
Selamat membaca ...
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alfa sambil terbata, bahkan tubuhnya sudah lemas dan terasa berat.
“Aku baik-baik saja, kenapa kau melakukan ini, kenapa, apa kau ingin membuat diriku terus merasa bersalah hah, aku mohon kau harus baik-baik saja, bertahanlah,” teriak Diva sambil menepuk pipi Alfa agar pria itu tetap sadar.
Sedangkan Alex, pria itu sudah melarikan diri, mengetahui hal itu, Diva semakin menangis histeris, dia tidak akan pernah membiarkan suaminya terluka parah. Dengan segera ia menghubungi Ambulan.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, kini Diva sudah ada di rumah sakit harapan yang paling dekat dari tempat kejadian.
Wanita cantik itu terus menangis dan menyesali perbuatannya, tak berselang lama datang seorang pria yang selalu dekat dengan suaminya tersebut.
“Nona muda, apa tuan muda sudah baik-baik saja?” tanya sekertaris Sam datang dengan tergesa-gesa.
“Aku tidak tahu Sam, Dokter sedang menanganinya di dalam, semua ini salahku, kalau dia tidak menyelamatkan aku, maka dia tidak akan mengalami hal menyakitkan seperti ini,” ucap Diva sambil terisak, dan merutuki kebodohannya.
“Nona muda, anda jangan menyalahkan diri anda sendiri, apa nona sudah memberi tahu nyonya besar?” ucap sekertaris Sam menenangkan.
“Belum, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada mamah, aku takut,” jawab Diva yang terus menangis tanpa henti.
“Sebaiknya nona tenang, dan berdoa saja agar tuan muda baik-baik saja, saya akan mengabari nyonya besar dan menjelaskannya,” ucap sekertaris Sam yang dijawab sebuah anggukan oleh Diva.
Tanpa menunggu lama, kini sekertaris Sam sudah menghubungi Fara agar datang ke rumah sakit.
Ceklekk!
Suara pintu terbuka dari kamar yang Alfa tempati, muncul seorang pria yang berjas putih dari balik pintu, melihat hal itu, Diva langsung menghampiri seorang dokter tersebut.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” tanya Diva sambil menyeka air matanya yang terus menaglir deras, matanya yang sudah memerah dan wajahnya sembab akibat menangis.
“Suami anda sudah baik-baik saja setelah menjalankan operasi, dua jam lagi, kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan,” jawab sang dokter.
“Apa saya sudah bisa menemui suami saya Dok?” tanya Diva kembali yang ingin mengetahui keadaan suaminya.
“Untuk saat ini, belum ada yang boleh menemui pasien, karena kondisinya yang masih lemah, kami akan memindahkan pasien dua jam lagi, sebaiknya anda menunggu dan berdoa saja untuk kebaikan suami anda, kalau begitu saya permisi,” jawab sang dokter dan langsung meninggalkan Diva yang tengah mematung di depan pintu ruang operasi sang suami.
...----------------...
Tak lama kemudian, datang dua orang wanita yang berbeda generasi yang tergesa-gesa menghampiri Diva.
“Diva, bagaimana keadaan putraku?” tanya Fara yang sudah terisak, begitu juga dengan Ana yang ada di samping Fara.
“Dokter mengatakan semuanya baik-baik saja,” jawab Diva sambil menundukan kepalanya tak berani menatap ibu mertua yang begitu baik selama ini.
“Apa yang kakak ipar katakan?! Kak Alfa sudah masuk ruang operasi tapi masih bisa bilang baik-baik saja!” bentak Ana yang marah saat orang yang ia sayangi terluka, apalagi Alfa adalah sosok kakak sekaligus sosok ayah baginya, yang selalu melindungi dirinya dan juga keluarganya.
“Nona Ana, sebaiknya anda menahan emosi anda, tuan muda baru saja selesai operasi dan butuh istirahat di dalam sana,” ucap sekertaris Sam agar adik dari tuan mudanya tidak melakukan tindakan yang lebih jauh, yang bisa saja membuat Diva merasa terpuruk.
“Diva, sebenarnya apa yang telah terjadi, cepat jelaskan pada mamah!” ucap Fara sambil memegang kedua bahu Diva, melihat hal itu, sekertaris Sam langsung angkat bicara.
“Maaf nyonya besar, semua ini adalah kecerobohan saya yang tidak bisa menjaga tuan muda,” ucap sekertaris Sam pada Fara.
“Apa kau sudah menangani pelakunya?” tanya Fara pada pria yang biasanya selalu siap siaga bersama putranya.
“Sudah, nyonya, saya sudah menangkapnya, namun ada yang perlu tuan muda lakukan untuk terakhir kalinya dengan pelakunya, tapi ada yang harus saya pastikan terlebih dahulu, saya permisi,” jawab sekertaris Sam yang bergegas pergi dari rumah sakit tersebut, bukan untuk memastikan, melainkan untuk menghabisi para baji*ngan yang sudah berani menyentuh tuan muda dan nona mudanya.
Karena ia sudah bersumpah untuk menjaga mereka dan akan melakukan apapun untuk itu.
setelah sekertaris Sam pergi, Alfa pun di pindahkan ke ruang perawatan. Diva yang terus saja menangis dan Fara yang tengah mondar mandir karena khawatir dengan putranya, tiba-tiba saja seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter, bagaimana keadaan putraku, apa aku sudah boleh menjenguknya?” tanya Fara pada sang dokter.
“Sebaiknya kalian menunggu sebentar lagi, saya permisi,” ucap sang dokter yang langsung di jawab sebuah anggukan oleh Fara.
“Tante, apa Alfa baik-baik saja?” tanya seorang wanita yang baru saja datang sambil berlari ke arah ruangan di mana Alfa berada.
“Aku mendengar kabar, kalau Alfa masuk ke rumah sakit,” jawab Dara dengan cepat.
“Apa semua ini karena kau?” tanya Dara sambil menatap Diva dengan tatapan mengintimidasi, membuat Diva mendongakkan kepalanya melihat ke arah sumber suara.
“Dara, apa maksudmu, apa kau mengetahui sesuatu?” tanya Fara pada wanita dengan tatapan penuh curiga.
“Tentu saja tante, awalnya aku mengira dia adalah wanita yang baik, tapi ternyata aku sudah salah, setelah Alfa menceritakan bahwa istrinya mempunyai kekasih di luar sana,” jawab Dara dengan tatapan tajam menatap Diva, membuat Fara dan Ana sangat terkejut dengan penuturan yang Dara ucapkan.
“Diva, apa yang di ucapkan Dara itu memang benar?” tanya Fara dengan datar tanpa melihat ke arah Diva sedikitpun.
“Mah, aku bisa jelaskan semuanya, aku-,” ucap Diva yang langsung di potong oleh Fara.
“Jawab saja, Diva!” bentak Fara dengan sangat emosi, ia begitu kecewa pada menantu yang sangat ia sayang selama ini.
“Benar mah,” jawab Diva sambil menundukan kepalanya tak berani menatap wajah ibu mertuanya lagi.
“Ternyata kakak ipar sangat jahat, kenapa kakak ipar melakukan ini pada kami, kakak ipar penipu!” teriak Ana yang langsung berlari ke lorong rumah sakit.
“Tante dengar sendiri, wanita ini masih belum puas dengan Alfa, apa yang sebenarnya kau cari, apa kau hanya mengincar harta suamimu jika kau sudah berhasil membunuh Alfa, Cih! Ternyata kau tidak lebih hanya seorang perempuan murahan,” maki Dara yang terus memanas manasi Fara agar terbujuk oleh tipuannya.
“Mah, Diva bisa jelaskan semuanya, tolong dengarkan Diva,” ucap Diva yang sudah berlutut di kaki Fara sambil menangis.
“Tante, jangan mudah percaya sama wanita yang sudah mencoba membunuh suaminya sendiri,” ucap Dara yang membuat Fara semakin tak bisa menahan dirinya dan segera mendorong Diva hingga tersungkur ke lantai.
“Diva, apa yang diucapkan Dara itu benar?” tanya Fara sambil menatap tajam ke arah Diva, tapi air matanya terus menetes, sungguh ini adalah pukulan terberat baginya.
“Mah, itu semua kebodohan ku, maafkan aku,” ucap Diva yang kembali meraih kaki Fara.
“Jadi semua itu memang benar?” tanya Fara yang hanya ingin memastikan, berharap semuanya adalah kebohongan. Namun semuanya berubah, karena Diva sama sekali tidak menjawab maupun membantah, yang membuat Fara semakin sakit.
“Pergi dari hadapanku sekarang juga,” ucap Fara dingin tanpa melihat ke arah Diva sedikitpun, membuat Diva tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, orang yang selalu mendukung dan menyayanginya sekarang begitu dingin dan membenci dirinya.
“Mah, tolong jangan usir aku, aku ingin bertemu suamiku,” ucap Diva memohon pada Fara yang tak di gubris sama sekali.
“Apa kau sudah tidak punya urat malu, kau sudah mencoba untuk membunuh suamimu, dan sekarang kau hampir saja merenggut nyawa Alfa, tapi kau masih saja berpura-pura menjadi orang yang paling terluka di sini, Ck! Sungguh memalukan,” ucap Dara yang semakin membuat Fara tersulut emosi.
“Diva, apa kau tidak mendengar ucapanku?” tanya Fara dingin, wanita paruh baya itu bahkan tak kuasa untuk melihat wajah menantu yang sangat ia sayangi, bahkan selama ini putranya selalu menampilkan sikap harmonisnya pada istrinya tersebut, tapi tak menyangka jika putranya sudah di khianati oleh wanita cantik itu.
“Mah, ak-,” ucap Diva namun langsung di bentak oleh Fara.
“Jangan panggil aku mamah lagi, mulai detik ini kau bukan menantuku!” bentak Fara yang langsung membuat Diva histeris, tidak, ini tidak boleh terjadi, ia sudah mencintai suaminya, bagaimana mungkin ia bisa pergi begitu saja.
“Mah, tolong biarkan aku menjelaskan semuanya,” pinta Diva dengan memohon sambil terisak bersimpuh di kaki Fara.
“Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, aku sudah muak denganmu,” ucap Fara sambil mendorong Diva agar menjauh dari kakinya.
“Mah, izinkan aku bertemu dengan suamiku sebentar saja, aku mohon, sekali ini saja,” pinta Diva memohon, ia akan pergi setelah ia bisa melihat dan memastikan keadaan suaminya.
“Apa kau baru saja mengakui putraku sebagai suamimu, apa kau sudah puas untuk mencoba membunuh putraku, apa pengorbanannya untukmu masih kurang?” tanya Fara terisak, membayangkan rasa sakit yang diterima putranya selama ini.
“Kau tidak tahu perjuangan seorang ibu, aku membesarkan dan menjaganya dengan sepenuh hati, memberikan segala kebahagiaan yang ia inginkan, setelah ia kehilangan seorang ayah dalam hidupnya, putraku menjadi sangat dingin dan tak lagi bermain di usia mudanya, ia malah menjadi tulang punggung keluarga kami, tapi apa yang kau lakukan, kau bahkan ingin membunuh putraku, apa kau belum merasa cukup dengan semua ini,” sambung Fara pada wanita yang tengah bersimpuh di kakinya.
“Pergi dari kehidupan putraku sejauh mungkin, aku tidak ingin putraku mati sia-sia di tangan wanita kejam seperti dirimu,” mendengar itu, Diva sudah sadar, kehadirannya sudah tak berarti lagi. Ia berjanji tidak akan pernah mengganggu kehidupan pria itu lagi.
...----------------...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.
Info untuk novel SekRoy, akan di lanjutkan setelah novel ini tamat. sekali lagi Mimin minta maaf ya, soalnya bagi2 sama kuda poni.