
Keysa Nadira Putri
Hari sudah semakin larut, tapi kedua mataku enggan terpejam. Aku masih bersandar pada dada Rio yang kurasa cukup lebar di teras depan. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan pria ini, satu satunya pria yang kini ada di hatiku. Entah kenapa dinginnya udara di luar malah membuatku semakin nyaman, berada dalam peluknya yang hangat. Leana dan Axel sudah tidur di dalam. Jadi ceritanya mereka bertiga tak tega meninggalkan ku sendiri, dan juga tak percaya jika meninggalkanku berdua dengan Rio. Hahaha lucu juga. Aku merasa agak menyesal sekarang, jika saja aku bisa menyadari perasaanku pada Rio sejak awal, atau lebih berani mengakuinya, maka semua musibah ini mungkin tak akan terjadi.
"Key, kamu ngelamun?"
Rio pasti sadar, dengan kesunyian diantara kami. Karena dari tadi aku hanya diam. Terdengar suara detak jantungnya nya yang tak beraturan dan keras, di telingaku. Apa dia gugup, kalau itu benar, aku jadi merasa tersanjung.
"Nggak kok, aku cuma lagi ngerasa nyaman aja."
"Kamu inget kapan pertama kali kita kenal?"
"Apa ini semacam ujian?"
"Ya, kalau ingat, aku akan kasih hadiah dengan cium kamu. Dan kalau kamu salah, akan aku kasih hukuman dengan cium kamu juga."
Aku tertawa kecil mendengarnya, dasar Rio bodoh, selalu saja bisa mencairkan suasana. Sejenak aku berpikir dan teringat saat aku masih kuliah dulu.
"Dulu, aku lagi jalan, sore. Dan kamu lewat, terus kamu kasih aku tumpangan sampai aku pulang ke kosant."
"Ehm, lalu?
"Ya terus kamu berantem sama Axel"
Benar, aku jadi ingat saat itu, Axel dan Rio bertengkar untuk hal sepele. Hanya gara gara Rio mengantarku pulang, padahal aku dan Axel tak memiliki hubungan apapun. Kami hanya dekat. Cukup dekat.
"Hampir benar."
"Oyyah?"
"Iya, yang benar adalah. Kita kenal saat pertama kali aku coba chat kamu."
Aku mulai berpikir lagi. Ya, aku ingat sekarang. Rio dulu adalah bintang di kampusnya, terkenal brengsek, suka mempermainkan wanita dan kata kata pertama yang pernah ia katakan padaku melalui chating medsos adalah.
"Lo nggak cantik, tapi jujur lo bikin gue tertarik. Bisa kita kenal lebih dekat. Jadi teman tidur mungkin."
Aku masih terdiam, dan mengingat ngingat hal itu. Agak lupa, karena sudah sekitar 3 tahun yang lalu.
"Terus aku jawab apa?"
Tanyaku penasaran.
"Simple banget. Kamu bales 'Kurang kerjaan lo'"
"Prrrtthhhhh hahahaha"
"Kamu malah ketawa? Jadi nggak mau denger cerita selanjutnya nih?."
Apa ya, aku memang seperti pernah mendengar itu semua, tapi aku sedikit nggak percaya juga.
"Oke oke, aku akan dengar. Apa lagi selanjutnya?"
"Ya pertama kali aku liat profil kamu. Tahu kesanku kayak gimana? Ini cewek malesin banget sih, nggak cantik tapi kok aku malah stalking terus. Aku jadi sering bayang bayangin foto kamu waktu itu. Dan bayangin nya itu dalam arti ya, tahu kan. Itu lah?"
"Itu lah apa?"
"Itu loh key, kaya semacam having fun, sleep, ml, pokokknya ngebayang bayangin sexy nya kamu. Dan aku nggak pernah berpikir kalau pun bisa deket sama kamu, aku akan punya perasaan lebih."
Aku mendadak mengangkat kepalaku dari dada Rio, dan menggeser tubuhku, lalu membuatku duduk menghadap padanya. Dengan alis setengah terangkat aku menunggu lanjutan kalimat yang akan di lontarkannya.
"Kok kamu jadi ngeliatin aku kaya gitu Key?"
"Aku mau fokus aja sama cerita kamu."
"Tapi kalau ngeliatnya kaya gitu, malah aku yang nggak fokus."
"Lanjutin ya, please?"
"Oke oke. Setelah aku tahu Kamu temennya Leana. Aku langsung berubah haluan. Aku nggak lagi ingin tahu tentang kamu. Saat itu aku lagi mencoba untuk berhenti jadi cowok playboy dan berusaha untuk jadi pacar yang baik untuk Leana. Aku mau serius sama dia. Tapi ternyata Tuhan nggak merestui itu. Entah kenapa dengan Leana, emosiku jadi semakin labil. Aku lebih cepat marah, dan sering nyakitin fisik dan hatinya. Saat itu aku sadar, kalau aku nggak akan bisa serius dengan siapapun."
Mendengar Rio menceritakan Leana, kenapa hatiku rasanya sakit. Ini tidak benar, aku menelan ludah. Aku jadi takut salah paham.
"Udah udah. Cukup sampe situ aja ceritanya."
"Lah, tapi aku belom selesai key."
"Tapi moodku sekarang nggak bagus."
Jawabku ketus, aku memalingkan wajah, enggan untuk menatapnya. Bagaimana cara menjelaskannya. Oke Leana adalah sahabatku, aku menyayanginya lebih dari diriku sendiri, aku juga tak bisa membiarkan apapun terjadi padanya. Tapi mereka pernah memiliki masa lalu. Dan wanita mana yang suka mendengar kekasihnya membicarakan wanita lain. Terlebih itu mantannya.
"Heeyy, tunggu tunggu. Kamu cemburu ya?"
"Hah, nggak kok."
Kenapa harus bertanya. Jelas aku cemburu. Tapi malu juga kalau aku harus mengakuinya.
"Hahaha, aku seneng liat kamu cemburu. Itu bikin kamu semakin cantik. Tapi Key, kamu sekarang harus denger ya. Dengar baik baik, pada awalnya aku memang berpikir, aku seorang Rio? Cinta hanya sebuah kata kata konyol yang nggak akan mungkin aku ngerti. Tapi sejak ada kamu."
Aku yang semula memalingkan wajah perlahan kembali menatap matanya. Sepasang bola mata sayu yang selalu berhasil memikat para wanita. Dan kini aku termasuk salah satu nya.
"Sejak ada kamu, aku mengerti key. Keseriusan itu adalah kamu, cinta itu adalah kamu. Nggak ada alasan apapun. Aku hanya tahu, kalau aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku. Yang artinya kita ini satu. Dan memang ditakdirkan untuk bersama, jadi Keysa Nadira Putri...
Ya Tuhan, Aku tahu Rio memang punya keahlian dalam membut wanita tersipu. Tapi mendengarnya sendiri, saat ini. Bagaimana aku tidak tersanjung. Perlahan ia meraih kedua tanganku, mengenggamnya erat, membawanya mengarah pada dadanya, tepat berada di bawah dagunya, dengan sepasang tatapan yang membuat ku terhipnotis.
"Keysa Nadira Putri, maukah kamu menghabiskan waktu seumur hidup bersamaku. Bersama si brengsek yang sedang mencoba untuk berubah."
Deg.... mendadak jantungku rasanya ingin berlari dari tempatnya. Ini serius. Rio ini lagi apa sih?
"Aku mau membiasakan diri menjadi orang pertama yang kamu lihat saat kamu akan tidur. Dan aku juga ingin kamu menjadi orang pertama yang kulihat saat bangun. Aku ingin membiasakan diri dengan senyuman kamu saat berangkat kerja, aku juga ingin kamu terbiasa menjadikanku tempat bersandar lalu aku juga mau...
"Stop stop, cukup Rio, mau berapa banyak hal lagi yang mau kamu jadiin kebiasaan?"
"Singkatnya adalah Key, aku hanya mau kamu. I want you Key. Will you marry me?"
Aku melepaskan kedua tanganku, dari genggamannya. Bingung antara kaget, senang, terkejut tapi juga gelisah.
"Kamu kenapa Key? Apa ini artinya kamu nolak aku?"
Tidak Rio, bukan menolak. Hanya saja aku mencintaimu, sungguh, tapi...
"Aku... a aku... Aku nggak tahu. Aku senang, iya aku senang banget. Tapi kamu tahu kan, kamu ngerti keadaan aku kan yang sekarang. Aku merasa kamu pantas dapat wanita lain yang lebih sempurna dan lagi..
"Sssuuuttt"
Rio meletakkan jari telunjuknnya di depan bibirku. Membuatku terdiam, padahal masih banyak hal yang harus ku katakan.
"Aku tahu, kemana arah kalimat yang akan keluar dari sini. Tapi aku nggak peduli. Apapun yang terjadi, apapun keadaan kamu. Aku cuma mau kamu. Please Key, aku nggak akan janji apapun. Aku cuma akan buktiin, bahwa aku serius. Aku mau kita menikah. Percaya sama aku. Kita bisa. Kita pasti bisa, menjauh dari masa lalu yang buruk dan membuat masa depan kita yang baru."
Baiklah aku menyerah. Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya membuatnya berada dalam pelukku. Ku pejamkan mata, merasakan aroma tubuhnya yang menyejukankku. Aku tak punya keinginan lain. Ini sudah lebih dari cukup. Menghabiskan waktu bersama orang yang kucintai dan mencintaiku. Tak akan ada yang salah.
"Apa ini artinya ya."
Aku hanya mengangguk, karena aku hampir tak sanggup berkata apa apa lagi. Aku merasakan pelukan Rio yang semakin erat.
"Kalau kondisi kamu udah pulih, aku akan segera bawa kamu ketemu sama orang tua aku. Makasih ya key. Makasih buat semuanya.
Ini terlalu sempurna. Dan sangat sempurna. Aku harap ini bukan mimpi. Akhirnya aku bisa bersama dengan orang yang benar benar mencintaiku. Ya Tuhan, jika ini mimpi, jangan biarkan aku terbangun. Biarkan aku mati dalam mimpi yang sempurna ini.