
Selamat membaca ...
Di sisi lain, di sebuah restauran yang jauh lebih besar, Rey sengaja membawa Tasya ke Restauran yang cukup jauh dari lokasi kafe miliknya, sedangkan Tasya, wanita itu hanya diam dalam kebingungan dan rasa penasarannya, tapi wanita itu tidak berani untuk menanyakan hal itu.
Perjalanan yang cukup hening, tak ada obrolan yang ada di dalam mobil tersebut, kedua orang itu malah asik sendiri dengan pikiran masing-masing, rasa canggung yang meliputi Tasya, membuat dirinya merasa tak nyaman dengan pria yang sedang mengemudi di sampingnya tersebut.
“Ehmm, Tasya, apa selama ini kau tinggal sendirian?” tanya Rey memecah keheningan.
“Eh, iya pak, saya tinggal sendirian di kota ini,” jawab Tasya dengan seadanya, sungguh ia merasa sangat tidak nyaman dengan pria itu.
“Sudah sampai, tunggu di sini,” ucap Rey yang bernada perintah, membuat Tasya mau tak mau harus menuruti apa yang bosnya perintahkan.
Sedangkan Rey, pria itu memutar arah untuk membukakan pintu mobil untuk Tasya. Merasa tidak enak, itulah yang Tasya rasakan saat ini.
...----------------...
Tak butuh waktu lama, kini Tasya dan Rey sudah ada di meja makan yang dekat dengan jendela, agar bisa melihat pemandangan ke arah luar, mereka segera memesan makanan dan menunggunya beberapa saat, hingga seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka di atas nampan.
Namun, saat Tasya mencium aroma yang menusuk di indera penciumannya, ia merasa perutnya seperti sedang bergejolak seakan minta untuk di keluarkan.
Melihat raut wajah wanita yang ada di hadapannya tersebut, Rey sedikit keheranan dengan wanita itu, pasalnya tadi wanita itu terlihat baik-baik saja.
“Tasya, apa kamu baik-baik saja?” tanya Rey yang khawatir dengan keadaan wanita cantik tersebut.
“Pak, saya izin ke toilet sebentar,” ucap Tasya yang langsung pergi dengan tergesa-gesa tanpa menunggu jawaban Rey, membuat pria itu semakin keheranan.
Tasya yang merasa perutnya seperti di aduk-aduk dan segera ingin di keluarkan sudah tidak tahan untuk memuntahkan isi perutnya tersebut.
Hooeeekk! Hooeeek! Hoeeekk!
Diva memuntahkan cairan dari isi perutnya, sampai wanita itu merasa lemas dan tak bertenaga, ia juga merasa heran dengan keadaannya yang mudah mual saat mencium aroma makanan.
“Astaga, kenapa aku masih merasa mual, apa aku masuk angin ya, karena tadi pagi tidak sarapan, hmm, mungkin hanya masuk angin biasa,” gumam Tasya yang langsung membasuh wajahnya agar tidak terlihat pucat dan segera kembali ke meja makan, karena ia juga merasa tidak enak hati pada pria yang sudah lama menunggu dirinya.
Tak butuh waktu lama, wanita itu sudah kembali ke meja makan tersebut, ia menemukan pria itu masih tak bergeming dari sana, bahkan makanannya pun masih utuh belum di sentuh sama sekali, karena menunggu Tasya.
“Pak, maaf sudah membuat Bapak menunggu lama,” ucap Tasya yang tak enak hati dan merasa sangat bersalah.
“Tidak apa-apa, aku sangat mengkhawatirkan dirimu, apa kau baik-baik saja, wajahmu juga sangat pucat, apa perlu kita pergi ke rumah sakit untuk periksa?” tanya Rey yang begitu khawatir pada wanita yang ada di hadapannya tersebut.
“Tidak pak, tidak perlu, mungkin ini hanya masuk angin biasa, karena tadi pagi telat sarapan saja,” jawab Tasya dengan cepat, ia tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi pada pria yang baik seperti Rey.
“Apa kau sudah lupa, jangan panggil aku pak, jika kita sedang berdua seperti ini dan sedang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan, atau aku akan memotong gajimu,” ucap Rey bernada ancaman, karena ia tidak ingin ada jarak antara atasan dan bawahan, ia ingin mendekati Tasya dan memiliki hubungan yang serius dengan wanita itu, meskipun ia tahu, itu akan sangat sulit baginya.
“Baik pak, eh, maksud saya Rey,” ucap Tasya dengan patuh, meskipun ia merasa tak nyaman, tapi ia juga tidak ingin memperbesar hal sekecil ini.
“Rey, apa saya boleh, mengganti menu makan saya,” pinta Tasya yang masih saja menggunakan kata formal untuk dirinya sendiri, membuat Rey semakin tertarik dengan wanita itu.
“Kau ini sangat lucu, kau masih bisa memanggil namaku, tapi kau masih saja menggunakan bahasa formal untuk dirimu sendiri, anggap saja kita teman, bagaimana,” ucap Rey sambil di selingi dengan kekehan yang begitu tampan saat melihatnya.
“Baiklah, Rey, apa aku boleh menggantinya, nanti akan aku bayar sendiri kok,” ucap Tasya yang semakin membuat Rey terkekeh mendengar permintaan wanita tersebut.
“Baiklah, kau tidak perlu merasa canggung seperti itu, kau boleh memesan apapun yang kau sukai,” jawab Rey sambil tersenyum manis ke arah Tasya, membuat wanita itu langsung memalingkan wajahnya karena malu.
Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah selesai dengan acara makan siang mereka, dan akan segera kembali ke kafe milik Rey.
“Tasya, apa kau yakin mau kembali ke kafe?” tanya Rey saat dalam perjalanan pulang, ia khawatir dengan keadaan wanita yang ada di sampingnya tersebut, wajahnya yang pucat dan tubuhnya terlihat sangat lemas.
“Baiklah, tapi jika kau sudah tidak kuat, jangan di paksakan lagi ya,” pinta Rey dengan lembut pada Tasya, membuat wanita itu semakin merasa tak enak hati pada pria itu.
Rey memang lebih muda dari dan lebih lembut daripada Alfa, tapi entah kenapa, ia lebih nyaman dengan sikap Alfa padanya, cenderung posesif dan keras kepala. Sampai saat ini, ia masih belum bisa melupakan pria itu, bayangan saat-saat bersamanya, membuat Tasya sangat sulit untuk melepaskannya, apalagi saat ini hubungannya dengan Alfa belum berakhir dan masih berstatus istri dari Alfa Edison Sagala.
‘Aku harus mengakhiri semuanya, aku akan menceraikan dia, mungkin saja saat ini Alfa sudah bahagia dengan Dara, aku tidak ingin menghancurkan kehidupannya lagi, semua orang sudah membenciku, tapi apakah mereka tak ingin mencariku, apakah Mommy dan Daddy belum tahu, Mira, semoga kalian bisa memaafkan aku setelah mengetahui keputusanku yang sangat egois ini, aku hancur karena ambisi ku yang gila, sekarang aku sadar, tidak ada seorang istri yang ingin meninggalkan suaminya, disaat suaminya sendiri memperlakukan istrinya bagai seorang ratu, yah, aku adalah wanita terbodoh di dunia ini, maafkan aku, mungkin aku tidak akan pernah kembali ke sisi kalian lagi,’ batin Tasya yang menyesali perbuatannya dan merutuki kebodohannya.
Rey yang melihat Tasya sedang melamun, mengira wanita itu benar-benar sakit, tapi ia melihat lelehan air mata yang mengalir dari sudut mata wanita tersebut.
“Tasya, apa yang terjadi padamu?” tanya Rey yang membuat Tasya terlonjak kaget karena mendengar pertanyaan yang tiba-tiba dari pria tersebut.
“Eh, aku baik-baik saja, mataku terasa pedas saja, apakah kita sudah sampai?” tanya Tasya yang baru saja menyadari dirinya sudah ada di parkiran kafe di mana ia bekerja.
“Kita sudah sampai dari tadi, aku pikir kau masih betah bersamaku di sini, makanya aku tidak memberi tahumu,” ucap Rey yang sedikit menggoda wanita tersebut, membuat Tasya malu dan merasa ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dasar lautan.
Tak butuh waktu lama, Tasya sudah kembali ke tempatnya bekerja, di sana sudah ada temannya yang melambaikan tangannya, siapa lagi jika bukan Elsa.
“Tasya, bagaimana makan siang pak bos?” tanya Elsa dengan rasa ingin tahunya sambil menatap Tasya dengan tatapan menggoda.
“Apa yang kau tanyakan, tidak terjadi apa-apa, memang apa yang aku harapkan,” jawab Tasya dengan cuek dan tak tertarik sedikitpun.
“Apa kau tidak menyadarinya sama sekali?” tanya Elsa lagi.
“Menyadari apa lagi, aku rasa, aku sudah terlalu banyak berpikir,” jawab Tasya dengan malas.
“Menyadari kalau pak Rey itu mempunyai perasaan padamu,” ucap Elsa semakin mencecar Tasya.
“Semua orang juga mempunyai perasaan,” ucap Tasya seadanya, ia juga mengerti dengan apa yang Elsa maksud, namun ia tidak ingin menanggapinya, karena bagaimana pun ia masih berstatus istri orang lain.
“Astaga, Tasya, kamu ini benar-benar polos sekali, maksud aku itu, pak Rey tertarik denganmu, apa kau tidak sadar, sebelum ada kamu, pak Rey itu jarang sekali menginjakkan kakinya ke kafe ini, soalnya pak Rey juga mempunyai perusahaan besar di pusat kota ini,” ucap Elsa yang semakin bersemangat saat menceritakan tentang pria muda dan tampan tersebut.
“Benarkah, tapi aku tidak yakin, lagipula, untuk apa pak Rey tertarik padaku, aku hanya wanita biasa dan tidak sebanding dengannya, aku tidak mau berharap pada pria manapun,” ucap Tasya dengan sangat malas membuat Elsa memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
“Terserah padamu saja, kalau aku jadi kamu, sudah pasti aku akan sangat senang di dekati pria tampan dan mapan seperti pak Rey, sayang sekali pak Rey tidak pernah melirikku sama sekali, meskipun pak Rey melirik diriku, karena aku berteman denganmu saja,” ucap Elsa sambil cemberut dan berpura-pura kesal, membuat Tasya terkekeh melihat wanita itu.
“Apa kau menyukainya?” tanya Tasya dengan tatapan menggoda pada Elsa.
“Aku juga tidak mau berharap lebih,” jawab Elsa sambil terkekeh, membuat keduanya tertawa bersama, hingga saatnya mereka kembali bekerja.
Hari ini pelanggan cukup banyak dan sedikit membuat para karyawan harus gerak cepat, banyak dari para pelanggan yang melirik Tasya karena kecantikannya, hingga ada yang sengaja mampir ke kafe tersebut hanya untuk menemui pelayan cantik, tak sedikit juga dari mereka yang menggoda Tasya, namun Tasya hanya cuek saja dan tidak pernah menanggapi mereka, bahkan jika ada yang berani berbuat lebih, Tasya langsung menghajar mereka, karena ia juga memilik sedikit ilmu bela diri, yang ia pelajari dari sahabatnya untuk membunuh suaminya dulu.
‘Astaga, kenapa aku merasa pusing lagi, apakah karena terlalu banyak pekerjaan hari ini, tapi aku harus kuat, sebentar lagi juga pulang,’ batin Tasya yang merasa sangat pusing, dan wajahnya juga terlihat semakin pucat.
“Tasya, apa kau baik-baik saja?” tanya Elsa khawatir pada sahabatnya yang telihat sangat pucat tersebut.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.
Semoga karya ini bisa cepat tamat dalam beberapa hari lagi, dan Mimin akan melanjutkan kisah SekRoy. dukungan kalian sangat berharga bagi penulis remahan seperti Mimin, terima kasih.