
Keysa Nadira Putri
"Leaa..
Sapaku lirih saat memasuki dapur. Aku, Axel, Rio dan Leana sudah kembali ke rumah, tapi lebih tepatnya aku yang pulang. Mereka mengantarku kembali ke rumah, rumah yang sebenarnya membuatku teringat kenyataan pahit, dan jika bisa memilih, lebih baik aku tak kembali kesini. Tapi kemana lagi aku bisa pulang? Aku sudah tak memiliki siapapun, dan tak punya tujuan lain.
Sejak tadi aku di ruang tengah bersama Axel dan Rio. Tapi Leana tak menampakan dirinya. Jadi aku iseng mencari dan ternyata dia ada di dapur. Sebuah tempat yang dulu sangat mustahil ia kunjungi.
"Ehh, Key. Sorry, gue bikin dapur lo berantakan, tapi cuma kali ini kok."
Leana menyadari kedatanganku, dan jadi gugup. Ah lucunya kawanku satu ini.
"Kamu? Masuk dapur. Ternyata ada banyak hal yang berubah ya."
Itu benar, dulu Leana tak akan membiarkan goresan pisau dapur menghancurkan kuku kuku nya yang berwarna merah muda dan berkilau. Jadi aku agak terkesima juga.
"Hahahaha....
Dan sekarang dia malah tertawa. Aku berjalan mendekatinya lalu berdiri di sampingnya, meneliti kepiawaiannya yang baru muncul sekarang.
"Lo ngeremehin gue? lo nggak percaya gue bisa masak sekarang."
"Oh nggak, sama sekali nggak. Bukan gitu."
3 tahun berada jauh dari nya dalam keadaan yang tak enak, membuatku takut. Aku takut akan salah bicara atau membuatnya membenciku lagi.
"Udah, santai aja. Gue tuh kaya gini karena waktu kuliah di London gue sering kangen gitu sama makanan Indonesia. Dan disana makanan indonesia lumayan susah. Jadi gue liat liat you tube deh. Terus eksperimen disana. Gue pengen lo dan yang lain cobain masakan gue. Ya mungkin nggak se enak lo yang masak sih."
Sambil tetap fokus pada aktifitasnya Leana menjawab semua obrolan ku dengan santai, sesuatu yang sangat ku rindukan. Senyumnya, cerianya, celotehnya, dulu hampir setiap hari tak mungkin tak ada waktu tanpa mendengar suara dan curhatannya. Tetapi mendadak wajahnya jadi sendu kenapa?
"Key... lo udah tahu kan apa yang gue lakuin."
Ya aku tahu. Rio sudah menceritakannya padaku, marah? Tentu saja, kecewa ? Apalagi. Tapi apa yang bisa kulakukan, segala sesuatu ada sebab dan akibat. Mungkin aku pernah memiliki dosa di masa lalu, yang membuatku harus menanggung akibatnya saat ini.
"Ya... aku tahu. Tapi apa gunanya kita bahas sekarang."
Aku tertunduk, bagaimanapun bayangan kelam semua masalah dalam sebulan ini tak bisa aku lupakan.
"Gue nggak sejahat itu Key. Percaya kan? Ya gue emang jahat. Tahu kok. Tapi nggak separah itu..."
Suaranya melemah. Aku tahu, meski Leana pernah membenciku, jauh di dalam hatinya dia merindukanku. Dia menyayangiku, sama seperti aku merindukannya. Dia bukan sekedar sahabat, aku tak memiliki siapapun lagi selain dia.
"Mau nggak kita lupain semuanya. Dan kembali kaya dulu. Kembali jadi Lele dan Kekey yang nggak terpisahkan."
Aku menarik seutas senyum diantara bibir yang ku harap akan di balas senyuman juga.
"Apapun, asal kita bisa balik lagi kaya dulu."
"Erhhmm... apa gue ganggu acara Reuni kalian"
Suara Rio membuat kami menoleh pada pintu dapur, pria itu tersenyum sembari bersandar pada dinding. Membuat pelukan kami terlepas.
"Jadi akhirnya ada hikmah ya dari semua kejadian ini. Gue ikut seneng sekarang kalian balik lagi kaya dulu. Tapi Lea lo nggak lupa sama kompor di sana kan?"
Oh Ya ampun, saking hanyut nya dalam haru aku dan Leana melupakan kompor yang masih menyala. Tapi gadis itu masih tenang.
"Gue lagi manasin air belom mulai masak."
Jawab Leana, santai lalu membiarkan aku bicara berdua dengan Rio. Nampaknya dia mengerti situasi.
"Ehm Key, Aku dapet telpon dari Inge. Ada beberapa something yang harus aku urus di kantor. Ya selama kamu sakit, cukup lama juga aku ngilang dan bikin karyawan pada kusut."
"Oke, tapi kamu harus balik lagi sebelum masakan Leana mateng. Bisa kan?"
"Nggak masalah. Aku akan pulang secepat mungkin."
Rio mendekat, lalu mencium keningku sebelum ia pergi. Leana menyikut lenganku, setelah Rio menghilang dan memberikan tatapan menggoda. Ya, dia pasti sedang mengejek ku.
Baiklah tak ada salahnya kalau aku membantu Lea sedikit di dapur kan. Memasak ini itu untuk 4 porsi pasti membuatnya agak kerepotan kan.
"Lo mau ngapain Key?? Lo kan baru sembuh. Udah biar gue aja yang masak."
"Nggak papa, aku sehat kok, udah lama juga aku nggak gerak, tiduran mulu. Pegel juga.
Entah kenapa hari ini terasa begitu sempurna, persahabatan ku dengan Lea kembali, Axel dan Rio juga terlihat jadi akrab lagi. Senak kapan mereka baikan? aku tak akan bertanya. Takut kalau kalau pertanyaanku akan mengingatkan sesuatu yang tak pernah di ingat. Hanya saja aku merasa memiliki keluarga sekarang. Ya Tuhan, Bisakah ini bertahan lama. Semoga saja. Ku mohon jangan ada lagi penderitaan. Ini sudah lebih dari cukup. Hari ini harapan ku terkabul. Dan Mah, Pah, Reno, Ken. Jika kalian melihat ku dari atas sana, percayalah, aku sekarang bahagia. Dan ku harap kalian semua juga bahagia karena ku.
"Key.... lo ngelamun. Eh tunggu, lo nangis? kenapa Key."
Wah tanpa terasa aku memang jadi terharu. Tapi gengsi banget kan, kalau kukatakan kenapa juga air mata ku keluar.
"Apaan sih. Mata ku perih, ngupas bawang merah. Udah lama aku nggak masuk dapur."
"hahahaha, kirain kenapa. Bikin kaget aja lo."
Aku tersenyum dalam hati, terima kasih Ya Tuhan. Semoga tak ada lagi yang akan mengacaukan hari hari ku berikutnya.
***
**Tak henti henti nya aku promosi. Jangan lupa baca novelku juga yang berjudul HUJAN SATU MALAM.
Jangan lupa like komment and vote nya sobat. Arigatou gozaimase 😊**