Leave Me Please Hubby

Leave Me Please Hubby
Chapter 51



Kini mereka sudah duduk dalam ruangan tersebut, sedangkan sekertaris Sam berdiri di samping kursi yang di duduki oleh Alfa.


“Tuan Sam, kenapa anda tidak duduk?” tanya Rey pada sekertaris Sam.


“Tidak, terima kasih tuan. Saya jauh lebih nyaman berdiri,” jawab sekertaris Sam.


“Hm, bagaimana dengan proyek kita, apa sudah ada perkembangan?” tanya Alfa tanpa basa basi dan menampilkan raut wajah yang serius, membuat Rey langsung terdiam dan mulai ikut menampilkan raut wajah yang serius.


“Sampai sejauh ini sudah selesai hingga delapan puluh lima persen, tuan,” jawab Rey dengan tegas, pria itu juga memberikan catatan keuangan yang di gunakan untuk proyek tersebut.


“Hmm, jauh lebih cepat dari perkiraan. Kerja bagus, ternyata saya tidak salah memilih rekan untuk bekerja sama,” ucap Alfa memuji kinerja Rey dan timnya.


“Anda terlalu memuji, tuan. Tentu ini juga berkat dukungan anda.”


Tokk tokk tokk. Ketukan pintu dari arah luar menunda percakapan mereka. Seorang pelayan masuk setelah di persilahkan dengan membawa tiga gelas kopi.


“Em, ganti kopiku dengan segelas susu,” pinta Alfa tanpa basa basi. Pelayan hanya mengangguk pertanda mengerti.


‘Tuan muda memang seenaknya saja, sejak tujuh bulan lalu entah apa yang membuat tuan muda jauh lebih menyukai susu,’ batin sekertaris Sam yang jengah dengan kebiasaan baru sang tuan muda.


“Tuan, maafkan pelayanan kami yang tidak tahu minum kesukaan tuan. Harap tuan memaklumi,” ucap Rey merasa tak enak hati, padahal yang ia tahu sebelumnya, pria itu tidak pernah mempermasalahkan apa yang pelayanannya berikan.


“Hmm, ini kebiasaan baruku,” ucap Alfa santai, sedangkan Rey manggut-manggut tanda mengerti.


Triiiiinngg! Triiinggg! Triiiing!


Terdengar suara dering ponsel yang ada dalam saku jas milik Rey, membuat sang pemilik panik karena takut di anggap tak sopan jika menerima panggilan tersebut.


Sedangkan, dua orang yang ada di hadapannya hanya diam memperhatikan gerak gerik pria yang menerima panggilan tersebut.


Rey mau tidak mau harus mengambil ponsel yang ada di dalam saku tersebut karena terus berdering tanpa henti. Panik, itulah yang sekarang ia rasakan, wanita yang ia cintai adalah si pemanggil tersebut, dengan tak enak hati ia meminta izin untuk menerima panggilan penting tersebut.


“Tuan, mohon maaf atas ketidak sopanan saya. Saya minta izin keluar untuk menerima panggilan,” ucap Rey dengan ramah, ia berharap pria yang ada di hadapannya tersebut mau memaafkannya.


“Tidak perlu keluar tuan. Silahkan anda terima saja panggilan itu di sini. Saya yakin tuan muda saya tidak akan keberatan,” ucap sekertaris Sam yang mengerti lirikan Alfa meskipun hanya dengan ekor matanya. Mereka mungkin menaruh curiga pada Rey yang terlihat gugup dan wajahnya sudah memerah karena panggilan tersebut, takut ada konspirasi di belakang layar, akhirnya Alfa dan sekertaris Sam mengizinkan Rey menerima panggilan tersebut di sana.


Glekk!


‘Kenapa izin dari mereka terasa menakutkan, lihatlah wajah dua orang pria yang sama kaku dan datarnya melihat diriku. Apa ada yang salah dengan diriku, kenapa menatapku dengan sinis,’ batin Rey bertanya-tanya. Namun, ia tak ingin membuat wanita yang ia cintai menunggu lama lagi, dengan segera ia menggeser ikon berwarna hijau tanda ia menerima panggilan tersebut.


“Halo, Rey, kenapa kau lama sekali menerima panggilan telponku?” marah-marah seperti seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya.


“Maaf, di sini masih ada meeting, jadi aku tidak enak untuk menerima begitu saja. Apakah kau sudah sampai?” tanya Rey setelah menjelaskan kejadian yang terjadi. Wanita yang membutuhkan suami saat hamil memang benar adanya, wanita itu pun bisa meluapkan emosi yang di sebabkan perubahan hormon pada Rey tanpa segan sedikitpun, membuat Rey harus menjaga wanita itu agar tetap stabil emosionalnya.


Sedangkan dua orang pria yang sedari tadi memperhatikan Rey, mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.


Alfa melirik dengan ekor matanya pada pria yang ada di sampingnya yang tak lain adalah sekertaris Sam ‘Jelaskan padaku Sam, kau bilang pria itu belum menikah!’ begitulah arti dari tatapan Alfa.


Glekk! Sekertaris Sam menelan salivanya kasar.


Sekertaris Sam melirik ke arah Alfa sambil mengedikkan bahunya tanda ia juga tidak tahu.


“Iya, aku sudah sampai. Aku tadi membeli ice cream di tempatmu, rasanya sangat enak,” ucap wanita di sebrang telpon, mengadukan apa yang ia rasa bagai seorang anak kecil, yang di jawab dengan sebuah kekehan kecil oleh Rey.


“Baiklah, aku akan menyuruh orang untuk mengirimnya lagi untukmu, apa sikecil rewel di dalam perutmu?” tanya Rey yang masih mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam kandungan Tasya. Rey juga tahu arti ucapan Tasya yang mengadukan tentang ice cream itu, tentu saja wanita itu ingin tambah.


“Baik, aku tunggu. Entah kenapa si kecil hari ini aktif sekali menendang perutku, tapi tidak rewel kok. Ya sudah aku tutup ya sambungannya, dan terima kasih juga untuk ice creamnya.


Tut. Sambungan telpon terputus secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Rey, membuat Rey semakin gemas dengan tingkah wanita itu.


“Apa itu istrimu?” tanya Alfa yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, karena yang ia tahu jika pria yang ada di hadapannya adalah pria single.


“Bukan, tuan. Hanya calon, semoga dia mau menerimaku,” jawab Rey dengan senyuman manisnya, membuat dua orang pria yang ada di hadapannya mengernyitkan dahinya dengan tingkah Rey yang seperti remaja baru jatuh cinta.


‘Haiss, ternyata aku sudah membuang otakku karena berpikir dia ada konspirasi di belakang layar, ternyata lagi jatuh cinta. Eh! Tapi tunggu! Tapi tadi dia bilang sikecil dalam kandungan. Kurang ajar, ternyata dia sudah menghamili dulu wanitanya,’ geram Alfa dengan Rey karena berpikir jika Rey adalah pria brengsek yang sesuka hati menghamili anak orang.


“Tapi tadi kau bilang si kecil dalam kandungannya, apa dia hamil anakmu?” akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


“Bukan tuan. Apa saya boleh bercerita sedikit?” tanya Rey yang begitu aneh dan bertingkah seperti remaja yang baru saja kenal cinta, padahal ia dulu adalah pria yang di juluki seorang playboy kelas lele.


“Hmm.” Akhirnya Alfa setuju karena memang ia penasaran, daripada mencari tahu dari orang lain, lebih baik ia mendengarnya sendiri dari orangnya langsung.


“Dia adalah wanita yang datang ke kota ini sekitar tujuh bulan lalu, dia sangat cantik. Dia hanya sebatang kara di kota ini, dia juga pernah bekerja di kafe ini, saya menyukainya sejak awal bertemu. Saya meninggalkan perusahaan saya yang ada di kota xx, karena hanya ingin selalu berdekatan dan mengambil hati wanita itu, sulit bagi saya untuk meluluhkan hati dan keras kepalanya,” Rey berhenti sejenak dan menghembuskan napasnya panjang, sedangkan Alfa sudah bergetar saat mendengar cerita itu, ia merasa mengenal wanita itu yang sedang diceritakan oleh Rey.


“Terus?” tanya Alfa yang sangat serius dan menuntut.


“Satu bulan bekerja di kafe ini, dia hamil entah anak dari siapa, bahkan wanita itu enggan untuk memberi tahukan ayahnya pada saya, hingga sampai saat ini saya tidak tahu ayah dari anak yang dia kandung,”


Degg. Jantung Alfa semakin bergetar dengan hebat.


“Siapa namanya?” tanya Alfa tidak sabaran, membuat Rey sedikit heran, namun tidak menanggapinya dengan serius.


“Tasya. Namanya Anastasya,”


Degg. Semakin yakin jika itu wanita yang telah ia cari selama ini, pantas saja wanita itu sulit di temukan, ternyata Diva hanya menggunakan satu nama belakang saja untuk menyembunyikan identitasnya.


“Apa yang dia lakukan setelah itu?” tanya Alfa lagi.


“Setelah ada yang mengetahui jika ia hamil, dia dihina oleh rekan kerjanya dan diseret ke hadapan saya. Mengetahui hal itu hati saya hancur, tapi rasa cinta saya begitu besar hingga ingin melindunginya dan calon bayinya agar tidak jadi gunjingan dan membuatnya stress, saya mengakui bayi itu adalah milik saya. Dia berhenti dari kafe dan sekarang membuka toko bunga di rumahnya,”


“Apa kau sering datang ke rumahnya?” tanya Alfa sambil mengepalkan tangannya di bawah meja sana saat mendengar pengakuan cinta untuk wanita yang dirinya sendiri belum tahu pasti, tapi ia sudah merasa sangat yakin.


“Setiap pagi saya akan kesana sebelum berangkat kerja, apalagi waktu kehamilan di awal, dia sering sakit dan muntah-muntah,”


Rasanya sangat sakit, jika itu memang istrinya, ia akan menyalahkan dirinya seumur hidupnya karena telah gagal untuk menjaga dan melindunginya.


“Apa aku boleh meminta alamatnya?” tanya Alfa yang harus memastikannya sendiri.


“Memang untuk apa tuan?” tanya Rey dengan penuh selidik, jujur ia juga merasa heran dengan pria yang ada di hadapannya tersebut, pria itu tiba-tiba sangat bersemangat.


“Aku hanya ingin membantu sedikit,” jawab Alfa datar, sejujurnya ia sangat kesal, namun ia harus bersikap manis dulu sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Licik.


“Baiklah, saya akan mengirim alamatnya. Wanita itu agak susah jika di bantu tuan, mohon tuan memaklumi,”


‘Ck! Tentu saja aku tahu istriku memang sangat keras kepala, tapi apa benar istriku sedang hamil. Terima kasih sayang. Eh! Tapi aku juga harus membalas budi pria ini karena sudah menjaga istriku selama ini,’ batin Alfa yang semakin berotak licik, ia tidak akan sadar jika pria itu akan sangat sakit hati karena di anggap sebagai penjaga saja.


“Hmm, tentu saja,” ucap Alfa dengan datar.


...----------------...


Tekan favorite agar dapat notifikasi jika sudah up.


Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya ...


Follow IG Author @aran_diah


Hatur nuhun.