
Selamat membaca ...
“Emm,” jawab Diva bingung harus menjawab apa pada adik iparnya tersebut.
“Untuk apa kau bertanya seperti itu pada kakak iparmu, tentu saja karena aku tampan,” Alfa menyela Diva untuk menjawab pertanyaan adiknya tersebut dengan sangat percaya diri.
“Benarkah?” tanya Ana penuh selidik ke arah Diva, yang mana membuat Diva menjadi gelagapan.
“Be- benar, aku menyukai kakak mu karena dia adalah pria idaman ku,” jawab Diva terbata, ia bingung harus menjawab adik iparnya yang sangat besar rasa ingin tahunya.
“Aku rasa kakak ipar memang sangat cocok dengan kakak ku yang paling tampan, tapi aku baru tahu jika kakak yang dingin dan terlihat seperti tidak menyukai wanita akhirnya mau menikah dengan kakak ipar idolaku,” ucap Ana dengan sangat polos, membuat Alfa hanya memutar bola matanya malas menanggapi sang adik tercinta. Sedangkan, Diva hanya diam tak ingin menanggapi orang-orang yang membuatnya kesal.
“Sayang, apa kamu cape?” tanya Fara yang baru saja datang ke arah sepasang pengantin tersebut.
“Iya mah, sepertinya istriku kelelahan, aku akan mengajaknya beristirahat lebih dulu,” ucap Alfa pada Fara.
“Kakak, jangan terlalu membuat kakak ipar kelelahan ya, aku takut kakak akan membuat kakak ipar tidak bisa berjalan besok,” ucap Ana dengan santai, sontak saja Diva membulatkan matanya sempurna, saat mendengar penuturan adik iparnya yang vulgar tanpa di saring terlebih dahulu, dan jangan lupakan wajahnya yang sudah memerah bagai kepiting rebus.
“Sudah, jangan menggoda kakak iparmu lagi,” ucap Fara yang melihat wajah menantunya seperti menahan rasa malu yang amat besar hingga membuat wajah cantiknya merah merona.
“Iya mah, maaf ya kakak ipar,” ucap Ana meminta maaf merasa bersalah karena sudah menggoda kakak iparnya, yang di jawab hanya sebuah anggukan dan senyuman manis oleh Diva.
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarkan istriku dulu, aku akan segera kembali,” ucap Alfa pada Fara dan Ana.
Setelah percakapan yang tidak berfaedah itu, Alfa langsung mengantarkan Diva ke kamar pengantin yang sudah di siapkan oleh Fara dan Ana di hotel berbintang tersebut.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, kini Alfa dan Diva sudah sampai di kamar mereka, kamar yang sudah di dekor sedemikian rupa, megah dan mewah sudah tak perlu di ragukan lagi, bunga mawar di atas tempat tidur yang berukuran king size dengan bentuk love, lilin yang menghiasi setiap sudut ruangan, membuat kesan yang sangat romantis.
“Kita tidak perlu berpura-pura saling mencintai lagi jika hanya ada kita berdua, jadi tolong lepaskan tangan ku sekarang juga,” ucap Diva dengan ketus sambil menatap tajam ke arah Alfa.
“Kenapa harus, bukankah sudah jelas, kau harus menerima diriku, jangan pernah coba untuk bisa lari dariku, atau kau akan tahu akibatnya,” ancam Alfa yang sangat kesal saat wanita yang ia nikahi itu tidak mau menyerah sedikitpun untuk menolak dirinya.
“Ternyata kau tidak mau menyerah dengan keputusan mu, harus dengan apa aku menaklukan dirimu, apa kekurangan ku untuk mu, aku punya banyak uang dan materi lainnya, aku tampan, aku juga punya kekuasaan dan kedudukan yang tinggi, apa kurangnya aku untukmu, apa kau sudah punya pria lain di hatimu, tapi meskipun sulit untukmu menerima diriku, aku tidak akan mudah menyerah, siapapun pria yang kau cintai selain aku, akan aku singkirkan untuk pernikahan kita,” lanjut Alfa geram dengan sikap wanita keras kepala tersebut dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk meluluhkan istrinya.
“Cih! Apa kau bisa, tidak menggunakan ancaman mu yang murahan itu untuk menahan ku di neraka pernikahan ini, kau memang pria yang sangat egois,” ucap Diva menekan setiap kalimat yang ia ucapkan, bahkan tatapannya penuh dengan kebencian pada pria tampan yang sekarang sudah menjadi suaminya.
“Kalau begitu aku tidak akan sungkan untuk membunuh dirimu,” ucap Diva sambil tersenyum smirk ke arah Alfa.
Cuupp
Tanpa menjawab apapun, Alfa langsung menarik teng*kuk milik wanita cantik itu dan tanpa aba-aba, ia langsung menyambar bibir mungil milik istrinya tersebut, melu*matnya dengan sangat rak*us, tanpa mempedulikan Diva yang terus membrontak.
Tangan kekarnya yang tidak bisa diam dan terus memeluk sambil terus mer*aba apa yang ia bisa jangkau dengan tangannya yang kekar, bahkan pria itu sudah mendapatkan dan mere*mas gunung himalaya yang katanya besar, namun gunung himalaya yang Alfa pegang sungguh sangat pas dalam genggaman tangannya, merasa tubuhnya yang sudah sangat panas, pria itu langsung menghentikan aksinya yang luar biasa, dengan napas yang terengah-engah.
Cuupp, cuuup, cuup, cuup
Alfa menge*cup kening, pipi kanan, pipi kiri dan yang yang terakhir menge*cup bibir Diva yang sudah merah dan sedikit bengkak akibat ulahnya dengan singkat, lalu ia memperhatikan wajah Diva yang sudah memerah bagai kepiting rebus, dan ia juga memperhatikan bibir wanita cantik yang kini sudah menjadi istrinya tersebut dengan intens, dan hal itu membuat Diva ingin sekali menenggelamkan dirinya sendiri dalam lautan, bibir yang memerah dan sedikit membengkak, membuat Alfa puas dengan tindakannya sendiri dan tersenyum penuh kemenangan.
‘Aku akan membuatmu terbiasa dengan sentuhan ku, aku akan membuatmu mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu, lihatlah wajahmu yang sangat merah karena malu, aku tidak percaya jika aku sendiri tidak melihatnya, namun sekarang aku percaya karena aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, dan kau sangat menggemaskan,’ batin Alfa sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Lepaskan aku!” bentak Diva yang sudah tidak tahan dengan pria yang sangat kurang ajar terhadap dirinya, membuat Alfa tersenyum lalu membungkuk untuk membisikan sesuatu pada wanita cantik itu.
“Apa kau merasa malu, aku pikir kau juga sedikit menikmatinya tadi, saat aku sedang menjelajah gunung himalaya yang sangat indah itu,” bisik Alfa di telinga Diva dengan nada sensual, membuat wajah Diva semakin memerah karena malu.
‘Dasar, pria kurang ajar, kenapa aku sangat bodoh dan mudah terbuai dengan sentuhan pria itu, sungguh menjijikan,’ batin Diva yang merutuki kebodohannya.
“Hentikan omong kosongmu, cepat pergi dari sini!” ucap Diva yang sedikit membentak, ia sudah tahan karena malu, bahkan ia tak berani menatap pria tampan itu dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Baiklah, aku akan keluar sebentar, sebaiknya kau segera istirahat, aku tidak mau kau kelelahan saat pertempuran yang sesungguhnya akan kita lakukan, jangan merindukan aku ya sayang,” ucap Alfa dengan sangat percaya diri, yang mana membuat Diva semakin mendengus kesal dengan ucapan pria yang kini sudah menjadi suaminya tersebut tanpa di saring terlebih dahulu.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.