I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
IWY-3 EPISODE 10



I WANT YOU PART 3


AXEL AND KEYSA


SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE


Sudahkah anda bersyukur hari ini?


Rio Setiadi


"Huuuuh ..."


Aku menarik nafas panjang, melihat kedua mata Keysa yang berkaca kaca. Padahal aku tidak berteriak. Tapi dia seperti mendapat luka, setelah aku biacara. Aku rindu sekali saat ia masih jadi Keysa yang dulu. Keysa yang ceria dan tak pernah ambil pusing dengan semua problem. Keysa yang saat itu, masih jadi kekasih sekakigus sahabatku. Dulu rasanya begitu mudah untuk menjadikan semua hal menjadi bahan tertawaan.


Aku mengacak rambut dengan gusar. Antrian di ruko semakin banyak, cukup membuatku heran. Apa martabak itu begitu special. Kembali ku alihkan perhatianku pada Keysa.


"Maaf, jangan di ambil hati ya." ucapku lebih lembut.


"Aku harus pergi. Ini salah. Kita nggak seharusnya ketemu. Apalagi berduaan dalem satu mobil kaya gini." ujar Keysa.


"Kita nggak salah. Waktu yang bikin kita ketemu. Kamu pikir gimana caranya ada moment sekebetulan ini. Kenapa coba kita bisa tiba tiba ketemu. Disini! di tempat ini. Kita masih ada di bawah langit Jakarta, di bawah langit yang pernah membuat kita bersatu. Dan aku yakin nggak akan membuat kita pisah." seruku panjang lebar


"Takdir sudah bosan membuat kita berpisah, karena mereka tahu kita akan kembali bertemu." tambahku lagi.


"Hissshh"


Tuk ...tuk ...tuk


Tepat saat aku ingin memeluk Keysa lagi, anak kecil yang tadi membantuku parkir mengetuk jendela mobil. Agak geram juga aku dibuatnya.


"Kenapa sih de, nggak liat di dalem ada cewek? Gue lagi pacaran. Aduh ..."


Keysa menepuk punggungku keras membuatku meringis.


"Ini martabak yang Abang pesen. Katanya buat yang ngidam, tapi malah pacaran. Parah nih Abang."


"Huuh, anak kecil kepo. Tapi makasih ya. Ni buat lo, gue mau disini dulu bentar lagi ya." Aku memberikan beberapa lembaran uang, dan sifat alaminya anak anak keluar, dia jingkrak jingkrak sendiri.


"Haha, kalau ada duit beres bang."


Aku menutup lagi jendela mobil dan berbalik lagi pada Keysa yang kini menatap tajam ke arahku, bibirnya mengerucut memaksa untuk dicium.


"Apa? Ada yang salah."


"Pikir aja sendiri." jawabnya ketus. Aku terkekeh kecil lalu menarik tubuhnya lagi. Memeluknya lagi. Menciumnya lagi, pokoknya aku tidak ingin melepasnya lagi. Memang dia nampak agak risih. Tapi bagaimana? Otak, hati dan nafsuku kian membesar sekarang.


"Udah ya Ri, aku lagi nunggu Axel. Kalau dia udah sampe dan nggak liat aku gimana? Kamu juga kan harus kasih makanan itu buat Viona. Nggak baik bikin ibu ngidam buat nunggu."


"Tapi aku masih mau disini. Aku masih kangen kamu. Aku nggak mau lepas kamu."


"Rio ..." suaranya melemah. Aku yakin ada pertempuran batin antara menetap atau menjauh di hatinya.


"Tapi ini salah Ri ..."


"Jangan bikin aku marah. Ancamanku buat nelanjangin kamu itu nggak main main."


Tapi Keysa benar, kasian Viona. Ah tidak, maksudku kasihan anakku. Mau tidak mau, aku juga tidak bisa terus menetap disini.


"Ya udah." Aku mengambil kertas dan pulpen yang selalu kuselipkan di kantong belakang jok mobil. Setelah selesai mencatat nomor aku sodorkan kertas itu padanya.


"Hubungin aku. Aku nggak akan maksa kamu. Tapi kamu harus tahu, aku cinta kamu, sangat. Aku mau kita bersama lagi."


"Kamu gila Rio, udah jangan aneh aneh. Kita lupain semua ini "


"Kamu benar, aku gila, aku nggak waras. But i dont care, aku bisa jadi apapun selagi itu menyangkut kamu.


Aku bisa jadi orang paling baik untuk kamu, tapi juga bisa jadi jahat untuku kamu. Kita memang nggak bisa dapet status layak untuk saat ini. Tapi selagi menunggu itu, bisakan kita tetap bersama."


"Aku takut Rio, gimana kalau Axel tahu, gimana kalau Viona tahu, gimana kalau ..."


"Mereka nggak perlu tahu. Cukup kita aja."


Dan sekali lagi, aku mengeratkan pelukanku padanya. Aku takut dia akan pergi lagi, tapi ketakutan ku juga adalah pilihan. Harus bagaimana aku menahannya. Meski aku sangat mencintainya, tapi aku juga tak ingin menghancurkannya.


"Rio ...


"Diamlah."


Ahhh shit, apa ini. Duniaku, benar benar berputar, setiap sentuhan dan harum tubuhnya begitu ku rindukan. Tak pernah berubah hingga sekarang. Pada Viona aku hanya menjalankan kewajiban, tapi Keysa. Di setiap apa yang ada padanya, selalu membuatku candu, untuk memilikinya lebih dan lebih. Perlahan ku sentuh dagunya yang menempel di dadaku, mengangangkatnya, memaksa agar tatapan yang pernah ku miliki itu masih berada di tempatnya.


Memastikan masih adakah bayangan wajahku pada benda Itu. Ia menutup mata. Kenapa? Pipinya agak memerah, bisakah ku anggap ini sebagai lampu hijau, karena aku sudah tidak bisa menahannya lagi, perlahan lahan aku mendekatkan wajahku padanya, tidak seperti tadi. Aku tidak ingin ia marah jika tiba tiba aku menciumnya lagi. Jadi kali ini kulakukan sepelan mungkin, aku bisa merasakan nafasnya hangat menerpa di sekitar hidung, hanya sepersekian mili lagi aku bisa mencapainya ...


Tuk ...tuk ...tuk.


Astaga ada apa lagi sekarang? Aku memutar pandangan, berbalik dan membuka jendela mobil lagi. Cengiran anak itu sekarang menjadi mimpi buruk.


"Kenapa lagi sih de.? Kan gue udah bayar." seruku setengah berteriak. Bagaimana tidak, hampir saja aku aku melakukan moment romantis pada Keysa, dan dengan tenangnya anak itu malah senyum senyum sendiri.


"Maaf Bang, ada mobil lain mau parkir. Hehehe."


"Iya iya, gue pergi."


Tanpa diminta Keysa sudah membuka pintu. Begitupun aku yang juga harus pindah ke depan.


"Aku tunggu jawaban kamu."


Seruku sebelum akhirnya kami sama sama pergi.


__________


Terima kasih atas waktunya. Semoga terhibur. Jangan lupa like, comment dan votenya ya. kawan !