Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 49



Selamat membaca ...


Tasya begitu terkejut saat mendengar penuturan dari sang boss jika pria itu mencintai dirinya, tidak, ini tidak boleh terjadi, bagaimana pun ia masih sah menjadi istri pria lain. Tasya memundurkan langkah kakinya perlahan ke belakang untuk menghindari pria yang ada di hadapannya tersebut, namun Rey dengan cepat menggenggam pergelangan tangan milik wanita cantik tersebut.


“Lepaskan saya tuan,” ucap Tasya dengan lirih, membuat Rey semakin mencengkram tangan wanita itu semakin kuat.


“Apa aku salah jika mencintaimu?” tanya Rey dengan raut wajah memelas.


“Tidak, tuan tidak salah, tapi penempatan cinta anda salah tuan,” jawab Tasya sambil meringis. Tak lama kemudian Rey melepaskan tangan mungil milik Tasya.


“Apa maksud dirimu?” tanya Rey yang mendekati Tasya dan menggenggam kedua tangan milik Tasya.


“Saya sedang hamil tuan,” ucap Tasya sambil sambil menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya.


“Sudah aku katakan, aku akan menerima anakmu juga. Aku janji akan menyayangi anakmu seperti aku menyayangi darah dagingku sendiri. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikannya,” lirih Rey sambil menggenggam kedua tangan Tasya dan menariknya agar lebih dekat dengan dirinya.


“Aku mohon, ini juga demi nama baikmu, aku janji akan melindungi dirimu dan bayi yang ada dalam kandunganmu,” lirih Rey kembali.


“Maaf, tuan. Sepertinya saya tidak bisa, mungkin saya harus keluar dari kafe ini,” ucap Tasya dengan cepat, ia tidak ingin memberikan harapan pada orang sebaik Rey, ia tidak ingin mengecewakan pria itu.


“Haahh, baiklah, aku mengerti dengan semua keputusan mu. Aku tahu kau masih ragu padaku. Tapi, aku mohon jangan menjauhi diriku, aku ingin membantumu. Kali ini kau jangan menolak lagi, aku mohon,” pinta Rey dengan wajah memelas, membuat Tasya menghembuskan napasnya kasar dan akhirnya berkata.


“Baiklah. Terima kasih atas belas kasihan tuan terhadap saya, saya juga sudah membuat keributan di sini. Kalau begitu saya akan membuat surat pengunduran diri saya hari ini juga,” ucap Tasya dengan tak enak hati. Sedangkan Rey, pria itu sudah sangat bahagia karena sudah mendengar persetujuan dari wanita itu.


“Aku sudah pernah bilang padamu, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Lagipula, sekarang aku bukan atasan mu lagi. Aku janji akan selalu melindungi dirimu dan anak yang ada dalam kandungan mu, apa kau mau pulang sekarang?” tanya Rey dengan lembut pada Tasya, membuat wanita itu semakin tidak tega dengan pria baik seperti Rey tersebut.


“Iya, aku mau pulang saja,” jawab Tasya dengan datar, ia juga tidak ingin memberikan respon yang berlebihan, karena takut akan memberikan harapan pada pria itu.


“Baiklah, ayo aku antar pulang,” ucap Rey sambil meraih tangan Tasya, namun wanita itu dengan cepat menepis tangan Rey, hingga pria itu menoleh ke arah wanita cantik tersebut.


“Aku bisa sendiri, Rey. Lagipula kau sedang sibuk di kafe ini,” ucap Tasya karena ia tidak ingin merepotkan mantan atasannya tersebut.


“Aku tidak sibuk, lagipula sebenarnya kafe ini hanya alasan aku untuk bertemu dengan mu, karena sejak pertama kali bertemu dengan dirimu, aku sudah merasa jatuh cinta. Orang-orang diluar sana pasti sudah sangat heboh karena kabar kehamilan mu, jadi sebaiknya kita bersandiwara di depan umum, ini juga demi kebaikan dirimu dan juga anak yang ada dalam kandunganmu, apa kau mendengarku?” tanya Rey menatap lekat wajah Tasya.


“Hmm, baiklah. Terima kasih,” ucap Tasya sambil tersenyum pada Rey.


...----------------...


Tak butuh waktu lama, kini Rey dan Tasya sudah sampai di rumah kecil yang Tasya sewa. Ya, memang hanya tempat itu yang mampu Tasya sewa untuk berteduh melindungi dirinya.


“Rey, terima kasih kau sudah mengantarku pulang,” ucap Tasya merasa tak enak hati karena telah merepotkan Rey.


“Sudah aku katakan, jangan pernah mengucapkan terima kasih, aku tulus membantu dirimu dan anak yang kau kandung. Ini peganglah,” menyodorkan amplop coklat yang entah apa isinya. Membuat Tasya mengerutkan alisnya tanda tidak mengerti.


“Ambilah,” meraih tangan Tasya dan meletakkan amplop itu dengan paksa pada wanita tersebut. Membuat Tasya mau tidak mau harus menerimanya.


“Bukalah,” titah Rey dengan lembut. Tak ingin merasa penasaran, Tasya langsung membuka amplop coklat tersebut, ia sangat terkejut melihat isi dari amplop yang berisi uang tunai cukup banyak.


“Apa maksudmu?” tanya Tasya penuh selidik, ia tidak ingin seperti seorang wanita mur*ahan yang sudah menjual diri pada pria kaya.


“Itu untukmu, sekaligus pesangon mu, apa itu kurang?” tanya Rey keheranan, ia berpikir bahwa uang yang ia berikan tidak cukup untuk wanita itu.


“Maaf, aku tidak bisa menerimanya Rey,” ucap Tasya sambil memberikannya pada pria tersebut, membuat Rey semakin bingung.


“Tidak, peganglah, itu benar-benar untukmu, apa itu masih kurang?” tanya Rey kembali, membuat Tasya semakin geram mendengarnya, ia mengira bahwa dirinya hanya dianggap sebagai wanita yang bisa dibayar kapan saja.


“Apa kau pikir aku wanita bayaran, aku yakin uang pesangonku tidak sebanyak itu,” ucap Tasya sarkas, membuat Rey akhirnya mengerti isi pikiran wanita itu.


“Kau memang selalu berbeda dari wanita lain Sya. Tapi aku memberikan uang itu untuk membantumu, sekarang kau sudah tidak bekerja lagi, aku pikir uang ini bisa kau gunakan, aku tidak akan menerima penolakan darimu lagi,” ucap Rey menjelaskan dengan tegas tanpa bantahan. Membuat Tasya menghela napasnya dan menyerah untuk berdebat.


“Baiklah, aku terima uang ini, aku akan membuka usaha kecilku dan membagi uang hasilnya,” ucap Tasya yang masih saja tidak mau menerima uang itu tanpa imbalan apapun untuk Rey.


“Haiss, kau memang wanita yang sangat keras kepala, aku sampai heran kenapa aku jatuh hati pada wanita keras kepala seperti dirimu ini,” ucap Rey sambil terkekeh gemas, membuat Tasya seketika mengingat pria yang sama anehnya dengan Rey karena sudah mencintainya.


‘Aku juga heran, kenapa dia (Alfa) memilihku, entah kenapa aku juga tidak pernah menolaknya, sampai dia menitipkan benihnya dalam rahimku. Alfa, aku merindukan mu, apa kau juga merindukan aku,’ batin Tasya yang tiba-tiba teringat suaminya. Rey yang melihat raut wajah Tasya yang tiba-tiba sedih menjadi heran dan bertanya-tanya dalam benaknya.


“Tasya, apa kau baik-baik saja, maaf jika ucapanku menyakiti hatimu,” ucap Rey merasa bersalah karena telah menyinggung wanita cantik itu.


“Eh, tidak apa-apa kok, aku hanya lelah saja, kalau begitu aku masuk duluan, sebaiknya kau cepat pergi sebelum orang lain salah paham dengan kehadiran mu,” ucap Tasya mengusir secara halus, ia sadar akan statusnya yang masih menjadi istri dari seorang Alfa Edison Sagala.


“Hmm, baiklah. Tapi, jika kau perlu bantuan, hubungi saja aku, kau jangan sungkan lagi, atau aku akan datang kesini tanpa persetujuan darimu. Oh ya, mulai sekarang aku akan menjengukmu kesini setiap hari,” ucap Rey dengan santai tanpa memperhatikan raut wajah Tasya yang sudah melongo dibuatnya.


“Hah, untuk apa kesini setiap hari?” tanya Tasya menatap Rey dengan penuh selidik.


“Tentu saja untuk anak kita, agar mereka percaya bahwa anak ini adalah anakku, kau jangan menolak, ini semua demi kebaikanmu dilingkungan ini,” ucap Rey dengan tegas tanpa bantahan sedikitpun.


“Hmm, terserah saja, aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku padamu, entah dengan apa aku harus membalas semua kebaikan mu padaku,” ucap Tasya tersenyum ramah, meskipun terlihat jelas ada guratan kesedihan didalamnya.


...****************...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.