Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 7



Selamat membaca ...


“Diva masih kesal Momm, karena dia meminta untuk segera menikah, lalu kami memutuskan untuk segera melanjutkan hubungan kami ke arah yang lebih serius, ke jenjang pernikahan, tapi tentu saja kami juga membutuhkan restu Mommy dan Daddy, apa Mommy dan Daddy setuju dengan keputusan kami?” tanya Alfa yang yakin dengan restu kedua orang Diva, bahkan ia sudah fasih memanggil Devan dan Via dengan sebutan Mommy and Daddy.


“Sayang, akhirnya putri kita mau menikah juga, setelah kita menawarkan banyak pria untuknya, pantas saja di selalu menolaknya, ternyata dia punya kekasih yang sangat tampan,” ucap Via dengan penuh semangat dan mata yang berbinar saat mendengar penuturan dari pria yang akan menjadi menantunya tersebut.


Sedangkan, Alfa merasa sangat geram saat mendengar penuturan sang calon mertua, yang menawarkan banyak pria untuk wanita yang sangat ia cintai, namun ia segera bernapas lega saat tahu jika Diva menolaknya.


“Benar sayang, akhirnya kita akan segera menimang cucu,” ucap Devan dengan bodohnya, tapi itu membuat alfa tersenyum lebar saat mendengar hal itu.


“Jadi kalian setuju dengan keputusan kami?” tanya Alfa meyakinkan.


“Tentu saja kami setuju,” ucap Via dengan senang.


“Jadi kapan kamu akan melamar putriku?” tanya Devan dengan serius sambil menatap Alfa dengan meneliti.


“Besok lusa Dadd,” jawab Alfa dengan tegas.


“Baiklah jika itu memang keputusan mu, kami akan menunggu kepastian mu melamar putri kami, dia memang agak keras kepala, apa kau tidak akan menyesal di kemudian hari?” tanya Devan dengan serius, karena bagaimana pun ia harus tetap memastikan kebahagiaan putri tunggalnya.


“Tentu saja Momm, Dadd, aku sudah siap dengan segala resikonya, karena saya begitu mencintai Diva dengan tulus dan dengan cara saya sendiri,” jawab Alfa dengan tegas, karena ia juga tahu jika Diva tidak akan pernah menerima dirinya, apalagi dengan pernikahan ini, maka dari itu, ia akan memaksa wanita cantik itu untuk menerima dirinya, suka atau tidak, yang penting wanita yang ia cintai tetap menjadi miliknya seorang.


Setelah percakapan antara calon menantu dan calon mertua selesai, Alfa segera pulang dengan membawa senyuman yang sangat menawan, yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun, hanya orang-orang terdekatnya saja yang bisa melihat senyuman mautnya.


...----------------...


Bahkan, setibanya di rumah, senyuman Alfa tak kunjung usai, ia terus tersenyum dan bersenandung ria tanpa melihat sekitarnya lagi, memikirkan rencananya untuk memiliki wanita cantik yang sangat ia cintai untuk seutuhnya, membuat ia bersikap berbanding balik dengan rumor yang ada, karena ia sangat tak tersentuh dan sangat dingin jika di depan umum.


Bahkan, karena terlalu senangnya, ia tidak menyadari bahwa seorang wanita paruh baya sedari tadi terus memperhatikan gerak gerik putranya yang terlihat sangat senang.


“Kamu kenapa sedari tadi senyum-senyum sendiri?” terdengar suara seorang wanita paruh baya yang sangat familiar di telinganya, membuyarkan semua senandungnya yang begitu merdu baginya dan membuatnya terlonjak kaget.


“Mamah! Mamah kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanya Alfa salah tingkah, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kamu pikir mamah hantu, bisa ada di sini tiba-tiba? Tentu saja mamah sudah melihat mu dari awal kamu pulang,” jawab Fara dengan santai. Tentu saja itu membuat Alfa semakin ingin membuatnya menenggelamkan diri saja dalam lautan, karena terlalu malunya.


“Aku punya kabar gembira buat mamah,” ucap Alfa mengalihkan topik pembicaraannya.


“Apa itu?” tanya Fara yang mudah terhasut oleh putranya.


“Sebentar lagi mamah akan punya menantu, apakah mamah senang?” tanya Alfa sambil tersenyum senang pada wanita paru baya yang sangat ia cintai itu.


“Benarkah?” bukan menjawab, tapi malah bertanya balik.


“Tentu saja mamah sangat senang, jadi Diva akan segera menjadi menantu mamah?” tanya Fara dengan sangat antusias, yang di jawab sebuah anggukan oleh Alfa.


“Besok lusa kita akan melamar ke rumahnya, apa mamah mau melamar Diva pada orang tuanya?” tanya Alfa dengan manja sambil memeluk mamahnya dari arah belakang.


“Tentu saja mamah mau, tapi kita belum punya persiapan apapun,” ucap Fara dengan lesu saat sadar mereka belum mempersiapkan segalanya untuk lamaran putra sulungnya.


“Mamah tidak perlu khawatir, aku yang akan mempersiapkan segalanya untuk itu, kita masih punya waktu satu hari lagi, lebih baik mamah istirahat saja, berbelanja dan melakukan perawatan, agar mamah terlihat segar saat melihat calon besan mamah,” ucap Alfa dengan santainya, membuat Fara hanya menggelengkan kepalanya yang tidak pusing, saat mendengar penuturan sang putra yang sudah bucin.


...----------------...


Setelah memberitahu pada sang mamah, kini mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, tapi tidak dengan Alfa, pria tampan tengah sibuk dengan sang sekertaris lewat sambungan telepon miliknya.


“Kau harus menyiapkan semua yang di butuhkan untuk acara lamaran, dan ingat! Jangan sampai ada yang kurang satupun, karena aku tidak akan mentolerir satu kesalahan pun!” ancam Alfa berbahaya, membuat sekertaris Sam ketakutan di sebrang telpon sana, dan menelan salivanya kasar.


“Baik, tuan muda, akan saya pastikan agar tidak kekurangan satupun,” ucap sekertaris Sam di sebrang sana, padahal hatinya merasa cemas karena ia tidak tahu apa-apa jika masalah ini.


“Awas saja jika kau tidak benar menepati janjimu, kenapa kau berbicara lama sekali, kau sudah membuang waktuku!” marah-marah tidak jelas, padahal dari awal, dirinya lah yang menghubungi sekertaris Sam duluan, dan sekarang malah menyalahkan pria tak berdosa itu dengan santainya, dan langsung memutuskan sambungan telpon dengan sepihak.


‘Haiss, kenapa malah marah padaku, sultan emang bebas ya, lagipula aku tidak tahu apa saja yang di butuhkan untuk lamaran, Tuhan, jangan bilang nanti aku akan lebih repot dari ini, apalagi jika nona muda melahirkan anak yang seperti tuan muda, aku yakin akan mati karena kesal,’ geutu sekertaris Sam di saat sambungan telponnya sudah terputus. Apalagi ia sudah membayangkan sesuatu yang sangat mengancamnya.


Di kamar Alfa, pria itu bahkan tidak bisa tidur karena membayangkan acara lamarannya untuk sang pujaan hati, membayangkan hidup bahagia dengan wanita angkuh itu, ia tidak pernah membayang sesuatu yang buruk baginya jika ia bersama wanita yang sama sekali tidak mencintainya, bahkan wanita yang ia cintai itu sangat membencinya.


...----------------...


Karena rasa kantuk yang tak kunjung datang, pria tampan itu pun segera mengambil benda pipi yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya yang berukuran king size, tangannya yang kekar menggenggam benda pipih tersebut, dan jarinya yang lincah sedang mencari nomor telepon wanita yang sudah mengusik malamnya, dengan segera ia menghubungi nomor tersebut, namun tak kunjung ada jawaban, mungkin karena wanita itu sudah tertidur karena sekarang menunjukan pukul 23:00 WIB.


Tuuuttt tuuutt tuuutt (anggap saja suara panggilan ya hehe).


“Halo,” suara wanita yang serak khas orang tidur, saat panggilan tersebut terhubung, mungkin karena sudah berhasil membangunkannya tanpa melihat si pengganggu tersebut.


...****************...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.