
Rio menghubungi nomor Ken berkali kali, ia bahkan sempat ingin membanting ponsel nya karena kesal dengan keadaan ini. Ken tak juga mengangkat telponnya. Kecemasannya tidak juga mereda. Apalagi setiap pandangannya mengarah pada ranjang Keysa yang masih meninggalkan jejak darah, pikiran pikiran buruk benar benar menguasainya sekarang.
"Ya Tuhan, tolong jangan sampai Keysa kenapa napa. Gue harus gimana, gimana?"
Tak ada ide lain, ia harus mencari Ken. Jika tak bisa menghubunginya, ia harus datang kepadanya. Rio bergegas keluar rumah dan segera melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Jalanan agak senggang karena hari sudah malam, ditambah lagi ini hari jumat, hari menjelang weekend, jadi penghuni ibu kota mungkin sedang mengungsi ke tempat wisata.
Tapi itu tak membuatnya terhindar dari umpatan umpatan pengendara lain, yang hampir saja menjadi sasaran empuk kecelakaan karena caranya meliuk liukkan motor. Sungguh hati dan otaknya sangat tidak stabil sekarang. Dalam pikirannya hanya satu.
"Key, tungguin gue. Gue pasti nemuin lo."
***
"Aaaarrrkkkhhhh apa sih yang dilakuin Nita di dalem? Kenapa lama banget."
Ken terus saja mondar mondir,menggerutu. Ia terus mengacak ngacak rambutnya, merasakan panik, gugup dan ketakutannya yang sedang menjalin hubungan baik dalam tubuhnya.
"Dr.Nita lagi berusaha. Lo harus sabar. Mendingan sekarang kita doain yang terbaik buat Keysa."
Ucap Leana tanpa menoleh. Ia tak lagi banyak bicara, ia duduk dalam diam. Pikirannya entah kemana. Ia hanya punya satu harapan yang sayang sekali harus ia sesali.
Key, kamu harus baik baik aja ya Key. Maafin Aku. Aku nggak pernah nyangka kalau sikap aku yang arogan dan egois ini akan bikin kamu terombang ambing di jembatan nyawa. Ya Tuhan, maafkan aku. selamatkan Keysa. Selamatkan dia, selamatkan sahabatku. Aku tanggung segala resikonya. Meski aku harus merasakan kebenciannya karena kebodohanku sendiri. Setidaknya beri aku kesempatan. Kesempatan untuk menatap lagi wajah sahabat yang dengan bodohnya telah ku tinggalkan.
Air matanya menetes. Ia menundukan kepala, dirundung penyesesalan yang jelas jelas sangat terlambat. Terlintas dalam benaknya potret potret bahagia sebelum mereka tak lagi saling bicara, sebelum mereka memutuskan untuk saling tak mengenal, hubungan yang lebih dekat dari siapun, saling mengerti pada sifat masing masing, tak ada yang lebih mengenal Lea selain Keysa tapi justru tak sebaliknya, Leana tak mengenal baik sahabatnya itu.
aarrkhhh shhittt kenapa gue baru sadar di saat kaya gini sih.
Ken juga masih bertahan dengan posisinya, mondar mandir membuat orang pusing melihatnya. Memikirkan segala macam kemungkinan terburuk yang terjadi yang membuatnya ingin bunuh diri.
Apa aku separah itu menyakiti kamu Key. Sampai aku harus berkali kali berusaha menyingkirkan kecemasan ini. Ku mohon bertahanlah Keysa. Sebentar lagi, setidaknya tunggu hingga aku siap mengucap maaf secara langsung. Masa laluku membuat aku takut, takut untuk mendekati wanita, takut untuk serius, takut untuk jatuh cinta. Tapi karena kamu, dan sekarang kamu menciptakan ketakutan lain yang lebih parah, aku takut kehilangan kamu Key. Kumohon Keysa, jika kamu bisa mendengar suara hatiku. ku benar benar mohon, berusahalah untuk bangun, berusahalah untuk membalaskan dendam mu pada ku. aku rela, asal kamu selamat Key.
"Apa yang bakalan lo lakuin."
Tiba tiba saja pertanyaan Leana mengusik kegusaran Ken yang sedang berusaha menyerangnya.
"Maksud kamu?"
Jawabnya masih dalam posisi berdiri.
"Kalau Keysa sembuh, kalau dia sadar. Dan dia lihat lo. Dia lihat ada orang yang nyakitin dia ada di hadapannya, orang yang hancurin dia benar benar ada di depannya gimana?"
"Kamu harus banget nanya itu di saat saat genting kaya gini."
"Intinya adalah, mungkin sebaiknya lo nggak temuin Keysa."
"Bukan kamu yang berhak nentuin aku harus ketemu Keysa atau nggak. Kita bahkan belum tahu gimana keadaan Keysa di dalam sana."
Pernyataan Leana perlahan menyulut emosi Ken.
"Gue yakin Keysa pasti akan trauma saat liat lo, liat si brengsek yang udah ngerusak masa depannya."
"Heyyy, kamu jangan sok suci. Masih mau salah salahan sama aku?
Tepat saat Leana akan meneruskan kalimatnya, Pintu terbuka. Dr. Nita keluar dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Selamatkah, berhasilkah? Atau malah celaka. Tidak, tidak boleh ada pikiran negatif hari ini.
Ken lanngsung menghampiri Dr.Nita dengan seluruh kegugupannya. Begitu pula Leana yang langsung beranjak dari kursi.
"Nita... kasih tahu aku. Keysa gimana dia baik baik aja kan."
"Iya Keysa pasti baik baik aja kan."
Tanya Lea khawatir.
"Aku mau bicara sama kamu Ken. Tapi mohon untuk kali ini benar benar hanya berdua. Bisa kan?"
Tatapan Dr. Nita mengarah pada Leana, yang kini merasa lemas dengan permintaannya.
"Teman kamu baik baik saja. Dia cuma belum sadar, kamu bisa menjenguknya nanti setelah dia dipindahkan ke kamar pasien. Aku cuma mau bicara beberapa hal penting sama Ken."
Leana mengangguk dan mundur. Lalu kembali duduk di bangku. Jujur saja ia sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan Dr. Nita. Tapi mendengar Keysa akhirnya baik baik saja sudah membuat Leana bisa bernafas sedikit lega. Ia tak akan lagi mengacau. Lebih baik ia diam disana dan menunggu.
Kali ini Dr. Nita memang tak seserius sebelumnya, tapi firasat Ken masih buruk. Tak mungkin Nita mengajaknya bicara hanya berdua jika tak terjadi sesuatu.
"Kamu beruntung, ini nggak lebih parah dari apa yang kamu lakuin ke Stella."
"Ahhh Nita, jangan bahas itu lagi. Itu mengingatkan betapa monsternya kelakuan aku."
"Tapi kenyataannyaan nya kamu memang monster Ken. Tapi udahlah aku sekarang punya kabar baik dan kabar buruk tentunya."
***
Nah lo, kira kira kabar baiknya apa? buruknya juga apa? kalau Rio nemuin kondisi Keysa yang kaya gini gimana?
Lalu apa Axel dan Rania akan jadi bertunangan setelah ini.
soo jangan lupa kasih vote like dan commentnya. Biar author banyak belajar dan lebih semangat 😜😜😜😜