I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 49



Axel Yudhistira


Heeehh, jadi aku kalah. Aku benar benar kalah. Aku menatap langit langit ruang tamu Keysa yang berwarna putih, bersandar pada dinding pemisah antara tubuhku dan mereka. Mereka pikir aku sudah tidur, padahal bagaimana mungkin mataku terpejam, saat aku berada pada satu atap dengan wanita yang ku cintai bersama pria lain. Aku menghadap pada dinding pemisah ini, sambil sesekali mengintip dari balik tirai jendela yang berada di sampingku.


Dan dengan sangat jelas aku mendengar kata kata demi kata yang sejujurnya aku tahu itu menyakitkan. Aku tahu itu tak baik untukku. Tapi aku tak bisa menutup telinga. Benarkah aku tak memiliki kesempatan lagi. Sekuat tenaga aku mengepalkan tangan, menahan keinginan untuk tetap berada di tempat ini, sampai akhirnya aku merasakan sentuhan lembut di tanganku.


Aku berbalik dan mendapati Leana berada di belakangku. Ia memegang tanganku. Membuat kepalan tanganku melemah. Dulu aku pernah sangat mengagumi wajah itu, dan mencintainya juga. Tapi entah sejak kapan rasa itu benar benar hilang.


"Ayo ikut."


Ucapnya pelan. Aku menurut saja, lalu dia membawaku ke salah satu kamar kosong. Aku duduk menunduk, di ranjang bersama dia yang juga kini ada di sampingku. Aneh memang, hanya karena cinta pria sepertiku bisa berubah melow seperti ini.


"Aku pikir kamu udah move on."


Serunya dengan nada mencibir. Dasar bodoh. Apa dia sama sekali tidak sadar, bahwa semua penyebab bencana ini adalah karena ulahnya yang gagal move on.


"Leana, ada beberapa hal yang berada di luar kuasaku. Meskipun aku sudah berusaha"


"Huuuhhhhh ya udah kamu tunggu disini sebentar."


Leana beranjak, dan meninggalkanku sendirian. Membuatku kembali melamun. 3tahun adalah waktu yang lama. Tapi mungkin tidak cukup lama untuk membuat hatiku terbuka pada cinta yang baru. Ohh Damn, kemana perginya Axel yang dulu. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa begitu berpengaruh, aku mulai tak waras. Aku butuh Axel yang dulu.


Tak lama kemudian Leana kembali, ia datang dan membuyarkan lamunanku.


"Nih,minum"


Aku melihat pada secangkir kopi yang di atasnya nampak asap yang masih mengepul, dengan aroma khas nya yang harum. Ia menyodorkannya padaku, sembari tersenyum lagi. Akhir akhir ini, Leana jadi sering tersenyum.


"Aku masih inget kok, dulu kalau kamu punya masalah, kamu bilang cuma secangkir kopi yang bisa bikin kamu lebih tenang. Biarpun nggak seratus persen. Tapi ya pokoknya semoga ini bisa bikin kamu lebih baik."


Aku masih menatap kopi itu saat Leana mengatakan kalimat yang tak kusangka akan terucap dari bibirnya. Lalu mataku melirik padanya. Benar benar waktu telah berubah. Dia tak pernah seperhatian ini padaku, bahkan saat kami masih bersama. Tapi sekarang dia jadi begitu manis. Sayang sekali perubahan itu datang terlambat.


Entah kenapa rasanya mungkin dia mengerti. Mungkin ia tahu apa yang kubutuhkan. Aku bangkit dan mengambil cangkir itu dari tangannya. Leana, benar, aroma kopi ini bisa menenangkan walau mungkin hanya sekitar 50 persen. Dan sisanya mungkin...


"Kenapa cuma diliatin ayo minum."


"Loh kok di taro, kamu nggak suka, atau mungkin kamu mau aku bikinin...


Kalimatnya terputus saat aku maju lalu meraih tubuhnya, membawanya dalam pelukku. Aku tak tahu, aku memang menariknya dalam pelukanku, tapi aku juga merasa seperti ada sesuatu yang membuatku membutuhkan pelukannya. Angan angan ku mulai bermain. Andai Keysa yang ada disini, andai tubuh Keysa yang sebenarnya dalam pelukku, aku tak akan melepaskannya, aku tak akan membiarkan apapun membuat nya pergi dari ku.


"Ehhmm Axel, kamu.. kamu nggak papa kan."


Aku melepaskan tanganku juga tubuhnya dari pelukanku. Pandangan kami saling bertemu, aku tak berkedip, dan kurasa ia juga melakukan hal yang sama. Gadis di hadapanku ini bukan Keysa, tapi aku tak bisa berhenti menatap wajahnya, membayangkan bahwa gadis itu sebenarnya adalah Keysa. Ya Tuhan, aku mulai kehabisan akal, perlahan lahan aku memiringkan kepalaku, mendekatkan wajahku pada bayang bayang Keysa yang ada dihadapanku, berusaha menghapus jarak, untuk menyatukan bibirku padanya.


Katakanlah aku gila, biarkanlah aku jadi tak waras, tapi otakku sedang di penuhi oleh wajah gadis yang kucintai, kurasakan nafasnya yang mulai menyentuh kulitku, hanya tersisa beberapa inci lagi agar aku bisa sampai pada benda merah muda yang menghipnotisku, sedikit, sedikit lagi Axel


"Eeerrrhhmmm hok...hok...hok..."


Aku dan Leana sontak berpaling ke arah pintu secara bersamaan. Kurasa Leana sama terkejutnya denganku, melihat Keysa dan Rio ternyata sudah berdiri di daun pintu. Dengan kedua tatapan yang pastinya heran bertanya tanya dan apalah itu. Ohhh bagaimana bisa aku membayanngkan Leana adalah Keysa. Sudah berapa lama mereka menyaksikan ini.


"Ehm, kayanya kalian lupa ngunci pintu. Gue udah berusaha nahan batuk nya supaya nggak ganggu kalian. Tapi ya gimana ya.."


Damn Rio sepertinya senang melihatku gugup. Dia malah menggaruk garuk kepala berpura pura bodoh. Aku juga tak tahu harus berkata apa.


"Ini nggak kaya yang kalian pikir. Gue sama Axel cuma... emmm cuma...


Dan Leana juga sepertinya tak berniat untuk membuat pembelaan. Aku semakin salah tingkah dan melihat sekilas ke arah Keysa. Kenapa dia tampak senang, kenapa dia terlihat biasa biasa saja. Sebenarnya aku berharap sekali dia marah. Akan sangat menyenangkan kalau dia marah dan cemburu. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.


"Udah udah ah.. ayo kita tidur. Rio, jangan ngomong apa apa lagi. Axel kayanya kamu harus keluar deh. Aku mau tidur sama Lea. Jadi kalian berdua sekarang keluar oke."


Rio kemudian merangkul bahuku, setengah menarikku keluar dari kamar gadis gadis itu.


"Udah, lo jangan sedih. Gue dukung 100 persen kalau lo mau balikan sama Leana. Biarpun otaknya pernah jadi gesrek, kayanya dia juga butuh kesempatan kedua buat berubah."


"Apaan sih lo. Nggak jelas. Lo salah paham. Nggak ada yang terjadi antara gue sama Lea."


Aku mendengar dia tertawa setelah terus menerus membicarakan Leana. Jadi dia benar benar serius mengira aku akan mendekati Leana lagi. Hehh, itu nggak akan terjadi, dan tak akan mungkin.