I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
IWY-3 EPISODE 8



I WANT YOU PART 3


AXEL AND KEYSA


SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE


Untukmu yang mudah mengeluh,


Melihat ke atas tanpa ingat pijakan,


Menatap ke depan, tanpa belajar dari kesalahan.


Sekedar niat, bukanlah jawaban, sekedar usaha juga belum tentu memuaskan.


Bersyukur saja dulu atas apa yang sudah kau punya, tapi jangan lupa dengan tujuan dan apa yang dimimpikan.


(Nenk Triska)


"Caffe 02 ya Pak." Seruku pada supir taxi yang kini sudah mulai menginjak gas. Aku terburu buru meninggalkan Caffe tempatku bertemu Vanya dan kawannya yang tidak ku ketahui namanya. Jadi aku mengenal Vanya dari salah satu aplikasi sosial media, dan menemukan kenyataan kalau tempat tinggalnya tak jauh dari apartementku. Kami mengatur waktu, lalu bertemu hari ini.


Sejak pindah dan menikah dengan Axel aku agak kesepian. Ia tidak mengijinkanku untuk berhubungan dengan semua masa lalu bahkan teman teman ku. Dia bilang, dia akan mencabut aturannya jika memang dirasa waktunya sudah tepat. Peraturan aneh, tapi sebagai istri yang baik, tentu saja aku harus siap dan menuruti apapun perintahnya.


Tapi hari ini, detik ini mendadak semua pandanganku berubah. Ya Tuhan, aku terus saja mengingat apa yang baru saja terjadi. Ciuman sepersekian detik dari seorang Rio Setiadi. Pria yang pernah mengisi hatiku, pria harus benar benar ku lupakan. Tapi takdir begitu jahat. Mempertemukan aku dan dia di waktu yang salah. Akan lebih baik jika aku tidak lagi bertemu dengannya. Mengingat bahwa diriku adalah salah satu makhluk paling plin-plan di dunia, aku mudah terbawa perasaan, dan bertemu dengan mantan pacar adalah ide yang buruk. Baru saja aku akan memulai hidup baru dan dunia sudah mulai mengancamku.


Taxi yang kutumpangi, merapat ke parkiran. Setelah membayar, aku bergegas masuk ke Caffe, dan menuju ruangan Axel. Caffe 02 di Jl. Merdeka adalah cabang bisnis terdekat yang justru jarang di kunjungi Axel. Kenapa aku bisa tahu Axel disini? Tadi pagi sebelum aku meminta izin untuk bertemu Vanya, Axel sempat berkata untuk pergi kesini.


"Eh, Bu Keysa mau kemana?"


Tanya salah seorang pelayan yang berpapasan denganku. Raut wajahnya aneh, mungkin bingung karena melihatku yang berjalan tergesa gesa.


"Saya mau ke ruangan Axel."


Baru saja aku hendak melangkah, gadis itu menghentikanku.


"Eh tunggu Bu, tapi Pak Axel nggak ada, sejam yang lalu beliau keluar."


"Heh? Keluar kemana? Pergi kemana? Kamu tahu Axel kemana?"


"Ibu kok panik banget Bu. Saya nggak tahu Pak Axel kemana. Tapi kalau perlu apa apa, ibu bisa kok kasih tahu saya aja."


Panik ya? Aku panik kenapa? Apa raut wajahku sejelas itu?


"Oh, nggak papa. Saya mau ke depan aja. Tolong bawa ice capucino ya nanti ke depan."


Gadis itu mengangguk. Aku berjalan ke depan menarik salah satu kursi dan duduk begitu saja. Di tengah panas dan padatnya kehidupan jakarta Caffe yang dirintis dari nol oleh Axel ini terbilang sangat nyaman dan lumayan ramai. Bertemakan alam, dengan banyak tanaman hijau di sisi kiri dan kanan. Membuat pekerja yang tidak bisa berlibur, bisa sedikit bersantai di jam makan siang.


Aku meraih ponsel, lalu menekan speed dial, melakukan panggilan pada orang yang tak kutemukan disini.


"Key, kenapa? Kamu udah pulang?"


"Aku ke caffe, tapi kamu nggak ada."


"Oyah? Aku lagi dibengkel tadi montir disini telpon ada beberapa keluhan yang harus ku urus. Maaf ya sayang. Jadi gimana? Mau tunggu aku atau pulang duluan?"


"Kalau lama gimana?"


"Nggak papa, ku tungguin."


"Oke, aku akan secepatnya beresin kerjaan. Lalu secepatnya nyusul kamu. Bye."


Aku menutup telpon bersamaan dengan datangnya pesananku. Ice Capuccino, ice favoritku dan hanya Rio yang tahu itu.


Sebenarnya untuk apa aku tergesa gesa mencari Axel setelah semua ini. Apa tujuannya? Sejak tadi aku hanya berpikir untuk segera bertemu Axel. Namun untuk apa? Sangat tidak mungkin jika aku bercerita, istrinya baru saja berciuman dengan mantan pacarnya. Itu gila, apa yang ada dalam pikiranku tadi.


Aku menoleh ke arah jendela. Di sebrang Caffe ini, ada ruko penjual martabak yang sangat enak menurutku. Sedang hitz, dan banyak yanh menjadikannya bahan review. Pembelinya selalu ramai, tak jarang saking lamanya mengatri, pelanggan si martabak itu singgah kesini, memesan beberapa cemilan atau minuman sambil menunggu. Bisa dibilang ada hubungan simbiosis mutualisme disini. Hubungan menguntungkan untuk kedua belah pihak.


Ahh, cukup sudah, aku mulai frustasi. Sudah dua jam aku disini, dan Axel tak muncul juga. Mulai bosan aku menghabiskan 3 gelas Ice dan membuat perutku terasa kembung.n


"Keysa ..."


Deg ....


Mendadak jantungku hampir copot. Aku mulai berhalusinasi, aku merasa suara Rio ada disini.


"Keysa ... Kamu ada disini ?"


Aku melihat ke belakang, dan menelan ludah. Jadi ini bukan halusinasi. Ini sungguhan Rio ada disini. Aku sudah akan beranjak untuk meninggalkannya, tapi ia meraih lenganku dan menahannnya.


"Key, tunggu dulu. Jangan pergi dulu."


"Lepas, ngapain kamu disini?"


"Kenapa kamu jadi ketus gini Key."


Rio menarik lenganku membawaku keluar. Aku ingin sekali menolak, tapi juga tak ingin menimbulkan keributan. Ada rasa takut juga dalam diriku kalau sampai ada yang memberitahu Axel. Jadi aku menurut saja saat Rio membawaku, ke mobilnya yang terparkir di sebrang caffe, di parkiran Ruko tadi.


"Kamu apa kabar Key?"


"Kamu cuma basa basi."


"Aku ini nanya, bukan basa basi. Kamu apa kabar? Gimana hidup kamu sekarang. Kenapa kamu ngilang sih. Kenapa kamu block semua akses komunikasi aku sama kamu?"


"Tanyakan itu pada diri kamu sendiri. Siapa yang akan baik baik saja setelah tahu pacarnya ngehamilin wanita lain !"


Ya Tuhan, kenapa aku jadi ingat masa lalu. Kenapa juga aku malah jadi emosi kaya gini. Air mata tak bisa ku bendung. Aku mulai menangis, lalu perlahan kurasakan Rio, menarik tubuhku. Ia membawaku dalam pelukannya dengan lembut. Aroma parfum khas Rio, dadanya yang bidang dan lebar, tubuhnya yang tinggi, membuatku melesak di dadanya. Dan akhirnya membuat tangisku semakin tumpah ruah. Untunglah kaca mobil Rio gelap jika di lihat dari luar. Jika tidak, apa yang akan orang katakan. Melihat kami berpelukan di dalam mobil.


"Maaf ya sayang. Aku menyesal, hidupku juga nggak lebih baik setelah kita pisah. I love you Key. I miss you soo bad."


Kata yang sangat indah, namun buruk. Aku dan Rio, sama sama telah menikah. Merasakan sesuatu yang begitu menggetarkan hati ini, bukanlah hal yang baik.


__________


Terima kasih atas waktunya. Mohon tinggalkan like, comment dan vote nya ya teman. Tim Rio dan Keysa mana hayo :)