Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 52



Selamat membaca ...


Jam makan malam pun telah tiba. Seorang wanita makan dengan lahapnya, meskipun hanya makan dengan telur dadar yang ia masak, terkadang ia juga harus berhemat, mengingat kelahiran calon anaknya yang hanya beberapa bulan lagi, ia juga hanya menetap seorang diri di rumah sederhana itu, karena ia tidak mampu membayar uang sewa, penghasilan dari toko bunganya ia gunakan untuk makan sehar-hari dan sisanya ia tabung. Elsa, wanita itu di beri upah kecil juga, namun tanpa Tasya ketahui, Elsa sudah dapat gaji dari Rey karena membantu Tasya.


Tokk tokk tokk.


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, menandakan ada seseorang yang datang ke rumahnya. Tapi siapa, bukankah Rey sudah ia larang untuk tidak datang di malam hari. Ah sudahlah, mungkin memang pria itu ada keperluan datang di jam makan malam seperti ini, begitu pikir Tasya.


“Siapa sih ganggu orang makan saja. Awas saja jika itu kamu Rey,” gerutu Tasya namun tetap beranjak untuk membuka pintu.


Ceklekk!


“Rey, aku sudah pernah bilang, jangan datang ke rumah ku saat malam ha-,” ucap Tasya menggantung ucapannya, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.


Degg! Degg! Degg!


Wanita itu menutup mulutnya tak percaya, cairan bening sudah menggenang di pelupuk mata. Sadar siapa yang ada di hadapannya tersebut, Tasya berusaha menutup pintunya kembali, namun sayang, pria itu menahan pintu tersebut agar tidak tertutup.


“Sayang, sayang aku mohon buka pintunya. Aku sangat merindukan dirimu,” ucap seorang pria tersebut.


Akhirnya Tasya tidak kuat untuk mendorong pintu tersebut dan membiarkan pria itu menghampirinya, namun Tasya segera berbalik dan membelakangi pria tersebut, ia tidak sanggup menatap wajah pria yang selama ini ia rindukan.


“Siapa kau yang berani ke rumahku?” tanya Tasya dengan dingin tanpa berbalik menatap pria yang ada di belakangnya. Sakit, itulah yang ia rasakan saat ini, berpura-pura tidak mengenal pria yang akan menjadi ayah dari anak yang ia kandung.


“Sayang, ini aku suamimu, kau istriku,” ucap pria itu yang tak lain adalah Alfa. Ia juga tahu apa yang di rasakan istrinya, wajar saja wanita itu marah padanya. Karena ia akan melakukan apapun agar istrinya memaafkan dirinya dan kembali hidup bersama dengannya.


“Aku bukan istrimu, dan kau bukan suamiku. Aku bukan wanita yang kau maksud, Aku Tasya,” ucap Tasya bergetar. Mendengar hal itu hati Alfa semakin sakit dan merasa sangat bersalah. Dengan cepat ia memeluk wanita itu dari arah belakang, membuat wanita itu tersentak kaget saat mendapat perlakuan mendadak seperti itu. Ia masih belum menerima keadaan.


“Benar, kau adalah wanita yang aku cari selama tujuh bulan. Kaulah Diva Anastasya. Diva ku, cinta ku dan hidup ku. Aku selalu merindukanmu di setiap waktuku, kau sudah menghukum diriku dengan kerinduan ku yang semakin hari semakin besar, seolah kerinduan yang teramat itu bisa membunuhku secara perlahan.” Alfa meneteskan air matanya di bahu sang istri sambil meraba perut istrinya yang sudah buncit. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya saat tahu istrinya masih mau mengandung darah dagingnya.


“Pergi dari rumahku!” bentak Diva sambil menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya tersebut (Panggil Diva kembali ya, soalnya sudah ada tokoh utama pria).


“Maaf,” hanya itu yang bisa ia ucapkan, ia tidak beranjak sedikitpun dari tubuh istrinya tersebut.


“Aku bilang cepat pergi dari sini, anggap saja kita tidak pernah bertemu hari ini,” ucap wanita cantik itu tanpa menoleh sedikitpun. Ada rasa sesak sekaligus getaran hebat saat tangan kekar milik Alfa mengelus perut buncitnya.


“Tidak sayang, jangan pernah katakan itu lagi, ayo kita pulang, keluarga kita sangat mengkhawatirkan kamu. Apa kau tidak merindukan keluarga termasuk sahabat mu?” tanya Alfa yang kini sudah membalikkan tubuh wanita cantik itu hingga menghadap ke arah dirinya, namun Diva hanya menundukkan kepalanya. Diva tidak sanggup jika harus menatap wajah yang selama ini ia rindukan, ia takut tidak bisa menahan diri.


“Aku yakin mereka baik-baik saja,” ucap Diva yang tetap menunduk. Suara tercekat karena menahan isak tangis. Alfa yang mengerti hal itu segera memeluk istrinya hingga suara tangisan pun pecah seketika memenuhi rumah kecil dan sederhana itu.


“Aku mohon pergilah. Aku tidak akan pernah berubah, aku sangat membenci dirimu dari dulu sampai nanti,” ucap Diva sambil terisak namun tetap merasa nyaman dalam pelukan suaminya, dan itu membuat Alfa tahu apa yang kini di pikirkan oleh istrinya. Alfa hanya mengulas senyuman saat mendengar ucapan istrinya yang terdengar sedang mengadu dan manja.


Cupp cupp cupp. Alfa mengecup puncak kepala milik istrinya dengan bertubi-tubi, ia membawa wanita itu ke arah kursi kayu yang ada di ruang tengah tersebut, ia menuntun istrinya untuk duduk.


“Halo baby, apa kau sudah merindukan Daddy-mu ini. Daddy sangat bahagia saat tahu kau sudah ada untuk melindungi Mommy-mu dari pria lain yang akan merebut Mommy dari Daddy. Daddy sayang padamu,” ucap Alfa yang sudah menundukkan kepalanya di hadapan perut Diva, tangan kekarnya terulur untuk mengelus perut buncit tersebut, tak lupa juga ia mengecup perut Diva secara bertubi-tubi, membuat Diva merasa tak bisa menahan tangisannya lagi.


“Apa kau yakin bayi ini adalah anakmu?” tanya Diva seolah ingin Alfa meragukan anak yang ada di dalam perutnya. Mendengar pertanyaan itu, membuat Alfa menegakkan tubuhnya dan menatap wajah cantik yang kini sudah tak terurus lagi, wajah kusamnya tanpa polesan make up sedikitpun membuat Alfa merasa sangat bersalah karena sudah menelantarkan istri dan calon anaknya. Alfa menghela napas panjang sebelum menjawab partanyaan bodoh itu. Apa kau begitu ingin aku meninggalkanmu, hingga membuat pertanyaan bodoh itu, begitu pikir Alfa.


“Apa aku perlu menjawab pertanyaan bodohmu ini. Tentu saja ini adalah anakku, aku sangat mencintaimu, Diva, maafkan aku yang tidak menjaga kalian. Aku harap kau mau memafkan aku dan kembali bersama untuk membesarkan anak-anak kita,” pinta Alfa dengan raut wajah memelas, air matanya sudah menetes membasahi pipinya.


“Tapi ib-,” ucap Diva yang langsung di bungkan oleh Alfa menggunakan mulutnya, membuat Diva membelalakan matanya. Diva hendak mendorong tubuh kekar namun Alfa malah semakin memperdalam ciu*man mereka, hingga Diva sesak karena Alfa yang menggebu.


“Kau masih keras kepala sayang. Kau jangan khawatirkan itu, ibu pasti akan kembali menyayangi dirimu seperti dulu. Karena ibu tahu, hanya kamu yang putranya inginkan sebagai pendamping hidupnya. Apa kau mau memaafkanku dan memberiku kesempatan?” tanya Alfa dan di jawaban sebuah anggukan pelan dari istrinya yang nampak malu-malu. Rasanya ia ingin memakan istrinya saat itu juga, karena terlalu gemas.


“Terima kasih sayang, aku sangat senang mendengarnya,” ucap Alfa dengan penuh perasaan bahagia.


Kini mereka sudah ada di meja makan, setelah Alfa menjelaskan kronologi hidupnya tanpa Diva selama ini, ia juga mengatakan sudah memberi pelajaran pada Dara yang sudah memprovokasi ibunya, kini mereka sudah saling memaafkan, dengan penuh rasa haru ia terus memanjakan istrinya, dan di rumah itu mereka saling memaafkan. Karena hidup akan damai jika kita saling memaafkan dan membuang rasa dendam.


“Sayang, apa kau setiap hari makan telur saja?” tanya Alfa yang ke sekian kalinya merasa hatinya teriris.


“Tidak, kadang-kadang Rey datang membawa makanan,” jawab Diva santai. Tanpa dia sadari wajah Alfa sudah berubah muram.


“Maaf, aku memang pria bren*gsek yang bahkan tidak bisa menjaga keluarganya,” ucap Alfa merasa bersalah. Seketika Diva menghela napasnya kasar dan menggenggam tangan suaminya.


“Kau sendiri tadi yang bilang kalau kita harus melupakan masa yang sudah berlalu dan memulai masa depan yang baru. Aku sudah memaafkan mu,” ucap Diva memaafkan. Dan malam ini mereka memulai memadu kasih kembali setelah sekian lama terpisah dan menahan rindu berat.


Malam ini Alfa menginap di rumah Diva, karena ia berencana untuk membawa pulang istrinya tersebut setelah sekian lamanya terpisah.


...----------------...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.