
Selamat membaca ...
“Sayang, apa kau sudah tidur?” tanya Alfa dengan fasih memanggil Diva dengan sebutan sayang.
“Hei! Siapa kau berani memanggil diriku dengan sebutan menjijikan seperti?!” bentak Diva melotot, bahkan ia kesal mendengar suara yang tidak asing baginya seharian ini.
“Aku calon suami mu, aku tidak bisa tidur karena memikirkan dirimu, apa kau sudah memimpikan diriku, sayang?” tanya Alfa dengan percaya diri, membuat Diva semakin jengah dengan pria yang tingkat percaya dirinya di atas langit.
“Ya, aku mimpi, kau aku bunuh saat baru datang dalam mimpiku yang paling indah,” jawab Diva dengan kesal. Sedangkan, Alfa dengan bodohnya malah tertawa, seakan ucapan Diva adalah sebuah hiburan yang paling menghibur.
“Sayang, terima kasih sudah menghiburku, setelah aku mendengar ucapanmu yang sangat menghibur, sekarang aku bisa tidur dengan tenang, besok tunggu aku ya sayang,” ucap Alfa dengan santai dan memutuskan sambungan telponnya untuk segera tidur.
Sedangkan, Diva yang awalnya sangat mengantuk, kini tak bisa memejamkan matanya karena kekesalan yang ia rasakan untuk pria yang tidak tahu malu itu.
...----------------...
Pagi hari yang cerah, seperti biasa seorang wanita yang bangun tidur harus membangunkan satu RT dulu, jika saja para penggemarnya tahu kalau seorang model tersebut ternyata bagaikan kerbau.
Diva, yang sudah terbangun, kini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tak butuh waktu lama, Diva telah menyelesaikan acara ritual mandinya, kerana ia juga tipe wanita yang sangat malas untuk mandi, terkadang ia hanya mencuci wajah saja ketika ingin bekerja.
Dengan langkah tergesa-gesa ia menuruni anak tangga, tanpa melihat semua orang yang sudah berkumpul di meja makan tersebut.
“Morning Momm, morning Dadd, Mira,” sapa Diva tanpa melihat sekitar dan langsung mendudukan dirinya di kursi, karena biasanya, Mira ikut sarapan di rumahnya sambil untuk membangunkan tuan putri tersebut.
“Ehmm, sayang, apa kau tidak menyapa diriku?” tanya seorang pria yang suaranya tidak asing bagi Diva, membuat Diva melotot ke rah pria tersebut.
“Kenapa kau ada di rumahku pagi pagi sekali?” tanya Diva penuh selidik.
“Sayang, sudah biarkan saja, Daddy yang mengundangnya, sambil mau membicarakan soal pernikahan kalian,” ucap Devan dengan santai, membuat Diva dan Mira terlonjak kaget.
Brakk!
“What the hell, Momm, Dadd, aku gak pernah bilang mau menikah dengan pria asing ini!” ucap Diva setengah membentak sambil menatap tajam ke arah pria tampan yang tak lain adalah Alfa.
“Aunty, apa benar Tuan Alfa ini mau menikahi Diva?” tanya Mira yang tidak bisa menahan jiwa- jiwa keponya.
“Tentu saja, sayang, Aunty harap kamu juga cepat menyusul Diva ya,” jawab Via sambil tersenyum lembut ke arah Mira.
“Sayang, sudah habiskan dulu sarapan mu, kami tahu kau masih bertengkar dengan calon suami mu, tapi jangan begitu juga dong sayang, Daddy yakin Alfa bisa menjagamu dan dan perusahaan kita,” ucap Devan mencoba menenangkan putrinya yang mudah tersulut emosi.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, mereka selesai dengan acara sarapan yang membuat suasana hati Diva semakin hancur. Kini mereka sedang berkumpul di ruang tamu, dan sedang membicarakan tentang pernikahan yang tidak di ketahui oleh Diva.
“Momm, Dadd, aku pamit berangkat kerja dulu ya,” ucap Diva berpamitan pada orang tuanya.
“Baiklah, tapi nanti siang kau harus pulang dulu ya, sayang, Mommy and Daddy mau bicara penting padamu,” ucap Via pada putrinya.
“Bicara apa Momm, sekarang saja, siang aku gak bisa pulang,” tolak Diva dengan halus.
“Pokonya harus pulang, titik, pokonya gak ada alasan lain lagi,” ucap Via yang kesal dengan sifat putrinya yang keras kepala.
“Hmm,” jawab Diva dengan malas.
Setelah kepergian Diva dan Mira, kini hanya ada Devan,Via, dan alfa saja yang kembali ke mode serius.
“Tentu saja Momm, aku yakin Diva juga bersedia, hanya saja dia masih terlalu kaget untuk pernikahan mendadak kami,” jawab Alfa dengan tegas, karena ia tidak mau melepaskan wanita itu. Bagaimana pun ia harus segera mendapatkannya.
“Alfa benar sayang, kalau tidak begini, mana mau dia menikah, dia sudah terlalu lama menikmati masa lajangnya, sudah seharusnya dia bersikap dewasa, kita juga kesepian jika tidak punya cucu,” ucap Devan yang membenarkan ucapan Alfa.
“Hmm, baiklah,” ucap Via dengan pasrah.
“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Devan yang membutuhkan kepastian dari pria tampan yang ada di hadapannya tersebut.
“Saya ingin menikahinya minggu depan, Momm, Dadd,” jawab Alfa dengan tegas.
“Apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Via yang khawatir jika putrinya tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
“Menurut Aku itu tidak masalah, sayang,” jawab Devan yang memang sangat ingin menikahkan putrinya.
“Tapi kami belum mempersiapkan segalanya,” ucap Via yang terdengar sangat lesuh.
“Mommy dan Daddy tenang saja, aku sudah mempersiapkan segalanya, aku akan memakai salah satu hotel bintang lima milikku yang ada di pusat kota,” ucap alfa tegas, karena ia memang sudah mempersiapkan segalanya untuk wanita cantik tersebut.
“Baiklah kalau begitu, aku serahkan semuanya padamu,” ucap Devan dengan tegas.
Setelah perbincangan antara calon menantu dan calon mertua, kini Alfa memutuskan untuk kembali ke kantor, karen sudah hampir siang ia belum juga berangkat ke perusahaannya, biasanya ia tidak akan pernah telat sedikitpun dan sangat gila kerja.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, kini Alfa sudah sampai di perusahaannya, dan segera melangkahkan kakinya menuju ruangannya yang ada di ujung lantai atas, para karyawan yang melihat sang presdir mereka datang terlambat merasa sangat aneh, karena biasanya pria tampan yang banyak di gilai wanita itu selalu datang tepat waktu.
“Apa Tuan Presdir kita sedang ada masalah, kenapa bisa datang terlambat?” tanya salah satu karyawan wanita pada temannya.
“Entahlah, sebaiknya kita usah ikut campur jika masih mau hidup,” jawab temannya yang memang sangat berbahaya jika menyinggung sedikit saja pria tampan dan dingin itu.
Setibanya dalam ruangan, Alfa langsung mengecek email pekerjaan yang masuk dalam komputernya, namun tak lama kemudian ia menghubungi sekertaris Sam.
Tokk tokk tokk.
Suara ketukan pintu dari arah luar.
“Masuk!” seru Alfa dari dalam. Hingga pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang tak kalah tampannya dari sang tuannya.
“Duduklah, ada yang ingin aku biacarakan denganmu mengenai perusahaan,” ucap Alfa tanpa basa basi lagi. Sedangkan,sekertaris Sam langsung duduk dengan patuh.
“Apa itu tuan muda?” tanya sekertaris Sam yang sangat penasaran dengan topik penting dari sang tuan muda, karena yang ia tahu, perusahaan masih dalam kondisi yang sangat stabil, lalu apa masalah saat ini hingga ia harus buru-buru datang dan meninggalkan pekerjaannya yang sangat menumpuk bak gunung himalaya.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.