I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
IWY-3 EPISODE 14



I WANT YOU PART 3


AXEL AND KEYSA


SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE


Skill terhebat ku dalam mencintaimu saat ini adalah, tetap diam meski tahu bahwa tak mungkin bertahan


Axel Yudhistira


Kulirik jam di tangan kiriku, sudah pukul sebelas malam. Aku berdiri di depan pintu apartement, dan menarik nafas panjang. Ahhh, bagaimana ini? Sedang apa Keysa sekarang. Ya Tuhan, dia pasti sangat marah. Aku berjanji akan pulang cepat. Tapi malah membuatnya menunggu. Padahal aku sudah sangat menantikannnya. Sudah pasti hari ini aku akan gagal lagi.


Setelah memasukan pasword aku membuka pintu. Ku dapati Keysa yang duduk di soffa dengan mata tertutup. Tv di depannya masih menyala, remote juga ada di tangannya. Dia pasti menungguku disini sampai akhirnya tertidur. Kian besar saja rasa bersalah ku. Ini semua karena Inara. Keysa harusnya membiarkanku memecat Inara. Aku tahu tipe tipe perempuan macam apa dia itu. Tidak tahukah Keysa, gadis itu sepertinya akan menjadi masalah.


Hahhh, sudahlah. Aku mengangkat Keysa perlahan lahan, memindahkannya menuju kamar. Lalu terlelap di sampingnya tanpa berganti pakaian karena merasa amat lelah.


__________


Sinar matahari menelusup melalui celah celah mataku. Agak silau, aku meraba raba tempat tidur dan tak kutemukan dia disisiku. Pasti dia sudah bangun dan membuka tirai. Aku tidak buru buru keluar kamar, dengan keadaan berantakan dan semerawut ini, aku ragu untuk bicara dengan Keysa. Jadi ku putuskan untuk mandi, dan setidaknya membuat tubuhku lebih enak dipandang.


Setelah selesai, aku keluar kamar, dan mendapati Keysa yang ada di balkon, duduk bersandar pada dinding, dengan earphone di telinganya, dia hanya diam. Tidak terlihat seperti menikmati lagu atau lainnya. Hanya menatap lurus kedepan. Aku mendekat, duduk di sampingnya.


"Sayang ..." kupanggil ia satu kali dengan suara lirih.


"Key ..." Dan kedua kali, masih juga tak ada respon. Jadi kutarik ke belakang, earphone yang digunakannya, membuat wajahnya yang cantik mengarah padaku.


"Ehh Mas. Kamu disini, dari kapan? Aku buatin makan dulu ya!" ujarnya, seraya setengah beranjak, karena aku lebih dulu, menahan tangannya. Pertanyaannya jelas mengatakan kalau hubungan kami sedang tidak baik baik saja. Masa iya, dia tidak sadar dengan kedatanganku.


Aku merangkul tubuhnya, yang beraroma strawberry segar, dan memaksa kepalanya untuk bersandar di dadaku.


"Sorry Key ..." kataku, sambil mengusap ngusap kepalanya.


"For what?"


"Karena membuatmu menunggu begitu lama."


Lama Keysa terdiam tanpa menanggapi apapun. Tapi pertanyaannya kemudian cukup membuatku tersentak.


"Dari mana kamu semalam Mas?"


"Ehh, aku ..."


"Di bajumu ada wangi parfum cewek yang menyengat. Ya, sebagai seorang istri yang meskipun hanya status, kaget juga aku ngalamin hal kaya gini."


"Keysa aku ..."


"Aku tahu kok Mas, udah empat bulan kita nikah, tapi aku bahkan nggak bisa kasih kewajibanku."


"Loh, kok kamu jadi bahas itu."


"Tapi itu kenyataannya, aku selalu diem bukan berarti ngerasa nggak berasalah. Soo kalau kamu ternyata akhirnya nggak tahan, dan lebih memilih untuk coba dengan perempuan lain ehmmp."


Sudah cukup. Ku bekap mulutnya yang dari tadi tidak memberiku kesempatan untuk bicara dengan tanganku. Terlalu jauh pikirannya itu.


"Sekarang aku yang ngomong ya. Kamu diem dulu. Kasih aku kesempatan. Jangan maen seuzon dulu."


Dia mengangguk, lalu kulepaskan tanganku. Dia bangun dari sandarannya, memperbaiki posisi duduknya menghadap padaku. For your information ya, sejak tadi kami ini sedang duduk lesehan, dia menopang dagu dengan kedua tangannya, tatapannya yang sayu dan lembut, membuatku ingin mencubit kedua pipinya yang agak cabi.


"Kamu ingat Inara? Perempuan, karyawanku yg mau ku pecat, tapi gara gara kamu, aku nggak jadi pecat dia. Semalam di parkiran, ada laki laki, ya kurasa dia pacarnya. Nah mereka ribut dan kulihat Inara hampir di buat babak belur."


"Hah, serius? Kurang ajar banget itu cowok."


"Iya, aku sempet meleng juga sampe dia lukain tanganku."


Aku memperlihatkan goresan luka di lenganku, yang sukses membuat kedua mata Keysa hampir keluar.


"Ya ampun, kok aku nggak sadar. Gimana donk ini, ini pasti lukanya dalem ya? Kita ke dokter ya Mas. Sekarang ayo."


Salah satu kenikmatan suami istri tidak melulu soal ranjang. Melihat perhatian istri yg panik dan imut ternyata menyenangkan juga.


"Mas, kok kamu malah senyum senyum sendiri, ayo cepet kita ke dokter."


"Nggak usah, lukaku udah sembuh. Malah aku jadi niat buat bikin luka baru, supaya kamu panik lagi. Liat kamu yang panik plus perhatian ini, bikin imutnya nambah 100kali lipat."


"Pinter ngegembel ya sekarang."


"Ngegombal donk Key, masa suami sendiri dibilang gembel."


Keysa memutar pandangan, dan nampak kikuk. Aku menggenggam kedua tangannya, syukurlah sepertinya ia tidak ingin bertanya lebih jauh. Jika tidak, bagaimana aku bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku dan Inara tadi malam. Sudahlah, fokus pada Keysa.


"Key, semalem kitakan emang gagal, tapi sekarang aku disini, gimana kalau kita lanjutin apa yg harusnya di lanjutin sekarang. Toh siang atau malem nggak ada bedanya kan, kalau kamu nggak suka terang, kita bisa tutup tirai dan matiin lampu."


Keysa terlihat agak beripikir, tapi sepertinya aku terlalu terburu buru, sampai akhirnya, tanpa menunggu jawabannya, aku sudah bersiap untuk mendekat, namun ...


Kkkrrrrryuukkkkkkkk


Astaga, apa apan ini. Memalukan!


"Pffftttt hahahaha"


Suara tawa Keysa melengking, sementara wajahku mungkin sudah memerah menahan malu. Ya Tuhan, aku hanya ingin meminta hak dan kewajiban ku, tapi kenapa sulit sekali. Disaat seperti ini kenapa perutku harus berbunyi.


Jika aku gagal menidurinya saat kami belum menikah, aku bisa maklum. Tapi ini kami sudah halal loh, masa masih juga ada gangguan.


"Kamu laper ? Hahaha."


Keysa terus saja tertawa.


"Teroooss, ketawa aja teroooss."


"Hahaha, oke aku berenti keta ...pfft hahaha ... Hahaha"


Ini istri gue lama lama ngeselin ya.


"Hahaha, ya udah. Kita hahaha cari makan keluar ya. Aku nggak masak."


Saat melirik jam baru aku sadar, sudah pukul sepuluh siang, dan aku belum makan atau minum sejak kemarin sore. Pantas saja, ini memalukan. Pelajaran yang berharga, jika ingin skidipapap ulala dengan istri, jangan lupa untuk mengisi bahan bakar.


__________


Lagi lagi mohon maaf atas keterlambatan up nya ya. Manusia hanya berencana, tapi rencana memang tidak selalu bisa berjalan mulus 😁


Terima kasih atas waktunya. semoga terhibur. sertakan like dan comentnya ya. 😀😀😀