
Selamat membaca ...
“Aku akan mengambil cuti selama dua minggu,” jawab Alfa dengan santai, membuat sekertaris Sam heran dengan sang tuan muda, kenapa harus lama mengambil cuti saat menikah, maklum saja, sekertaris jomblo tidak mengerti tentang cinta.
“Baik tuan muda, saya akan mengatur segalanya untuk tuan muda,” akhirnya tetap mengatakan persetujuan karena tatapan maut dari Alfa.
“Apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan kemarin?” tanya Alfa penuh selidik.
“Tentu saja sudah, tuan muda,” jawab sekertaris Sam jujur.
“Untuk sementara aku cuti, kau urus perusahaan ini, aku akan bekerja dari rumah, kau harus mengirimkan email secara berkala jika ada pekerjaan mendesak,” ucap Alfa panjang lebar kali tinggi kali sisi.
“Baik, tuan muda,” ucap sekertaris Sam dengan patuh.
Di sisi belahan bumi lainnya, tampak dua orang wanita yang sangat kelelahan karena baru saja menyelesaikan pemotretan, siapa lagi jika bukan Diva dan Mira.
“Diva, kamu tidak menjelaskan apapun padaku, apa kau sudah tidak menganggap diriku sebagai sahabatmu?” tanya Mira dengan kesal.
“Tidak ada yang perlu di jelasin, aku sama pria gila itu tidak saling mencintai, sampai kapanpun aku tidak mau menikah dengannya,” jawab Diva dengan malas.
“Apa kau sudah gila?! Tuan Alfa itu pengusaha tampan di negara ini, apalagi nih ya, dia itu di nobatkan perngusaha termuda dan terkaya di negara ini, apa kau sudah buta hah?!” tanya Mira kesal yang tak habis pikir dengan sahabatnya tersebut.
“Itu karena kau tidak tahu sifat dia yang sebenarnya, pria kurang ajar itu sudah mempengaruhi kedua orang tuaku, hingga mereka selalu menyetujui dan mempercayai pria itu,” jawab Diva yang semakin kesal jika mengingat wajah Alfa yang tersenyum penuh kemenangan ke arah dirinya.
“Lagi pula siapa yang berani menyinggung perasaan pria tampan itu, aku dengar dia sangat kejam terhadap lawannya, tapi dia sangat tampan dan mempesona, siapa sangka jika pria itu adalah seseorang yang sangat kejam,” ucap Mira panjang lebar.
Tanpa mereka sadari, jika pria yang mereka bicarakan sudah ada di sana memperhatikan kedua wanita tersebut, apalagi sedang membicarakan dirinya dari belakang.
“Apa kalian sudah puas?” suara bariton milik pria yang tak asing bagi Diva.
Glekkk!
Diva dan Mira menelan salivanya kasar dan saling melirik satu sama lain, pada akhirnya melihat ke belakang, terpampang jelas seorang pria yang tampan yang tidak bisa di singgung hatinya kini ada di depan mata.
“Tuan, maafkan kami, kami tidak bermaksud berbicara seperti itu,” ucap Mira dengan takut sambil menundukkan kepalanya, tak berani menatap pria tampan tersebut.
Namun, Alfa hanya mengabaikan dan melewati dirinya, pria itu malah melangkahkan kakinya menuju wanita cantik yang dari tadi hanya diam saja tanpa mau melihatnya, tentu saja itu membuat seorang Alfa Edison Sagala tak terima.
“Aku merindukan dirimu, sayang,” bisik Alfa membungkuk tepat di telinga Diva.
“Mau apa kau kemari?” tanya Diva tanpa basa basi.
“Aku hanya ingin mengajakmu makan siang istriku, apa itu salah?” tanya Alfa dengan penuh percaya diri.
“Cukup! Aku bukan istrimu, dan tidak akan pernah menjadi istrimu!” ucap Diva geram dengan pria yang asal mengklaim dirinya sebagai istri.
“Apa kau teman sekaligus sekertaris Diva?” tanya Alfa pada Mira dan tak menghiraukan ucapan Diva sedikitpun.
“Benar, tuan,” jawab Mira singkat.
“Ma-maksud tuan?” tanya Mira meyakinkan.
“Sesuai perjanjian Diva dengan orang tuanya, jika dia menikah, maka dunia model akan dia tinggalkan, apa alasan itu cukup?” tanya Alfa menatap Mira dengan tajam.
“Cu-cukup tuan,” jawab Mira terbata.
“Apa kau sudah gila?! Siapa yang mau menikah denganmu, kau harus tahu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!” bentak Diva penuh emosi.
“Ayo kita bicarakan ini di tempat lain,” ucap Alfa sambil menarik tangan Diva untuk mengikutinya, dengan langkah kaki Alfa yang panjang, membuat Diva jalan sambil terseok-seok.
Setelah kepergian Diva dan Alfa, Mira hanya mematung di tempat, ia shok melihat pria tampan itu dengan mata kepalanya sendiri, biasanya pria itu hanya muncul di dalam majalah bisnis internasional saja, namun kali ini ia sangat beruntung melihat secara langsung.
Tapi tunggu, sekarang bukan waktunya untuk mengagumi pria tampan itu, melainkan nasib sahabatnya yang di bawa paksa oleh pria tampan bak dewa yunani tersebut.
...----------------...
Kini, Alfa dan Diva sudah berada di dalam mobil mewah milik Alfa, Diva yang merasa muak dengan pria yang ada di sebelahnya kini hanya membuang muka ke arah jendela mobil.
“Sayang, kita mau makan di mana?” tanya Alfa dengan lembut, tanpa mau melihat Diva yang sedang kesal padanya.
“Apa mau kamu sebenarnya?” tanya Diva pada Alfa dengan tatapan tajamnya dan tak menghiraukan pertanyaan Alfa sebelumnya.
“Aku hanya ingin menikah dengan mu,” jawab Alfa dengan santai, membuat Diva semakin muak dengan pria yang sangat egois itu.
“Aku sudah bilang, aku tidak ingin menikah dengan mu, aku tidak mencintaimu sama sekali!” ucap Diva geram, membuat Alfa malah tersenyum di buatnya.
“Tapi aku sangat mencintaimu, aku tidak peduli bagaimana perasaanmu untukku, karena aku sangat yakin jika kau akan aku luluhkan,” ucap Alfa dengan sangat percaya diri, sambil tersenyum, yang mana senyuman itu membuat Diva sangat ingin mencekik pria itu.
“Lepaskan aku, kau bukan mencintaiku, tapi kau hanya terobsesi padaku,” ucap Diva sambil menatap tajam ke arah Alfa.
“Kau tidak bisa menilai hatiku, aku mencintai seseorang dengan caraku sendiri, dan kau tidak berhak menilai perasaanku, karena jika kau berani menolak diriku, aku akan menghancurkan perusahaan ayahmu dalam semalam saja, lalu apalagi yang kau punya, kau juga sudah bukan seorang model lagi, bersiaplah besok aku akan melamar mu,” ancam Alfa sambil menatap tajam ke arah Diva, membuat nyali wanita cantik itu menciut, mau tidak mau ia harus menyerah.
“Apa ini semacam kontrak?” tanya Diva yang mulai melembutkan suaranya, membuat Alfa tersenyum penuh kemenangan.
“Apa kau pikir aku mau main-main dengan sebuah hubungan, tentu saja tidak ada kontrak atau perjanjian apapun itu, karena kau akan tetap menjadi milikku,” jawab Alfa dengan tegas, membuat Diva semakin tak berkutik, namun ia harus bisa terlepas dari pria itu.
“Baiklah, tapi aku ingin kau jangan menyentuhku sebelum aku siap,” ucap Diva yang hanya bisa meminta hal tersebut.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.