
Selamat membaca ...
“Terima kasih nyonya,” ucap sekertaris Sam sambil meraih bekal makanan dari Fara.
“Makanlah, sayang, mamah suapi ya,” ucap Fara sambil menyendokan makanan untuk putranya.
“Aku akan memakan makananku sendiri,” ucap Alfa sambil mengambil bekal makanan tersebut dari tangan Fara, membuat Fara merasakan sakit saat putranya acuh tak acuh padanya.
“Alfa, apa kamu belum menerima kenyataannya, istrimu itu sudah tidak mencintaimu dari awal kalian bertemu, kamu jangan membuat alasan lagi agar bisa menerima wanita itu, sampai kapanpun mamah tidak akan pernah mau menerima wanita itu kembali lagi dalam hidup kamu,” ucap Fara yang sudah tidak tahan di acuhkan oleh putranya sendiri, baginya Alfa sudah sangat bodoh karena terus mau memperjuangkan hubungan mereka, sedangkan wanita itu, wanita yang telah menjadi menantunya tersebut malah dengan seenaknya ingin melenyapkan putranya.
“cukup mah! Aku tidak ingin mamah menilai istriku dengan buruk seperti itu, mamah tidak tahu bagaimana istriku, hanya aku yang mengerti dengan istriku, aku mencintainya mah, ini bukan kebodohan, dan aku yakin dia juga mencintaiku,” ucap Alfa yang tidak rela jika istrinya di nilai seenaknya oleh orang lain, termasuk ibu kandungnya sendiri.
“Apa kau sedang memperingati mamah mu ini hah? Sebelum aku tahu dia ingin membunuh putraku, aku selalu menyayangi dirinya sama seperti aku menyayangi anak-anakku, tapi kali ini, aku tidak akan percaya pada perempuan kejam itu, aku hanya mengkhawatirkan mu, aku mamah mu, aku yang melahirkan mu, apa aku salah jika aku khawatirkan anakku di bunuh oleh orang lain, apalagi orang itu merekap identitasnya sebagai istrimu, apa aku salah untuk lebih waspada lagi terhadap orang lain yang dekat dengan keluargaku, apa aku salah, cepat katakan di mana letak kesalahanku,” ucap Fara sambil terisak, membuat Alfa rasanya juga merasa bersalah pada Fara, sedangkan sekertaris Sam sudah tidak ada di ruangan itu.
“Mah, aku hanya ingin mamah percaya dengan semua pilihanku, apapun itu, sama seperti dulu, mamah selalu mendukungku, apapun pilihanku, apapun keputusan ku, mamah selalu percaya padaku, hanya itu yang aku inginkan dari mamah, apa mamah bisa sama seperti dulu lagi. Aku juga merasa sakit karena kehilangan seoeang wanita yang aku cintai, bahkan statusnya bukan lagi kekasihku, melainkan istriku, dia menyandang status dari keluarga Edison, sekarang dia pergi entah kemana, aku harap mamah bisa memaafkannya,” ucap Alfa yang juga harus memberikan pengertian pada Fara.
“Tidak, aku tidak bisa percaya pada wanita itu lagi, lihatlah dirimu sekarang, kau bahkan sampai terluka karenanya, aku belum bisa memafkannya dengan apa yang telah terjadi padamu, kau putraku satu-satunya. Kau tidak mengerti dengan keadaanku, aku takut kau pergi sama seperti ayahmu, kau putraku satu-satunya, aku hanya melindungi dirimu sebagai anakku, aku melakukan apapun agar kau selalu merasa bahagia dan tak merasakan kekurangan kasih sayang orang tua sedikitpun,” ucap Fara yang kini sudah tak bisa mengendalikan dirinya dan terus saja menangis.
“Aku mengerti dengan semua itu mah, tapi untuk kali ini, aku mohon pada mamah, berikan aku kesempatan bersama Diva, aku hanya mencintai istriku saja,” pinta Alfa pada Fara, namun, bukan malah menjawab, Fara malah pergi meninggalkan Alfa yang sedang mematung seorang diri.
“Sam!” teriak Alfa dari arah dalam ruangan, setelah kepergian Fara.
“Saya, tuan muda,” ucap sekertaris Sam yang baru saja masuk ke dalam kamar perawatan Alfa.
“Cepat urus surat kepulanganku, jangan sampai keluargaku mengetahui hal ini,” ucap Alfa bernada perintah pada sekertarisnya tersebut.
“Baik tuan muda, akan segera saya laksanakan,” ucap sekertaris Sam yang kemudian bergegas pergi dari ruangan tersebut untuk segera mengurus surat kepulangan Alfa.
...----------------...
Satu bulan kemudian ...
Di sebuah kafe mewah, seorang wanita yang sedang bolak balik mengantarkan beberapa pesanan ke meja makan pelanggan. Ya, wanita itu adalah Diva, setelah ia menetap di kota besar xx, wanita itu hanya mengandalkan tenaganya saja untuk bekerja sebagai pelayan di kafe tersebut, karena jaman sekarang, pekerjaan di persulit, apalagi dirinya tidak membawa semua berkas penting miliknya, Diva juga tidak ingin mengungkap identitas dirinya yang sebenarnya.
Dengan penampilannya yang kini sangat sederhana, pasti akan di tertawakan oleh semua orang dan di cap sebagai pembual semata jika ia mengaku dirinya adalah salah satu dari keluarga ternama dan istri dari seorang Alfa Edison Sagala, yang mempunyai kekuasaan di negaranya, maka dari itu ia lebih memilih diam dan menikmati semuanya.
Rey Xander, seorang pria pemilik kafe di mana ia bekerja, bahkan pria tampan dan terbilang masih sangat muda itu mulai tertarik padanya saat pertama kali bertemu, dan memintanya untuk memilih bekerja di bagian apa saja yang Diva inginkan, tapi Diva memilih pekerjaan yang telah di pilih sesuai kriteria yang di butuhkan saat ini, yaitu seorang pelayan.
“Tapi pak, pekerjaan saya masih banyak,” ucap Diva mencari alasan, agar semua karyawan yang lain tidak cemburu melihatnya, bahkan semua orang yang bekerja di sana sudah mengibarkan bendera permusuhan saat Diva pertama kali bekerja di sana, karena Rey selalu memberi perhatian lebih pada Diva. Hanya ada satu orang yang menjadi teman Diva, yaitu Elsa, seorang perempuan yang mempunyai profesi sama seperti dirinya, seorang pelayan.
“Tidak apa-apa, masih banyak pelayan yang lain,” ucap Rey dengan santai, membuat Diva merasa tidak nyaman dengan sikap dan perhatian Rey padanya.
“Elsa, apa kau keberatan jika aku tinggal sendiri?” tanya Diva dengan tidak enak hati pada temannya tersebut.
“Tentu saja tidak, Tasya pergilah, sebentar lagi juga istirahat makan siang,” jawab Elsa sambil tersenyum ramah pada Diva.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit,” ucap Diva yang langsung bergegas pergi menuju parkiran, karena Rey, pria itu sudah menunggunya di sana dengan tidak sabaran.
Setelah kepergian Diva, datang seorang wanita yang menjabat sebagai manajer di kafe tersebut ke arah Elsa dengan gaya angkuhnya.
“Cih! Temanmu itu mura*han sekali ya, baru di ajak makan sama bos langsung mau dan meninggalkan temannya sendirian di sini, apa kau tidak merasa di bodohi oleh wanita mura*han itu,” cibir wanita yang bernama Dessy tersebut.
“Ck! Aku rasa kau yang sudah merasa iri pada Tasya, karena kau tidak secantik dan tidak sebanding dengan Tasya, aku jadi merasa kasihan padamu, selalu mencibir orang lain, padahal dirimu sendiri, sudah seperti seorang janda beranak lima, menurutku, lebih baik kau perbaiki penampilanmu itu, bye!” ucap Elsa yang tak kalah mencibir Dessy, membuat wanita itu kesal setengah mati dengan teman Tasya.
Sedangkan Elsa, wanita itu segera pergi dari hadapan Dessy, membuat Dessy merasa terhina, tapi ia juga merasa sangat penasaran dengan Tasya, wanita yang baru saja satu bulan yang lalu bekerja di kafe itu. Wajah Diva yang sangat cantik dan bersih membuatnya penasaran dari mana wanita itu berasal, bahkan ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya di daerah sana.
Dessy sempat berpikir wanita itu adalah wanita mur*ahan dan seorang wanita penghibur, karena bisa membiayai perawatan kulitnya, padahal memang Diva sudah cantik dari awal.
“Suatu saat nanti, aku akan mengehtahui identitas mu yang asli, dan akan aku bongkar kepada semua orang, aku ingin melihat kau hancur dan terpuruk karena hinaan dan cemoohan, untuk seorang wanita pengh*ibur seperti dirimu,” gumam Dessy sambil menampilkan senyum smirknya.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.