Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 22



Selamat membaca ...


“Aku takut dia juga kelaparan mah, apalagi jika harus melayani dua orang itu sangat merepotkan,” ucap Alfa yang bernada sindiran tersebut.


“Hmm, ya sudah, Diva itu untuk mu saja, ayo kita makan,” ucap Fara yang tidak tahu lagi harus berbuat apa.


Setelah makan siang selesai, kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, Alfa yang selalu bermanja ria dengan Fara membuat Diva merasa di abaikan, bahkan suaminya tidak berbicara sedikitpun padanya, membuat Diva merasa kalang kabut dibuatnya.


...----------------...


“Alfa, sudah sana istirahat, badanmu kurang sehat, kau tidak boleh masuk kerja dulu,” titah Fara pada putranya.


“Hmm baiklah, mah, kalau begitu aku akan beristirahat dulu,” ucap Alfa yang langsung pergi menuju kamarnya seorang diri dan masih mengabaikan Diva.


“Aneh, biasanya anak itu akan membantah jika di larang ke kantor, mamah lihat kalian selalu diam, apa kalian mempunyai masalah?” tanya Fara yang tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.


“Tidak mah, kami baik-baik saja,” jawab Diva dengan cepat, bagaimana pun ia tidak mau jika masalah pribadinya sampai tercium oleh orang lain, meskipun itu keluarganya sendiri.


“Ya sudah, kalau begitu susul suami mu!” titah Fara tanpa bantahan sedikitpun.


“Baik mah,” ucap Diva lalu bergegas pergi menuju kamarnya untuk menemui sang suami.


...----------------...


Dengan langkah yang cepat wanita cantik itu menaiki satu persatu anak tangga, tak butuh waktu lama kini Diva sudah ada di depan pintu kamar miliknya dan Alfa, dengan perasaan ragu ia membuka knop pintu.


Ceklekk!


Diva membuka pintu kamarnya dan terlihat di atas tempat tidur yang berukuran king size tersebut seorang pria yang terbaring dan memejamkan matanya.


‘Apa benar pria gila itu sedang sakit, tapi kenapa aku harus peduli dengan dirinya, bukankah ini bagus,’ batin Diva yang selalu berperang dengan isi pikiran dan hatinya yang berbeda.


“Emm, pergi kemana kau selama ini?” tanya Diva basa basi, karena ia tahu jika Alfa hanya berpura-pura tidur.


“Untuk apa kau menanyakan hal itu, bukankah kau merasa senang, kau bisa bebas bukan, apa kau sudah puas bermain-main dengan ku?” bukan menjawab, tapi Alfa malah balik bertanya pada Diva tanpa mau membuka matanya yang masih saja terpejam sama sekali.


“Apa maksudmu?” tanya Diva yang benar-benar takut jika Alfa sudah mencium sesuatu yang mencurigakan darinya.


“Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu, kau sendiri yang paling tahu masalah ini, besok kita akan berbulan madu, kau harus bersiap, tidak perlu menyiapkan apapun, sekertaris Sam yang akan menyiapkan segalanya,” ucap Alfa panjang lebar, yang bernada suatu perintah tersebut.


“Apa kau bilang! Bulan madu? Kapan aku setuju untuk berbulan madu dengan mu, apa kau sudah gila, apa otakmu itu sudah tidak berpungsi lagi?!” bentak Diva yang geram dengan ucapan Alfa yang bisa memerintah orang seenak jidatnya.


“Apa kau hanya ingin bulan madu dengan kekasih mu itu?” tanya Alfa yang membuat Diva bungkam seribu bahasa.


“Kau, apa yang kau ucapkan?” tanya Diva yang masih saja berkilah dan membuat Alfa menampilkan senyum smirknya.


“Apa kau pikir aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan di luar sana, kau bahkan berencana membunuhku dengan belajar menembak bersama sahabat mu itu, bahkan kau memiliki kekasih yang sangat menjijikan,” ucap Alfa dengan tegas dan membuka matanya, pria tampan itu menatap Diva dengan tatatpan yang sangat tajam hingga siapa saja yang melihatnya terasa di kuliti oleh tatapannya tersebut.


“Cih! Sekarang aku tidak perlu berbaik hati lagi padamu, bahkan aku senang jika kau sudah mengetahui yang sebenarnya, tanpa aku harus susah payah memberi tahu mu,” decak Diva sambil menampilkan senyum smirknya dengan tatapan yang tak kalah tajam dengan suaminya.


“Kalau begitu kau harus berterima kasih padaku karena sudah meringankan bebanmu itu,” titah Alfa sambil tersenyum smirk.


“Maka lakukanlah, karena sebelum aku mati, aku, Alfa Edison Sagala, akan menaklukan mu terlebih dahulu,” ucap pria yang menjadi musuh dari istrinya sendiri.


“Jangan harap kau bisa menaklukan diriku, Alfa,” ucap Diva menampilkan senyum devilnya, entah percaya atau tidak, wanita yang dulu berprofesi sebagai model kini menjelma seperti seorang mafia dan seorang psycho, tapi itu membuat Alfa tersenyum puas, karena rencana untuk membongkar kebohongan istrinya mudah di dapatkan.


“Tidak aku sangka kau begitu bodoh,” ucap Alfa yang membuat Diva mengernyitkan dahinya dan menurunkan senjata apinya.


“Apa kau sudah menjebak diriku hah! Dasar pria berengsekk!” geram Diva yang langsung ingin memberikan pelajaran pada pria yang sudah membuatnya membongkar rahasainya sendiri.


Buggh bughh bugghh


Diva menyerang Alfa di dalam kamar tersebut, namun Alfa selalu diam tanpa niat bergerak sedikitpun untuk membalas pukulan dari istrinya yang lumayan menyakitkan, karena sekarang Diva bukan wanita lemah lembut lagi.


“Cih! Kau adalah pria yang paling brengsekk! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukai dirimu, apalagi mencintai dirimu,” decak Diva yang sudah berada di atas tubuh Alfa yang hanya bertelanjang dada.


Bugghhh bugghh bughh


Diva kembali memukuli Alfa yang hanya diam saja, sedangkan pria itu hanya tersenyum saat menerima pukulan demi pukulan yang di berikan oleh istrinya tersebut, yang mana membuat Diva sedikit merasa bersalah.


“Apa kau sudah puas memukul diriku?” tanya Alfa sambil tersenyum sinis ke arah Diva.


“Kenapa kau tidak memakai pakaian atasmu?” bukan menjawab, Diva malah balik bertanya pada sosok pria yang masih ada di bawahnya.


“Aku memang sedang tidak enak badan, rasanya sangat panas sekali, itulah alasannya aku membuka pakaianku, tapi siapa yang menduga, jika istriku sendiri ingin membunuhku,” jawab Alfa sambil menatap Diva dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Sudahlah, itu semua karena aku sangat membencimu, tapi aku juga tidak mau mamah marah karena aku telah memukul mu,” ucap Diva berkilah.


“Lalu, apa nanti jika kau sudah berhasil membunuhku kau tidak takut dengan mamah, apa yang akan kau katakan pada mamah jika aku mati di tanganmu?” tanya Alfa yang memojokkan wanita cantik tersebut.


“Kau terlalu banyak bicara, aku akan membantumu membersihkan luka mu, atau nanti mamah akan melihatnya dan memarahi aku,” ucap Diva berkilah, entah apa yang ia rasakan saat ini, namun ia juga merasa tidak tega saat memukuli suaminya sendiri, apalagi pria itu hanya diam dan tak melawan sedikitpun.


Tak butuh waktu lama, kini Diva sudah datang membawakan kotak obat untuk suaminya.


“Diamlah, ini akan sedikit perih, kau harus menahannya,” ucap Diva sambil mengoleskan obat pada luka suaminya.


“Ini tidak akan seperih saat istriku ingin membunuh ku, dan menduakan aku” ucap Alfa yang membuat tangan mungil Diva terhenti saat mendengarnya, ada rasa bersalah pada suaminya, namun hatinya terlalu egois untuk menerimanya.


...----------------...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.


Maaf, part ini gak jelas ya, huhuhu ...