Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 33



Selamat membaca ...


“Sayang, kau sudah sangat rapih, apa kau sudah bangun dari tadi, hum?” tanya Alfa pada istrinya terlihat gugup.


Pria itu membawa nampan yang berisi makanan untuk sarapan istrinya, lalu ia segera meletakan nampan tersebut di atas nakas yang yang ada di samping tempat tidur tersebut dan berjalan mendekati sang istri.


“Kenapa kau melamun?” tanya Alfa kembali saat tidak menadapat jawaban sebelumnya.


“Bukan urusanmu,” jawab Diva dingin dan segera meraih tas kecil miliknya untuk segera pergi keluar, namun dengan cepat pria tampan tersebut mencegah dan meraih tangan Diva.


“Kau mau pergi kemana?” tanya Alfa menatap Diva dengan tatapan mengintimidasi, namun Diva sama sekali tak menggubris pertanyaan dari suaminya, bahkan wanita cantik itu terlihat menantang.


“Bukan urusanmu, urus saja dirimu sendiri,” jawab Diva dengan tatapan sinisnya.


“Hhaahh, tapi kau belum sarapan,” ucap Alfa dengan menghela napas panjang, sambil melirik makanan yang sudah ia bawa.


“Kau tidak perlu mencemaskan aku, aku bisa menjaga diriku sendiri, bahkan jauh lebih baik daripada siapapun,” ucap Diva dengan tegas sambil menatap suaminya dengan tatapan tajam.


Grepp!


Alfa memeluk tubuh wanita cantik itu dengan sangat erat, hingga membuat Diva merasa sesak.


“Aku mohon jangan meninggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu disisi ku, aku mohon,” ucap Alfa dengan lirih sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher indah istrinya.


‘Ku mohon jangan seperti ini, aku sebagai wanita terhormat tidak ingin menghalangi dua orang yang saling mencintai, meskipun statusku sebagai seorang istri, tapi aku tidak berharga di kehidupan mu, aku tidak akan pernah meminta mu untuk selalu bersama ku, aku juga tidak akan pernah mengemis apapun darimu, meskipun kita bercerai, aku tidak akan pernah mau menerima harta darimu sepeserpun, bukan aku tidak ingin mempertahankan pernikahan ini, tapi dari awal memang hubungan kita tidak pernah baik,’ batin Diva sambil memejamkan matanya untuk menahan cairan bening yang ada di pelupuk matanya, berpisah adalah jalan satu-satunya.


“Ceraikan aku,” ucap Diva dengan tegas, wanita itu sama sekali tetap teguh pada pendiriannya, membuat Alfa semakin frustasi saat mendengarnya.


“Kau belum sarapan, makanya kau menjadi mudah emosi, sebaiknya kau sarapan dulu, sayang. Aku akan menyuapi dirimu,” ucap Alfa mengalihkan topik utama pembicaraan dan menarik tangan Diva agar mengikutinya untuk duduk di atas tempat tidur, namun Diva dengan cepat menepis tangan Alfa dengan sangat kasar.


Plakk!


Diva menampar pipi Alfa dengan sangat keras, membuat Alfa sedikit merasakan panas di pipinya, namun itu tak sebanding dengan rasa sakit hatinya.


“Apa kau cukup tidak tahu malu, hah! Kau adalah pria yang paling bren*gsek yang pernah aku temui, kau seorang baj*ingan, kau pecundang hebat!” bentak Diva yang tidak bisa menahan api amarah dalam dirinya. Alfa yang tahu dengan tempramen istrinya, kini berusaha menenangkan dan berusaha mengendalikan emosinya agar tidak terpancing dan malah akan memperkeruh suasana.


“Aku akan melakukan apapun, asal kau tidak akan meminta cerai dariku, aku mohon,” ucap Alfa berusaha keras untuk membujuk istrinya yang sangat keras kepala itu sambil memeluk tubuh wanita tersebut, ia sampai merasakan napas wanita itu naik turun dengan cepat akibat emosinya yang meluap-luap.


“Aku ingin pindah ke apartemen,” ucap Diva dingin, membuat Alfa akhirnya bisa bernapas lega, karena sang istri mau dibujuk.


“Apa kau merasa tidak nyaman di rumah ini?” tanya Alfa dengan lembut sambil menatap wajah istrinya yang sudah tak berekspresi.


“Apa aku mengizinkan mu untuk bertanya?” tanya Diva dengan datar, dengan pandangan lurus ke depan tanpa ekspresi.


“Baiklah, aku akan menyiapkan apartemen milikku dengan segera, kapan kita akan pindah?” tanya Alfa dengan sangat antusias.


“Aku tidak butuh apartemen milikmu, karena aku akan memilih apartemen yang aku sukai, kecuali milik perusahaan Edison. Dan kau harus ingat, aku akan pindah seorang diri, aku ingin berpisah atap denganmu,” jawab Diva dengan dingin, bahkan ia tidak merasa bersalah sedikitpun saat melihat raut wajah pria yang ada di hadapannya sudah berubah menjadi dingin.


“Apa maksudmu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu, meskipun itu hanya untuk pisah atap saja,” ucap Alfa dengan tegas sambil menatap istrinya dengan sangat tajam.


“Aku tidak akan pernah membiarkan mu mati sebelum kau menerima diriku,” jawab Alfa dengan tegas.


“Aku sudah menerima dirimu, jadi biarkan aku mati,” ucap Diva dengan dingin, sungguh ia merasa lelah dengan kehidupannya.


“Aku akan memutuskannya setelah kau memakan sarapan mu,” jawab Alfa yang kini sudah membawa Diva duduk di atas tempat tidur.


“Aku ingin pulang,” ucap Diva di sela-sela makannya, sedangkan Alfa yang sedang menyuapi istrinya tersebut tersenyum manis saat keadaan istrinya sudah menjadi lebih baik, ia bisa membedakannya karena nada suaranya yang mulai lembut kembali.


“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana, sambil berangkat ke kantor,” ucap Alfa sambil menyendokan makanan ke dalam mulut istrinya.


“Tidak perlu, aku bisa kesana sendiri, kenapa hari ini berangkat siang?” tanya Diva yang membuat Alfa senang, karena setidaknya wanita itu masih peduli padanya.


“Bagaimana bisa aku berangkat ke kantor, sedangkan istriku masih tertidur dan marah padaku, aku tahu pasti istriku tidak akan sarapan jika aku tidak memaksanya, kalau begitu aku akan menyuruh pak Jay mengantarmu,” jawab Alfa sambil tersenyum manis.


“Tidak perlu, aku akan menaiki taksi online saja, lagipula aku akan mengambil semua fasilitas yang aku milik sebelum menikah, aku akan memakainya kembali,” sergah Diva dengan cepat, sampai kapanpun ia tidak akan memakai fasilitas dari suaminya tersebut, karena bagi Diva, semua itu seperti alat tukar dirinya dengan barang-barang tersebut.


“Apa aku tidak salah dengar, kau akan memakai kembali semua fasilitas milikmu, apa kau tidak akan memakai fasilitas yang aku berikan padamu?” tanya Alfa dengan tatapan penuh selidik.


“Tidak,” jawab Diva singkat.


“Apa kau mempunyai maksud lain?” tanya Alfa yang tak puas dengan jawab yang di berikan istrinya tersebut, bahkan ia menatap wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan mengintimidasi.


“Kau sudah terlalu banyak bertanya, sebaiknya ceraikan saja aku, jika memang kau merasa terganggu dengan semua sikapku,” ucap Diva yang kembali mengucapka kata-kata yang paling Alfa hindari.


“Hahh, baiklah, kau boleh melakukan apapun sesuka hatimu,” ucap Alfa yang akirnya mengalah untuk saat ini, ia hanya perlu menunggu istrinya membaik saja untuk mengambil keputusan yang tepat.


“Jadi apa jawaban tadi?” tanya Diva yang menagih janji pada suaminya.


“Aku izinkan, asal aku boleh ke apartemenmu setiap akhir pekan, aku juga akan pindah dari rumah ini agar mamah tidak curiga, apa kau mengerti?” tanya Alfa pada istrinya, sungguh itu adalah keputusan terberat baginya untuk berpisah dengan wanita yang telah mengisi hari-harinya selama ini.


“Hmm, baiklah, apa kau akan tinggal di apartemen milikmu, apartemen yang mana?” tanya Diva pada pria yang ada di hadapannya, ia harus bisa menghindari lokasi yang dekat dengan suaminya.


“Tentu saja yang apartemen yang dekat lokasi perusahaan ku,” jawab Alfa dengan yakin, membuat Diva akhirnya bisa bernapas lega.


‘Sebegitu bencikah kau hingga tidak ingin aku dekat dengan dirimu, tapi aku Alfa Edison Sagala, tidak akan mudah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku, termasuk dirimu,’ batin Alfa dengan tersenyum licik di dalam hatinya.


...****************...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.


Don't judge me please!