Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 17



Selamat membaca ...


“Cih! Dasar peng*ecut, berani bertindak saat lawan lengah saja, besok aku akan ke kantor, seperti biasa, kau jemput aku,” ucap Alfa bernada memerintah pada sekertaris Sam.


“Baik, tuan muda,” ucap sekertaris Sam patuh.


“Sebaiknya kau cepat kembali ke perusahaan, sebelum tikus kecil itu berbuat ulah lagi, aku akan beristirahat untuk memulihkan kembali stamina ku yang hilang karena kau sudah mengganggu ku,” ucap Alfa ketus pada pria yang tidak tahu menahu di mana letak kesalahannya.


‘Apa tuan muda sekarang sudah tercemar virus cinta, aku pernah dengar dari para karyawan di kantor, jika orang yang sedang di mabuk cinta itu akan bodoh, aku rasa cinta itu memang harus di jauhi karena sebuah virus yang mematikan,’ batin sekertaris Sam yang tidak tahu apa-apa soal cinta, jadi pria dingin dan datar itu menyimpulkan seperti yang ada di otaknya saja.


“Baik tuan muda, saya akan segera kembali ke kantor, kalau begitu saya permisi,” ucap sekertaris Sam sambil beranjak dari tempat duduknya dan membungkuk hormat pada sang tuan muda, yang kemudian bergegas pergi meninggalkan sang tuan muda seorang diri di dalam sana.


Setelah kepergian sekeraris Sam, Alfa pun kembali ke kamarnya, ia ingin melihat keadaan sang istri, meskipun ia tahu bahwa istrinya akan baik-baik saja, yang terpenting sekarang ia harus bisa mengontrol emosinya saat istrinya sengaja memancingnya.


...----------------...


Ceklekkk!


Alfa membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, takut jika ia membangunkan sang istri, dengan langkah perlahan ia menuju tempat tidur di mana sang istri berada, dengan hati-hati Alfa menaiki tempat tidur di samping istrinya, sungguh ia ingin mempunyai keluarga yang hangat seperti keluarganya dulu, namun wanita yang ia cintai bahkan tidak mau meliriknya sama sekali.


Alfa kemudian memeluk Diva dari arah belakang, wanita itu sama sekali tidak terusik, dan itu membuat Alfa dengan leluasa memeluknya.


“Enghhh,” terdengar suara lenguhan wanita cantik tersebut. Mungkin karena merasakan sesuatu yang memasuki pakaian atasnya.


“Alfa, keluarkan tangan mu dari dalam baju ku,” ucap Diva dengan suara serak khas bangun tidur, bahkan wanita cantik itu belum cukup bertenaga untuk bertengkar dengar suaminya, meninggikan suaranya saja wanita itu sudah malas.


“Sayang, besok aku akan mulai masuk kerja, jadi biarkan kita menikmatinya sebentar, oke,” pinta Alfa yang masih menggerayangi gunung himalaya yang indah dan kenyal itu.


Karena Diva merasa malas, wanita itu hanya membiarkan suaminya bermain-main dengannya, lagipula ia berpikir akan segera menyingkirkan pria gila yang sudah menikahinya dengan sebuah ancaman.


‘Cepat atau lambat, aku pasti akan bisa terlepas dari pernikahan gila ini,’ gerutu Diva dalam hati sambil menahan gejolak aneh yang ada dalam tubuhnya.


“Pelan-pelan sedikit, apa kau ingin salah satu bagian tubuhku rusak!” bentak Diva saat merasakan gunung himalaya yang ia jaga kini sedang di re*mas dengan sangat kuat.


“Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud menyakiti dirimu, lagipula mana mungkin aku mau merusak buah kesukaan ku ini,” ucap Alfa dengan santai sambil terus meremas sesuatu yang ada di balik pakaian wanita itu, namun sekarang jauh lebih lembut.


...----------------...


Tak terasa hingga waktu menjelang makan siang, Diva dan Alfa malah ketiduran karena kelelahan bedebat di atas tempat tidur, Alfa yang baru saja tangannya diam dari balik pakaian diva akhirnya tertidur.


Tokkk tokk tokkk.


Hingga suara ketukan pintu dari arah luar membangunkan Diva.


Ceklekk.


“Sayang, di mana suami mu?” tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Fara.


“Alfa sedang tidur mah,” jawab Diva yang membuat Fara mengernyitkan dahinya heran dengan panggilan menantu terhadap putranya, yang sama sekali tidak terdengar romantis.


“Panggil suami dengan sebutan romantis dong sayang, kalian tidak usah malu pada mamah,” pinta Fara yang tidak mau berpikir jauh lagi.


“Ya sudah, kamu bangunkan suami mu itu, ayo kita makan siang dulu, tunda dulu kegiatannya,” ucap Fara sambil menatap menantunya dengan tatapan menggoda, dan itu membuat wajah Diva memerah bagai udang rebus karena menahan malu.


Setelah Fara kembali, Diva langsung membangunkan Alfa agar bersiap untuk turun dengannya.


“Sayang, apa aku sudah tampan?” tanya Alfa dengan asal karena Diva selalu diam jika bersamanya.


‘Hei, apa dia benar-benar sedang bertanya tentang kadar ketampanannya, apa dia sudah buta, orang bodoh juga sudah pasti tahu kalau dia sangat tampan, apa dia hanya mau mengujiku, eh! Apa tadi aku secara tidak sadar sedang memuji dirinya, bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku malah memuji pria gila ini,’ gerutu Diva dalam hati merutuki kebodohannya.


“Biasa saja,” jawab Diva sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, agar Alfa tidak melihat wajahnya yang sudah memerah menahan malu.


Setelah selesai bersiap, mereka langsung turun untuk makan siang bersama, hanya ada Alfa, Diva, Fara dan Ana, mereka makan dengan keheningan tanpa ada yang berani mengatakan apapun.


...----------------...


Tak butuh waktu lama, kini mereka telah selesai dengan makan siang mereka, tapi kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


“Sayang, kapan kalian akan berbulan madu?” tanya Fara pada putranya.


“Aku rasa kami akan menunda bulan madu, ada urusan mendadak di perusahaan,” jawab Alfa yang memang akan mengurus perusahaan terlebih dahulu.


“Tapi, bukankah ada sekertaris Sam yang sudah mengurus perusahaan?” tanya Fara yang merasa ada yang aneh.


“Tidak mah, masalah ini harus aku yang turun tangan sendiri,” ucap Alfa dengan tegas tanpa bantahan.


“Baiklah jika itu memang yang terbaik, tapi bagaimana dengan pendapat istrimu?” tanya Fara pada Alfa.


“Aku tidak keberatan kok mah, aku akan menunggu urusan suamiku sampai selesai,” jawab Diva mendahului Alfa.


“Baiklah, sebaiknya kalian beristirahat dan menikmati waktu kalian bersama, mamah mau ke belakang,” ucap Fara yang bangkit dari tempat duduknya dan segara pergi dari sana, begitu juga Ana.


...----------------...


Setelah bubar dari ruang keluarga, kini Diva dan Alfa kembali ke kamar mereka, tak butuh waktu lama mereka sampai di kamar, Diva yang dari tadi hanya diam tak bersuara jika tidak di tanya, kini akhirnya mau membuka mulutnya untuk bertanya pada sang suami.


“Aku hanya ingin kita hidup masing-masing, aku tidak mau jika ada orang lain ikut campur dalam kehidupanku, apa kau keberatan?” tanya Diva dengan datar, membuat Alfa terkekeh saat mendengar pertanyaan bodoh sang istri.


“Aku bukan orang lain, aku ini suami mu, tentu saja aku keberatan dengan semuanya,” jawab Alfa santai.


“Tapi bagiku kau adalah pria yang egois yang sudah menghancurkan mimpi dan hidupku, apa aku masih perlu bertanya pada orang seperti dirimu, harusnya aku tidak perlu memiinta pendapatmu kembali,” ucap Diva geram dengan jawaban sang suami, dan langsung pergi ke tempat tidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


...****************...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.