat amat lelah.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, beberapa hari ini Nada tidak melihat suaminya bekerja.


"Mas nggak kerja?" tanya Nada lembut.


Mendengar Nada bertanya tentang nya, hati Andra bagai di tumbuhi banyak bunga yang bermekaran. Setelah sekian lama istrinya membisu, untuk pertama kalinya dia di perhatikan.


"Kamu nggak pa-pa di tinggal sendiri?" tanya Andra tidak yakin.


Nada hanya mengangguk lirih, keperluan rumah sakit cukup banyak. Entah dari mana Andra mendapatkan uang sebanyak itu, yang jelas dia cukup bersyukur karena kedua anaknya bisa di rawat dengan baik di rumah sakit selama ini.


Nada baru menyadarinya setelah rasa kalutnya berangsur hilang beberapa waktu yang lalu, ada benarnya kata orang. Kalau kita tidak boleh menyimpan banyak kepedihan terlalu lama, karena hal tersebut akan menghancurkan kita secara perlahan.


"Mas dapat uang untuk pengobatan anak-anak dari mana?" tanya Nada penasaran.


"Dari teman Mas, tapi yang jelas itu bukan Kinan," jawab Andra dengan senyum teduh ciri khasnya.


Andra meraih jemari Nada dan mengecupnya lembut, dia menatap mata istrinya dengan tatapan penuh ketulusan.


"Maafkan aku, karena aku tidak pernah memberi perhatian lebih kepadamu. Aku janji akan berubah dan tidak akan mengulanginya lagi, Jika Kinan adalah masalah terbesar di keluarga kita. Maka, Mas akan melepaskan semua tanggung jawab ini." ucap Andra penuh keyakinan.


"Aku sudah melupakan semuanya, ada atau tidak ada Kinan di antara kita sudah tidak penting lagi. Yang terpenting hanya anak-anak," ucap Nada menatap lekat mata suaminya.


Mendengar jawaban Nada membuat kebahagiaan Andra runtuh tiba-tiba, dia kira Istrinya akan memaafkannya dan memberi kesempatan untuknya.


Dan pada akhirnya, rumah tangganya sudah hancur dan tak dapat di satukan. Jawaban Nada seolah meyakinkan kalau saat ini dia sudah mengikhlaskan Andra.


"Nad, maksud kamu?" tanya Andra mencengkram erat jemari Nada.


Nada menarik tangannya dan menghela nafas panjang. Hatinya teriris perih, namun air matanya sudah tak mampu lagi untuk keluar.


"Aku sudah tidak mau cemburu lagi, atau bahkan menuntut Mas selalu ada di sampingku. Mas bisa melakukan hal yang Mas suka, yang perlu mas perhatikan hanyalah anak-anak. Selain itu semua terserah Mas." jawab Nada tanpa beban.


Sikap Nada bagai arus deras sungai, yang terlihat tenang tapi membahayakan orang yang berada di sekitarnya.


"Aku tidak mau membuang-buang tenaga untuk masalah yang tidak penting lagi. Aku terlanjur masuk ke dalam jurang ini, sangat sulit bagiku untuk keluar. Alasanku bertahan hanya demi anak-anak, bila mereka sudah bisa menerima perpisahan kita. Maka aku akan dengan senang hati melepas Mas," ucap Nada tegas, dan kali ini tanpa setetes air mata pun yang jatuh membasahi pipinya.


Semua seperti mimpi baginya, sikap Nada seolah dirinya sudah siap hidup sendiri tanpa adanya Andra di sampingnya.


Hanya anak-anak? Lalu apa arti kehadirannya pada hidup Nada. Apakah semuanya sudah benar-benar hancur?


"Aku akan membawa Zaskia pergi kerumah orang tuaku, sebelum Alif benar-benar pulih. Aku tidak akan mengambil Zaskia." ucap Nada tegas.


"Tidak, aku tidak menyetujuinya!" bantah Andra.


"Kalau begitu cari cara agar Zaskia bisa me dapatkan pengasuh terbaik dan yang pastinya dengan biaya yang ringan," Nada kembali bersuara dengan intonasi tegas dan tenang.


Yang berada di hadapannya Andra saat ini seperti bukan wanita yang dia kenal dulu, wanita lembut, manja dan sering menangis. Wanita selalu mengharapkan kehadiran nya setiap saat.


Semua terasa berbeda, Andra berdiri dan melangkah menjauh. Dia tidak bisa terima dengan sikap Nada yang dingin seperti ini.


Andra melangkah pergi, tak lama kemudian dia kembali untuk mengecek istrinya. Dan apa yang dia lihat? Wajah datar dan hambar, tak ada air mata yang menetes.


"Sudah dapat pengasuhnya?" tanya Nada tanpa dosa.


Andra baru pergi 10 menit yang lalu, tapi Nada sudah menanyakan pengasuh?


"Nad, kamu kenapa sih?" tanya Andra kembali duduk di sisi ranjang Zaskia.


"Kecilkan suaramu, aku tidak ingin Zaskia terbangun. Seharian dia sangat rewel." jawab Nada seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kau tidak jadi berangkat ngojek?" tanya Nada dengan tatapan datar.


Andra masih diam membisu, dia berusaha menerima perubahan Nada yang 180° jauh dari yang dia kenal sebelumnya.


"Kalau kau keberatan bekerja, aku akan ikut bekerja. Jangan khawatir, aku tidak akan menjadi beban hidupmu dan keluargamu lagi." ucap Nada tersenyum teduh.


Ekspresi apa ini? kenapa kamu berubah seperti ini Nad?


"Hallo Nad, ini siomay nya. Yuk makan bareng." Laras datang membuat pintu kamar.


"Ups Maaf."