Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 46



Selamat membaca ...


“Aku baik-baik saja, kau tidak usah khawatir,” jawab Tasya dengan lemas, karena ia tidak ingin merepotkan orang lain lagi.


“Benarkah, tapi kau terlihat sangat pucat, apa kau sedang sakit?” tanya Elsa khawatir.


“Aku tid-,” ucap Tasya yang langsung jatuh pingsan.


Brukk!


Tasya terjatuh ke lantai karena pingsan. Elsa yang melihat sahabatnya pingsan langsung panik dan meminta pertolongan pada teman karyawan lainnya.


“Tasya, bangun! Tasya, kamu kenapa, kamu jangan buat aku takut!” ucap Elsa sambil menepuk pipi Tasya berulang kali, namun tak ada hasil sama sekali, dengan cepat ia memanggil temannya dan segera membawa Tasya ke rumah sakit.


...----------------...


Di sisi lain, di sebuah gedung pencakar langit, sebuah perusahaan paling besar di negeri ini, dengan namanya yang terpampang besar di gedung tersebut, perusahaan apalagi jika bukan perusahaan Edison.


Kasus masalah yang datang dari musuhnya yang bernama Alex sudah berakhir dengan tragis, meskipun Alex sama sekali belum mengambil dokumen milik perusahaannya, namun ia sudah tidak ada niat untuk berbelas kasih pada pria yang sudah membuatnya kehilangan istrinya, hingga ia mengirim pria bre*ngsek dalam lubang kematiannya sendiri.


Namun itu semua tidak ada artinya lagi, bagi seorang pria dewasa yang saat ini kehilangan jejak sang istri yang hilang bak di telan bumi, hingga membuatnya kalang kabut seperti orang yang kehilangan arah.


Setelah satu bulan lebih lamanya sang istri menghilang tanpa jejak, Alfa menjadi lebih dingin tak tersentuh, pria itu jadi lebih sensitif dan tidak menerima kesalahan sedikitpun, bahkan sekertaris yang selalu ada di sisinya tak luput dari hukuman Alfa.


“Sam, apa kau sudah bisa menemukan keberadaan istriku?” tanya Alfa sambil bersandar di kursi kebesarannya sambil memejamkan matanya.


“Jawabannya masih sama tuan, jejak nona muda sulit untuk di lacak, apalagi nona muda tidak membawa barang apapun untuk di selidiki, dan juga, seperti ada orang yang sudah membantu nona muda keluar dari kota ini, karena seluruh kota sudah di cari dengan teliti, tapi tidak ada tanda-tanda nona muda berada di kota ini,” jawab sekertaris Sam panjang lebar, membuat Alfa murka, sudah satu bulan selama pencarian istrinya, hanya itu jawaban oleh orang kepercayaannya.


Brakk!


“Apa kau sudah kehilangan keahlian mu lagi, apa kau sudah tidak becus menangani masalah kecil ini, hah!” bentak Alfa murka sambil bangkit dari duduknya dan menggebrak meja.


“Maafkan saya tuan muda.” Hanya itu yang bisa sekertaris Sam katakan, sungguh ia menyesali perbuatannya yang tidak bisa menjaga nona mudanya sendiri.


“Haahh, apa hanya itu yang bisa kau ucapkan setiap hari di hadapanku! Seperti yang kau katakan, istriku tidak membawa apapun, apa kau bisa membayangkan istriku yang entah bagaimana keadaannya sekarang, apa kau bisa membayangkan hal itu, Sam. Bagaimana aku bisa hidup dengan layak di sini, sedangkan istriku entah makan atau tidak di luaran sana,” ucap Alfa yang semakin lirih, hatinya merasa sakit tak sanggup jika membayangkan istrinya yang sangat kesulitan di luar sana.


“Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari nona muda, tuan,” ucap Sekertaris Sam sambil menunduk.


“Apa ada kabar lain lagi?” tanya Alfa yang sedikit merendahkan suaranya.


“Tuan muda, ada seorang wanita yang datang kesini tadi pagi, wanita itu menanyakan keberadaan anda,” jawab sekertaris Sam.


“Untuk apa wanita itu datang kesini dan menanyakan diriku?” tanya Alfa penasaran.


“Wanita itu sahabat nona muda, wanita yang dulu mengajarkan nona muda seni bela diri, wanita itu marah-marah karena ingin bertemu dengan anda,” ucap sekertaris Sam.


“Kenapa kau tidak memberi tahuku?” cecar Alfa yang terlihat marah.


“Karena tuan sedang menyendiri, saya takut akan mengganggu tuan,” jawab sekertaris Sam yang semakin membuat Alfa murka.


“Berani sekali kau menilaiku! Aku tidak mau tahu, sekarang kau jemput wanita itu dan pertemukan dia denganku!” bentak Alfa yang sangat murka kepada sekertaris Sam.


“Baik tuan muda, akan segera saya laksanakan, tapi sebelum saya pergi, nyonya besar menitip agar tuan muda menghubungi nyonya,” ucap sekertais Sam menunduk.


“Mau apa lagi, apa mamah belum puas menghancurkan cintaku, pergilah, aku akan menghubungi mamah,” ucap Alfa bernada mengusir.


“Kalau begitu saya permisi tuan muda,” ucap sekertaris Sam mengundurkan diri, dan segera bergegas pergi untuk menjemput sahabat Diva.


Setelah kepergian sekertaris Sam, Alfa langsung mengambil benda pipih yang ada di dalam saku jas miliknya, ia segera mencari nomor wanita yang sudah mengusir istrinya hingga hilang bak ditelan bumi.


Tuuut! Tuuut! Tuuut!


“Halo,” sapa Alfa pada wanita paruh baya yang ada di sebrang telpon sana, setelah sambungan telponnya tersambung.


“Ada apa mah, aku sedang sangat sibuk,” ucap Alfa yang sangat malas berbicara dengan Fara.


“Sayang, apa kau masih marah pada mamah, kau sudah buta Alfa! Kau sudah buta! Kau sudah dibutakan oleh cinta! Wanita kejam itu sudah membutakan dirimu!” maki Fara di sebrang sana, membuat Alfa semakin murka saat mendengar makian untuk istrinya.


“Cukup, mah! Jika mamah ingin aku hubungi karena ingin memaki istriku, lebih baik aku akhiri saja panggilan ini, jangan harap aku akan kembali ke rumah sebelum aku menemukan istriku,” ucap Alfa pada Fara yang begitu murka, dan segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, membuat Fara kesal dan merasa putranya jauh lebih memilih istri durhakanya tersebut.


“Wanita itu selain ingin membunuh putraku, juga sudah meracuni pikiran putraku, aku harus menjauhkan Alfa dengan wanita iblis itu, jangan sampai Alfa menemukan iblis itu lagi, kalau tidak, wanita itu pasti akan melakukan segala cara untuk membunuh putraku kembali, aku sampai tidak mengerti dengan jalan pikirannya, mana ada istri yang nekat membunuh suaminya berkali-kali, jika saja aku belum mengetahui hal ini, sudah pasti putraku sudah jadi mayat,” gerutu Fara yang harus menghalangi jalan agar Alfa tidak bertemu kembali dengan Diva, wanita yang sudah berani mencoba membunuh putranya.


Sedangkan Alfa, pria itu langsung membantingkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya dan menghela napas panjang sambil memejamkan matanya.


“Diva, kemana kau sayang, aku sangat merindukan dirimu, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik, di mana kau saat ini, apa kau sudah makan, apa kau punya tempat tinggal yang layak, maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu, maafkan kecerobohan ku saat itu, hingga membuatmu di usir dan di benci oleh mamah, aku harap kau bisa memaafkan aku dan akan kembali lagi ke sisiku, aku mohon kembalilah padaku,” gumam Alfa tanpa membuka matanya, tapi air matanya sudah mengalir dari sudut matanya, sungguh ia sangat merindukan istrinya.


“Diva, begitu bencikah kamu padaku, hingga tidak mau kembali lagi padaku, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu sayang, aku bahkan tidak sanggup membayangkan dirimu membenciku dan mengabaikan aku, aku mohon kembalilah, aku akan melakukan apapun agar kau bisa memaafkan diriku, aku mohon padamau,” gumam Alfa yang kini sudah terisak, entah bagaimana lagi ia harus mencari istrinya.


Hingga beberapa lama ia menangis karena merindukan wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut hingga terisak, air matanya yang terus mengalir dengan deras, hingga suara ketukan pintu dari arah luar membuatnya tersadar dan segera menghapus air matanya dengan saputangan yang ada di saku jas miliknya.


Tokk! Tokk! Tokk!


Suara ketukan pintu yang tak kunjung selesai, karena menunggu jawaban dari dalam ruangan tersebut.


“Masuk!” suara bariton dari dalam ruangan.


Hingga pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok wanita yang dekat dengan istrinya dari balik pintu, tak lupa juga sekertaris Sam yang ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Selamat sore tuan muda,” sapa seorang wanita itu dengan ramah sambil menundukan kepalanya tanda hormat.


“Sam, kau keluarlah dulu,” ucap Alfa bernada perintah pada sekertarisnya tersebut.


“Baik, tuan muda. Kalau begitu saya permisi,” ucap sekertaris Sam undur diri, sambil menunduk hormat. Pria itupun bergegas pergi keluar dari ruangan sang tuan muda.


Setelah kepergian sekertaris Sam, Alfa kembali fokus pada wanita yang ada di hadapannya.


“Duduklah!” titah Alfa pada wanita tersebut.


“Tidak perlu basa-basi tuan, kedatangan saya kemari hanya ingin menanyakan keadaan sahabat saya, dan oh ya, jika tuan lupa, nama saya Mira, jadi jawab pertanyaan saya dengan jujur di mana Diva?” tanya Mira tanpa rasa takut sedikitpun, bahkan ia dengan rasa berani menunjukkan wajah sinisnya pada pengusaha kaya di hadapannya tersebut.


Pertanyaan wanita yang ada di hadapannya tersebut membuat Alfa merasakan sakit yang luar biasa, bahkan ia sendiri sebagai suaminya tidak tahu di mana keberadaan Diva istrinya.


Andai hatinya bisa terlihat, pasti sudah kalau pria itu juga sangat menderita, namun ia harus tetap terlihat tegas, agar tidak terlihat rapuh.


“Bukankah istriku sering berkomunikasi dengan mu?” bukan menjawab, pria itu malah balik bertanya untuk menutupi kebohongannya.


“Biasanya juga seperti itu, tapi sudah satu bulan lebih dia tidak menghubungi saya, kemana sebenarnya Diva tuan?” tanya Mira sambil menatap Alfa dengan tatapan penuh selidik.


“Dia baik-baik saja, untuk apa kau mencari istriku?” tanya Alfa dengan dingin. Sungguh hatinya sakit saat ia mengucapkan bahwa istrinya baik-baik saja, padahal sebenarnya dirinya pun tidak tahu dengan keadaan sang istri di luar sana.


“Benarkah, saya pikir setelah kejadian satu bulan yang lalu, keluarga tuan muda tidak akan memaafkan istri anda, ternyata saya salah. Tapi jika saya tahu kalau tuan menyakiti Diva, tuan lihat saja nanti,” ucap Mira seolah menantang dan mengancam pria yang kini menjadi suami sahabatnya tersebut.


“Kau tidak berhak menilai keluargaku seperti itu, untuk alasan apa keluargaku tidak menerima istriku. Dan aku akan membuktikan bahwa Diva lebih layak hidup dengan diriku,” ucap Alfa dengan tegas, sambil menatap Mira dengan tatapan dinginnya.


...****************...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.