
Selamat membaca ...
“Cih! Bahkan kau sudah tidak bisa menyangkal setiap yang aku ucapkan, apa sebegitu murahannya diriku bagimu, hum?” tanya Diva dengan suara tercekat karena menahan tangisnya, bahkan kini punggungnya sudah bergetar karena sudah tidak tahan jika dirinya hanya dianggap sebagai pelampiasan semata, ia merasa sudah tidak berarti lagi, tidak ada yang bisa ia banggakan sekarang, harta, kedudukan, bahkan kehormatannya sudah tidak ada, ia melepaskannya setelah menikah dengan pria yang kini sudah tega membohongi dirinya.
“Sayang,” ucap Alfa dengan lirih, sungguh ia tidak pernah melihat istrinya menangis seperti ini, lebih baik ia melihat Diva galak dan bisa menghajar dirinya di bandingkan dengan menangis dan terlihat sangat rapuh.
“Cukup! Berhenti memanggil dengan sebutan yang sangat menjijikan itu, kau tidak pantas memanggilku seperti itu, kau bahkan tidak tahu apa arti sebuah kata sayang,” bentak Diva pada pria yang ada di hadapannya, dengan segera ia bangkit dari tempat tidur yang berukuran king size tersebut, namun, Alfa langsung mencegah dengan meraih tangan Diva.
“Kau mau kemana?” tanya Alfa tanpa melepaskan tangan Diva sama sekali.
“Aku mau tidur di sofa,” jawab Diva dengan datar sambil mengusap air matanya.
“Aku mohon jangan, tidurlah di sini seperti biasa,” pinta Alfa pada istrinya.
“Jangan harap aku akan menuruti semua keinginanmu, sekarang aku berhak menentukan hidupku sendiri,” ucap Diva dingin, bahkan raut wajahnya yang dulu kembali dalam sekejap mata.
“Kamu istriku, selamanya akan tetap jadi istriku, aku mohon,” pinta Alfa sekali lagi dengan nada yang memohon dan raut wajahnya yang memelas, namun Diva sama sekali tidak menggubris semua yang dilakukan oleh Alfa.
Akhirnya Diva tidur di sofa dengan selimut tebalnya, sungguh wanita itu baru merasakan sakit hati dan rasa kecewa saat bersama Alfa.
Di bandingkan dengan Alex, Diva justru merasa acuh tak acuh pada pria tersebut.
Berharap ia akan melupakan kejadian malam ini yang menimpa dan memporak porandakan hatinya, ia segera memejamkan matanya agar bisa cepat tertidur.
Tak butuh waktu lama, kini Diva sudah terlelap dalam tidurnya. Melihat sang istri sudah tidak ada pergerakan lagi, Alfa segera bangkit dari atas tempat tidurnya menuju sofa di mana sang istri berada.
Dengan perlahan dan sangat berhati-hati ia mulai menggendong sang istri untuk dibawa ke atas tempat tidur yang berukuran king size tersebut, agar tidur bersamanya seperti biasanya.
Cuuupp!
“Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah melepaskan mu sayang, maafkan aku yang tidak tegas dalam mengambil keputusan ini, tapi akan aku pastikan, jika kau hanya akan menjadi milikku seorang,” gumam Alfa sambil membenarkan anak rambut yang ada di wajah cantik istrinya, ia terus memperhatikan wajah yang sembab karena habis menangis saat bertengkar tadi, tak lupa juga ia membelai wajah itu, sambil mengecupi seluruh wajah istrinya yang sedang tertidur lelap.
“Enghh,” Diva melenguh, membuat Alfa diam sejenak agar istrinya tida menyadarinya dan agar tidak sadar.
Setelah puas menikmati wajah cantik Diva, akhirnya Alfa pun memejamkan matanya, menyusul sang istri ke alam mimpi.
...----------------...
Pagi hari yang cerah, hingga sinar mentari menerobos masuk lewat jendela yang ada di kamar tersebut, tak membuat sepasang suami istri tersebut terusik.
Hingga suara dering telpon membangunkan seorang pria yang tengah tidur sambil memeluk tubuh mungil istrinya tersebut, dengan mata yang masih sangat berat, pria itu segera mengambil ponsel itu dan menerima panggilan tersebut.
“Apa kau sedang mencari mati, hah!” bentak Alfa pada orang yang ada di sebrang telpon tersebut.
“ ... “.
“Tunggu aku jam sepuluh pagi saja,” ucap Alfa pada seseorang di sana.
Tuut.
Alfa mematikan sambungan telepon tersebut dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sebelum sang istri terbangun dan mengamuk padanya.
Tak butuh waktu lama, kini Alfa sudah rapih dengan setelan jas kerjanya, ia melihat sang istri masih tertidur dengan sangat pulas, karena semalam istrinya sering mengigau tidak jelas, ia tahu bahwa istrinya terlalu stress saat ini.
Dengan langkah pasti ia menuruni anak tangga satu persatu, di sana sudah ada seluruh anggota keluarganya yang hanya ada dua orang tersebut, dan juga Dara.
“Selamat pagi,” sapa Alfa pada semua orang yang ada di maja makan sana.
“Selamat pagi nak,” balas Fara.
“Selamat pagi kak, kemana kakak ipar, kenapa tidak turun untuk sarapan bersama?” tanya Ana sambil celingukan melihat ke belakang Alfa, bahkan ka arah tangga, namun tidak ada tanda-tanda muncul kakak iparnya.
“Yang dikatakan Ana benar, kemana Diva, kenapa tidak turun untuk sarapan bersama?” tanya Fara pada putranya.
“Dia kelelahan mah,” jawab Alfa dengan santai membuat Fara tersenyum penuh arti, sedangkan Ana dan Dara langsung tersedak saat mendengar ucapan Alfa yang begitu frontal.
Uhukk uhukk
Ana dan Dara tersedak, membuat Fara langsung memberikan segelas air putih pada sang putri, sedangkan Dara, wanita malah di abaikan tanpa ada yang memberikan segelas air pun, dan terpaksa mengambil sendiri.
...----------------...
Sedangkan di dalam kamar sana, Diva baru saja terbangun dari tidurnya, bahkan ia langsung terkejut saat menyadari dirinya sudah ada di atas tempat tidur suaminya.
“Pria bren*gsek itu benar-benar egois, cepat atau lambat aku harus segera meninggalkan dia, bagaimana pun aku tidak mau menjadi satu-satunya orang yang tersakiti di dalam pernikahan ini, dan juga sebelum perasaan ku tumbuh lebih besar untuknya,” gerutu Diva yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Dengan cepat ia segera bangkit dari tempat tidur pria itu, menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, waktu sudah berjalan selama tiga pulu menit, namun Diva masih belum menunjukan batang hidungnya.
Namun, tak berselang lama, wanita cantik itu keluar dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Ternyata wanita itu sudah berendam di air hangat pagi ini, agar pikirannya menjadi sedikit lebih tenang.
“Hhhaah, akhirnya aku sudah segar, aku harus segera membereskan pakaianku, eh, tapi aku ingin mengabari Mira dulu,” gumam Diva yang langsung mendekati nakas yang ada di samping termpat tidur tersebut, diraihnya benda pipih itu dan segera mengusap layar ponsel tersebut untuk mencari nomor orang yang sedang ia rindukan.
Nah, ketemu!
Tak butuh waktu lama lagi, kini Diva sedang memanggil sahabatnya lewat ponsel milikknya.
Tuuut tuuuut tuuut.
“Hei! Apa kau tega memarahi aku?” tanya Diva pada Mira yang ada di sebrang telpon sana sambil bernada kesal pada sahabatnya, karena langsung di omeli.
“ ... “.
“Aku ingin kau membantuku,” ucap Diva pada Mira, berharap sahabatnya itu akan menolong dirinya.
“ ... “.
“Baiklah, aku akan datang, tapi aku harus menunggu pria itu keluar dari rumah terlebuh dahulu,” ucap Diva dengan santai.
“ ... “
“Sampai jumpa,” ucap Diva yang kemudian memutuskan sambungan telpon miliknya.
Ceklek!
Suara decitan pintu, yang menandakan bahwa ada orang yang memasuki kamarnya. Diva yang terkejut dengan hal itu, langsung meletakan ponsel miliknya.
...****************...
Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...
Follow IG Author @aran_diah
Hatur nuhun.