Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 50



Selamat membaca ...


...****************...


Tujuh bulan kemudian ...


Pagi ini, seorang pria tampan sedang bersiap untuk berangkat ke kota xx menangani proyek di kota tersebut.


“Sam, apa semuanya sudah siap?” tanya seorang pria tampan yang tak lain adalah Alfa.


“Semuanya sudah siap tuan muda,” jawab sekertaris Sam.


Setelah semuanya sudah siap, Alfa dan sekertaris Sam langsung bergegas untuk berangkat ke kota tersebut menggunakan jet pribadi agar perjalanannya jauh lebih cepat.


Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita tengah merangkai bunga yang ada dalam sebuah vas, perutnya yang membuncit, membuat wanita cantik itu seringkali kesulitan dalam beraktivitas.


“Tasya,” panggil seorang pria yang sudah biasa pulang pergi ke rumah tersebut untuk menemui sang pujaan hati.


“Rey, ada apa kau datang sepagi ini?” tanya Tasya pada pria tampan tersebut.


“Hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan, sekalian nanti makan siang aku akan mengenalkan mu pada rekan bisnisku,” jawab Rey dengan santai.


“Astaga, ini masih pagi, lagipula aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Aku tidak ingin meninggalkan toko bungaku ini,” ucap Tasya mencari alasan.


“Ayolah, kali ini saja, lagipula toko bunga mu ada Elsa yang menjaga,” ucap Rey berusaha meyakinkan agar wanita itu mau ikut bersamanya.


“Tap--,”.


“Tasya, kau ikut saja dengan pak Rey, aku bisa kok menjaga toko bunga mu ini,” sela Elsa yang sedari melihat perdebatan antara Rey dan Tasya. Elsa memang dikirim khusus oleh Rey untuk membantu Tasya, karena Rey tahu jika Tasya hanya dekat Elsa, bahkan secara diam-diam, Rey membantu Tasya lewat Elsa, begitu juga dengan gaji yang diterima oleh Elsa dari pria itu.


“Baiklah,” ucap Tasya pasrah dan tidak alasan lagi untuk menolak pria itu.


“Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang,” ajak Rey sambil meraih tangan Tasya.


...----------------...


Setibanya di pusat perbelanjaan di kota tersebut, Rey mengajak Tasya untuk makan-makan terlebih dahulu, karena wanita cantik itu seringkali merasa kelaparan meskipun sudah makan beberapa menit yang lalu.


“Tasya, apa suka makanannya?” tanya Rey sekedar basa basi.


“Memang apa yang tidak aku suka,” ucap Tasya datar, selama kurang lebih tujuh bulan ini, wanita itu memang mulai terbiasa dengan Rey, pria itu selalu menemaninya setiap hari dan meluangkan waktunya untuk Tasya, membuat Tasya menganggapnya seperti teman sendiri.


“Aku, kau tidak pernah menyukai diriku,” ucap Rey sambil menatap lekat mata Tasya. Wanita itu memalingkan wajahnya karena merasa tatapan Rey begitu menuntut jawaban.


“Rey, aku sudah mengatakannya berulang kali--,”.


“Sudahlah, aku mengerti. Maaf sudah mengganggu waktu makan mu, apa kau sudah selesai?” tanya Rey mengalihkan pembicaraan.


“Sudah, apa kau akan bertemu rekan mu sekarang?” tanya Tasya penasaran.


“Iya, ayo temani aku. Ini tidak akan lama,” ucap Rey bangkit dari tempat duduknya, begitupula dengan Tasya, wanita itu ikut bangkit dan mengikuti Rey setelah pria itu membayar makanan mereka.


Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah sampai disebuah kafe di pusat kota.


“Apa rekan mu masih lama?” tanya Tasya yang sejak tadi ikut menunggu namun belum ada tanda-tanda orang yang akan datang.


“Rekan ku kali ini adalah orang yang sangat berkuasa, tapi yang aku dengar, pria itu di tinggalkan oleh istrinya,” ucap Rey dengan serius, membuat Tasya mengernyitkan dahinya saat mendengar istri yang meninggalkan suaminya.


“Be- benarkah, perusahaan mana yang akan bekerja sama dengan mu?” tanya Tasya yang tak sadar bertanya dengan gugup.


“Iya sepertinya bayiku mulai rewel dalam perut, aku merasa kurang enak badan,” ucap Tasya yang merasakan seseorang akan menemukannya. Sungguh ia takut jika apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi, ia sudah berjanji pada ibu mertuanya untuk menjauhi putranya tersebut, ia tidak ingin menyakiti pria itu lagi.


“Baiklah, ayo aku antar pulang saja kalau begiu,” ucap Rey yang tiba-tiba bangkit untuk mengantarkan wanita cantik itu.


“Ti- tidak, Rey aku pulang sendiri saja, oke. Aku akan berhati-hati, lagipula kau ada meeting dengan klien barumu,” cegah Tasya dengan cepat, ia tahu pasti reaksi Rey selalu berlebihan jika menyangkut dengan dirinya maupun dengan kandungannya.


“Apa kau yakin?” tanya Rey yang masih saja mengkhawatirkan wanita hamil tersebut.


“Percayalah padaku, Rey,” ucap Tasya memohon.


“Baiklah, hati-hati ya. Kabari aku jika ada apa-apa,” pinta Rey yang masih rewel. Tasya hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


...----------------...


Di sisi lain seorang pria tampan dan gagah baru saja menginjakkan kakinya ke dalam kafe untuk bertemu rekannya, dengan di dampingi sang sekertaris yang selalu menempel bagai cicak pada dinding. Saat ia melewati beberapa orang, terdengar suara yang tak asing di telinganya.


“Nyonya, boleh aku memesan satu cup ice cream untuk di bawa pulang?”.


Degg! Degg! Degg!


‘Suara itu, apa dia ada di sini, tidak! Tidak mungkin, aku sudah menyisir seluruh kota dengan pencarian nama dan orang yang tidak sesuai, tapi kenapa suaranya sangat jelas di telingaku’ batin seorang pria yang tak lain adalah Alfa.


Alfa memang mempunyai janji dengan seseorang di kota tersebut, karena tidak mau membuang waktu, Alfa dan sekertaris Sam langsung berangkat ke tempat yang sudah di sepakati, setelah beristrirahat beberapa menit di hotel.


Afa melirik ke arah sumber suara yang sangat ia rindukan itu, namun di sana sudah tidak ada orang. Mungkin ini hanya halusinasi saja begitu pikir Alfa.


“Tuan, apa anda baik-baik saja” tanya sekertaris Sam yang melihat raut wajah sang tuan muda berubah.


“Sam, apa tadi kau mendengar suara seseorang?” tanya Alfa yang ingin memastikan saja bahwa ia memang berhalusinasi.


“Suara siapa tuan muda?” bukan menjawab, pria itu malah jauh lebih seperti orang bodoh, membuat Alfa kesal dan menghembuskan napasnya kasar.


“Sudahlah, mungkin aku hanya berhalusinasi saja,” ucap Alfa kesal.


“Maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak mendengarnya,” ucap sekertaris Sam benar-benar merasa bersalah.


“Aku mendengar suara istriku, Sam, aku merasa sangat dekat dengannya,” ucap Alfa yang akhirnya berbicara dengan jujur.


“Itu mungkin hanya halusinasi tuan saja, seperti biasanya tuan akan melihat nona muda di mana-mana beberapa waktu lalu,” ucap sekertaris Sam yang mencoba meyakinkan sang tuan muda agar tidak bertingkah memalukan seperti dulu.


“Mungkin kau memang benar Sam,” ucap Alfa dengan raut wajah yang tak dapat di artikan.


Selang beberapa lama mereka memasuki kafe tersebut, datang seorang manajer yang menyambut mereka dan mengantar ke tempat yang dituju.


Ceklekk! Sang manajer mengundrkan diri dan bergegas pergi dari dalam ruangan tersebut.


“Selamat datang di kafe kecil saya tuan Alfa,” sapa seorang pria yang tak lain adalah Rey.


...----------------...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.