
Selamat membaca ...
Setelah perdebatannya di rumah bersama sang suami, kini Diva sudah ada di tempat sahabatnya, yaitu Miranda.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Mira pada sahabatnya tersebut.
“Entahlah, sepertinya aku harus segera pergi dari kehidupan suamiku,” jawab Diva dengan lesu, membuat Mira mengernyitkan dahinya menatap Diva dengan tatapan penuh selidik.
“Ada apa dengan dirimu, kau bahkan seperti sedang membohongi hatimu sendiri, biar aku tebak. Kau pasti sudah jatuh cinta pada suami mu?” tanya Mira menatap mata Diva dengan lekat, mencari suatu kebohongan di dalam sana.
“Entahlah,” jawab Diva tak bersamangat.
“Haiss, kau memang harus belajar berbohong sedikit, kau bahkan tidak bisa membohongi hatimu itu. Tapi menurut ku itu adalah hal yang wajar, jika istri mencintai suaminya, bukan malah mencintai pria yang memiliki niat buruk padamu itu,” ucap Mira tanpa ragu sedikitpun, membuat Diva mendongakan kepalanya menatapat Mira dengan kesal, ia masih tak terima jika sang kekasih di jelekan seperti itu.
“Kau jangan menjelekan namanya di hadapanku, walau bagaimana pun dia masih menjadi kekasih ku,” ucap Diva dengan kesal, membuat Mira mendengus dengan kesal sambil memutar bola matanya malas.
“Baiklah, baiklah, kau memanggil kekasih tapi tak ada rasa cinta sedikitpun. Lebih baik suami mu itu, meskipun aku yang ada di posisi dirimu, aku juga akan sangat mencintai dirinya, tap sayang sekali, tuan Alfa bahkan tidak melirik diriku sama sekali,” ucap Mira berpura-pura sedih yang di hadiahi sebuah cubitan dari Diva.
“Tapi bagaimana menurut dirimu jika ada seorang wanita yang sangat ia cintai di masa lalu, kini datang kembali?” tanya Diva dengan raut wajah yang sedih.
“Maksudmu, tuan Alfa memiliki wanita yang di cintai di masa lalu, dan kini sudah kembali?” tanya Mira meyakinkan agar tidak salah mengartikan.
“Benar, ternyata dia memilikinya, menurut dirimu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Diva dengan lesu, sungguh ini pengalaman pertamanya merasakan cinta dan di cintai yang sesungguhnya.
“Jika menurutku kau harus mempertahankan suami mu, bagaimana pun, kau adalah istri sah, tidak mungkin kan, seorang pria tegas seperti tuan Alfa itu masih mencintai wanita di masa lalunya,” jawab Mira tanpa ragu.
“Benar, dia bahkan masih mencintai wanita itu, mereka masih saling mencinta, lalu apa yang harus aku harapkan lagi, kau tahu aku tidak suka menjadi orang ketiga, bahkan mengemis cinta pun aku tidak akan sudi,” ucap Diva yang tiba-tiba kesal saat ingat kejadian tadi malam.
“Apa! Apa kau serius?” tanya Mira yang terkejut dengan jawaban Diva, ternyata pria tegas dan menakutkan itu mudah diluluhkan dengan cinta. Padahal Diva hanya menebak-nebak saja.
“Untuk apa aku membohongi dirimu, dia hanya memanfaatkan diriku, aku hanya pelampiasan untuknya, bahkan dia sama saja dengan para pria di luaran sana yang menginginkan aku, aku merasa sangat kecewa, hatiku sangat sakit Ra, kenapa cinta yang aku alami serumit ini, apa ini hukuman untuk ku karena sudah banyak menolak pria. Tapi kenapa harus dia yang menyakiti perasaanku, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku tidak sanggup jika harus selalu bersamanya, aku takut perasaanku padanya akan semakin tumbuh, aku takut merasakan sakit yang lebih dari pada ini,” ucap Diva yang kini sudah terisak sesegukan, ia ingin menumpahkan semua rasa sakitnya, beban pikirannya, dan masalah rumah tangganya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya, kau juga tidak mungkin terus bersama Alex, mana mungkin kau bisa mengendalikan perasaan dua orang sekaligus, sekarang kau harus memutuskannya,” ucap Mira pada sahabatnya, jujur saja ia baru pertama kalinya melihat sahabatnya yang biasa dingin terhadap lawan jenis, kini tengah terpuruk karena suaminya sendiri.
“Aku akan mengakhiri hubungan ku dengan perlahan, entah itu dengan Alex, maupun dengan Alfa, keputusan ku sudah bulat Ra,” ucap Diva dengan tegas, meskipun air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
“Apa orang tuamu sudah mengetahui masalah ini?” tanya Mira menatap Diva dengan rasa iba.
“Belum dan tidak akan pernah, kau juga tahu kondisi pernikahanku sebelumnya bagaimana, aku menikah dengan pria bren*gsek itu secara paksa dan dengan ancaman dirinya, aku selalu menutupi rasa benciku di hadapan keluargaku maupun keluarga dirinya, aku tidak ingin melukai semua orang, tapi apa akhirnya, dia bahkan masih mencintai wanita lain, dia hanya berpura-pura mencintai diriku, aku mohon jangan beri tahu siapapun, aku mohon, bantu aku,” ucap Diva memohon pada Mira, ini baru pertama kalinya merasa terpuruk seperti sekarang ini, bagaimana pun ia harus tetap menjaga perasaan yang lainnya agar tidak merasa kecewa.
“Sudah, sudah, jangan menangis lagi, tanpa kau minta sekalipun, aku akan selalu berada di pihakmu dan akan selalu membantu dirimu, mendukung semua keputusan mu, bukankah di saat seperti ini seorang sahabat harus ada, kau sudah menolong hidupku, sekarang giliranku, meskipun ini tidak sepadan dengan jasamu selama ini untuk diriku,” ucap Mira pada sahabatnya dengan tulus.
“Terima kasih, kau memang yang terbaik,” ucap Diva memeluk Mira, sedikit demi sedikit perasaannya sudah membaik.
“Tidak perlu berterima kasih,” ucap Mira yang membalas pelukan dari sahabatnya tersebut.
“Baiklah, kalau begitu kau tunggu informasi dari saja ya, aku ingin ke kantor Alfa terlebih dahulu sebelum ke apartemen baruku,” ucap Diva yang kini tengah sibuk memperbaiki penampilannya yang sangat berantakan, ditambah wajahnya yang sembab karena banyak menangis.
“Baiklah, hati-hatilah,” ucap Mira pada sahabatnya.
Di sisi lain, dalam sebuah ruangan yang ada di gedung pencakar langit, yang bertuliskan EDISON’Corp. Seorang pria tampan, dengan rahang yang kokoh dan tegas, sedang duduk di meja kerjanya, pria tampan yang sedang berkutat di komputernya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka yang menandakan bahwa ada orang yang masuk ke dalam ruangannya.
Ceklekk!
“Selamat siang, tuan muda,” sapa seorang pria yang selalu menempel dengannya.
“Ada apa Sam?” tanya Alfa tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar monitor tersebut.
“Ada nona Dara yang datang kesini,” jawab sekertaris Sam datar.
“Mau apa dia datang kesini?” tanya Alfa lagi tanpa melirik ke arah Sam sedikitpun.
“Ingin bertemu dengan tuan muda, ada yang ingin nona Dara sampaikan secara pribadi,” jawab sekertaris Sam datar seperti sebelumnya.
“Biarkan dia masuk,” titah Alfa dingin.
Tak berselang lama setelah kepergian sekertarsi Sam, datang seorang wanita cantik yang elegan dan sangat seksi, memang sangat indah di pandang mata, tubuhnya yang seksi dan wajahnya yang cantik, tapi masih terlihat lebih cantik Diva, hanya saja Diva selalu mengenakan pakaian yang lebih sopan.
“Alfa,” panggil wanita cantik itu, hingga membuat pria yang tadi sibuk kini melemparkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.
Degg!
‘Apa ini Dara, dia memang cantik dari dulu, tapi tidak berpakaian seperti ini, sekarang dia sudah berani memakai pakaian yang sangat terbuka.
Haiss, kenapa aku malah menilai dirinya, sekarang aku sudah memiliki Diva,’ batin Alfa yang memandang Dara dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat Dara tersenyum penuh kemenangan.
“Ehhm, ada apa?” tanya Alfa yang memecah kecanggungan yang ia ciptakan sendiri.
“Aku merindukan dirimu, aku juga sudah membawakan makanan kesukaanmu, udang asam manis,” jawab Dara dengan sangat percaya diri.
“Kau masih ingat tentang diriku?” tanya Alfa sekali lagi hanya untuk memastikan semuanya.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.
Cinta itu ketika hanya ada aku dan kamu, tidak ada dia di dalamnya.