I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 50



Rio Setiadi


Mungkin sudah sekitar satu jam, aku hanya senyum senyum sendiri di dalam kamar apartemen ku. Memperhatikan benda kecil berbentuk lingkaran yang ku pesan khusus untuk gadis ku. Gadis yang membuat hatiku akhir akhir ini terasa hangat. Meski aku sudah mendapat jawaban iya dari Keysa, tapi aku ingin melamarnya sekali lagi. Menyematkan sebuah tanda cinta di jari manisnya, sebelum akhirnya aku akan membawanya menemui orang tuaku. Dan kurasa cincin ini akan pas di jarinya.


Serius, aku benar benar seperti Abg yang sedang di mabuk cinta sekarang. Aku tak pernah berpikir, bahwa akhir dari semua permainanku akan menjadi sebuah kisah bahagia. Bersama Keysa tentunya. Terima kasih Ya Tuhan. Aku benar benar bahagia sekarang. 


Ting..tong..ting..tong


Beberapa kali bell rumahku berbunyi. Ahhh siapa pula yang ingin menggangu hari bahagiaku. Padahal baru saja aku mau mandi dan pergi menemui Keysa. Sekarang tak ada satu haripun yang kulalui tanpa menemani Keysa. Dan lagi suara itu kembali berbunyi. Ya ya baiklah aku keluar. Sabarlah. Orang sabar itu di sayang Tuhan.


Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur, dengan hanya menggunakan celana pendek, dan kaos oblong putih. Tak perlu ber rapi rapi kan, aku hanya tinggal sendiri disini. Ku buka pintu dan,,, Oh Good Why???


"Rio..."


Gadis itu tersenyum manis. Sangat manis hingga aku ingin melemparnya dari jendela apartemen ku yang berada di lantai 10.


"Lo ada perlu apa kesini?"


Tanyaku, dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Viona, mantan pacarku. Mantan pacar gila, dia pernah mengobrak ngabrik isi kantor untuk mencariku, bahkan mengacak ngacak setiap sudut rumah Keysa, saat aku menghilang. Ahhh  sungguh dia ini gila.


"Ehmm sebenarnya aku ada sesuatu yang harus kita obrolin. Agak serius dan..


"Kenapa lo nggak telpon aja?"


"Aku udah coba tapi no aku kamu blok kan?"


Ah iya, sejak aku memutuskan untuk bersama Keysa, aku memblokir semua nomor gadis yang akan mengganggu hubunganku. Itu adalah bentuk antisipasi. 


"Boleh aku masuk, nggak enak kalau kita ngobrol diluar."


"Seriusan harus banget lo masuk?"


Viona mengangguk. Agak aneh, dia tak segalak dan sebawel dulu. Raut wajahnya seperti mengatakan memang ada sesuatu yang tidak beres. Ya aku jadi penasaran juga, karena dia kesini, pasti sesuatu itu berhubungan denganku kan.


"Ya udah masuk."


Kubiarkan pintu terbuka, demi menghindari fitnah, karena membiarkannya masuk. Aneh ya, rumah ini adalah saksi betapa brengseknya aku. Tapi sejak bersama Keysa ah, tidak, aku tidak tahu sejak kapan aku jadi peduli pada norma norma sosial semacam ini. Aku persilahkan ia duduk di sofa dan Sebagai tuan rumah yang baik, aku mengambil sekaleng minuman bersoda dari dalam kulkas.


"Oke lo bisa mulai. Ada apa sebenarnya?"


Dia hanya diam dan menggigit bibirnya. Ahhh kebiasaan seorang wanita, mereka selalu lama berpikir. Tak pernah bisa langsung bicara pada intinya saja.


"Lo mau ngomong atau mau gue usir?"


"No... tunggu sebentar."


Kulihat Viona membuka tasnya ia mencari sesuatu di dalamnya. Dan sepertinya ia menemukannya, aku tak tahu itu apa, karena bukannya buru buru mengeluarkannya, ia malah diam lagi. Benar benar dia membuatku kesal.


"Mendingan lo pergi deh, kalau emang belom siap....


Tangannya terangkat, ia meletakan sesuatu di meja, dengan tatapan yang masih mengarah sendu tapi tajam terhadapku.


"Viooo ini maksudnya????"


Viona meletakan benda kecil yang hampir saja membuat ku terkena serangan jantung. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku. Aku bingung sekaligus syok. Aku tak berani menyetuhnya. Aku hanya membalas tatapan Viona dengan berbagai pertanyaan dan harapan. Please aku mohon, jangan katakan itu Vio. Katakan ini bukan karena aku. Katakan itu bukan salahku.


"Aku hamil Rio."


Deg....deg...


"Dan ini anak kamu."


Ya Tuhan, apa ini cara Mu menghukumku. Sekarang seluruh otakku berpikir keras, berusaha menemukan kesalahan yang bisa menyelamatkanku.


"Lo ngarang. Heh.. lo itu sama rusak nya sama gue."


"Aku nggak pernah kaya gitu sama laki laki lain setelah sama kamu. Ini anak kamu."


"Bukti apa yang lo punya. Kenapa gue harus percaya."


"Apa harus aku jelasin satu persatu semua hal yang udah kamu lakuin?"


Aku hanya bisa menutup mata, mengacak ngacak setiap helai rambutku meremas kepalaku, kuat kuat. Tapi kabar bahwa aku sudah membuat gadis lain hamil di saat seperti ini terasa lebih menyakitkan. Aku benar benar kehabisan akal. 


Heh, apa takdir sedang mempermainkanku? Masalah datang bertubi tubi di saat selangkah lagi aku akan meraih kebahagiaan. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan.


"Lo tahu aturan mainnya kan Vi. Kita sama sama sepakat nggak akan ada hubungan lain dengan cara apapun. Dan sebentar lagi. Gue bakal nikah Vi."


"Tapi ini anak kamu Rio, anak kita. Apa yang harus aku jawab, saat dia lahir. Kemana ayahnya, dimana ayahnya, siapa ayahnya?"


"Kalau gitu gugurin..."


Aku tak menyangka akan mengatakan hal itu. Wajah Viona memerah,dengan mata melotot yang hampir keluar. Sedangkan aku merasa Lesu dan lemas sekarang.


"Kamu kamu bilang apa?"


Aku tak memungkiri, tapi aku tak bisa membiarkan cinta yang susah payah hilang begitu saja di detik detik terakhir. Aku tak punya pilihan.


"Gugurin kandungan kamu. Dan masalah kita beres. Kamu lanjutin hidup kamu dan aku lanjutin hidup aku."


...plak....


Ya, aku merasakannya, aku juga mendengarnya. Satu tamparan keras, yang ku yakin memang membuat pipiku menjadi merah.


"Hehhh, kita memang sama sama brengsek tapi aku nggak mau ngelakuin kebrengsekan itu sama anak aku sendiri."


Bodohnya aku, ***** dan benar benar brengsek. Aku benar benar tak merasakan sakit di pipiku, rasa takutku mengalahkan segalanya. Ya bayi di dalam kandungan Viona tak bersalah, yang salah hanya perbuatan kami. Harusnya aku memperbaiki nya. Tapi aku tak bisa. Aku tak akan sanggup. Sekarang terbayang di dalam benakku, betapa kecewanya keysa jika mengetahui ini. Betapa hancurnya ia jika tahu. Mungkin bahkan lebih hancur dari ku.


..prangg.....


Suara apa itu? aku menengok ke arah pintu. Ohh tidak, ada apa ini. Kenapa dia bisa ada disini. Sudah berapa lama dia berada disana. Ya Tuhan rencana apa lagi yang Kau punya. Hukuman apa lagi yang ingin Kau berikan padaku. Keysa menjatuhkan sesuatu, yang sepertinya berisi masakan. Apa dia berniat memberiku surprise. Aku beranjak dari tempat dudukku, lalu menghampirinya, tapi ia justru mundur beberapa langkah, dan memberikan isyarat tangan agar aku tak mendekat. Dan di balik dinding dekat pintu itu juga ada Axel.


"Bilang sama aku, kalau yang aku denger ini bohong."


Bibirku terkunci rapat, aku hanya bisa mengepalkan tangan. Kenapa begitu sulit, aku bahkan tak sanggup melihat wajahnya, setelah sempat ku tatap sepasang mata layu yang mulai meneteskan air mata. Harus bagaimana ku memulainya, darimana aku mulai cerita memilukan ini. Aku nggak sanggup.


"Diam kamu ini adalah jawaban. Thanks."


Aku mengangkat wajah saat terdengar langkah Keysa yang berlari menjauh dariku.


"Key.. keysa.. tunggu Key.. denger dulu."


Axel menarik lenganku dengan kuat. Membuatku berhenti, sementara aku semakin panik, karena Keysa semakin jauh.


"Beresin dulu masalah lo sama cewek itu. Baru lo cari Keysa."


Dia melepaskan tanganku, kemudian ikut berlari menyusul Keysa. Tubuhku benar benar lelah. Aku jatuh berlutut di lantai dengan wajah tertunduk. Aku merasakan tangan Viona yang menyentuhku. Suaranya samar samar, tak ku mengerti, tak kupedelikan ia berkata apa. Karena pikiranku kalut. Berusaha mencari pembenaran dari semua ini. Keysa ku, gadisku. Kamu harus dengar dulu, kamu tak bisa pergi begitu saja. Tunggu aku, ini salah paham Key. Aku akan memperbaiki semua ini, secepatnya.