
Ken menoleh ketika merasakan gengaman tangan Keysa yang tiba tiba saja kembali. Keysa tersenyum, berusaha menyembunyikan kegugupan yang sempat membuat heboh hatinya.
"Udah selesai. Kok lama banget?"
"Ehm, ngantri sih. Banyak cewek yang pada touch up di toilet."
"Oh oke. Kamu laper nggak? Ayo kita cari makan."
Rio datang menghampiri Keysa dan Ken yang akan beranjak pergi. Nafasnya tak beraturan. Ia benar benar takut, takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya memang sudah tak ada di dalam genggamanannya.
"Ehm Pak Rio. Ada apa lagi ya.?"
Tanya Ken. Rio tak menggubris pertanyaan Ken. Ia justru mengalihkan pandangannya pada Keysa, yang sepertinya tak berani menatapnya.
"Key... gue bisa nggak ngomong sama lo sebentar?"
Keysa menelan ludah, mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk.
"Kenapa? Bilang aja disini?"
Bohong jika ia merasa baik baik saja. Hati gadis ini masih terpukul. Bingung kenapa ia bersikukuh bersama pria lain. Sedang hatinya justru ada pada lawan bicaranya. Rio sempat melirik ke arah Ken, dan kembali kearah Keysa.
Mengisyaratkan orang ketiga tak baik mendengar ini.
"Gue perlu 4 mata sama lo."
"Maaf Pak Rio. Sepertinya anda benar benar tidak menghargai saya."
Tentu saja Ken tersinggung. Rio lupa siapa yang sekarang ada di samping Keysa. Atau lebih tepatnya dia pura pura lupa.
"Eh lo diem ya. Gue nggak lagi ngomong sama lo. Gue perlunya sama Keysa."
"Rio cukup. Kalau lo mau ngomongin hal lain selain kerjaan nanti aja. Ayo Ken"
Rio menggertakan giginya. Ia benar benar menyesal kenapa begitu bodoh membuat masalah semacam ini, kenapa bisa begitu saja masuk perangkap mantan pacarnya. Dan heran, kenapa ia harus menjelaskan sesuatu pada Keysa. Apa pedulinya, sejak kapan seorang Rio jadi harus merendah. Kemana pesona seorang bintang kampus yang hanya tinggal menunjuk jari untuk mendapatkan hati sang wanita.
Harga diri gue tuh sebenernya dimana sih?
***
...tok...tok...tok
Keysa baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang empuk setelah Ken mengantarnya pulang. Sekarang sudah sekitar jam 09.00 malam. Dan ketukan itu benar benar sangat mengganggunya. Ia sedang merasa lelah, dengan pekerjaan dan juga hatinya.
"Deuuhh siapa sih. Nggak tau apa gue capek banget."
Dengan rasa malas ia mengumpulkan semua tenaga yang tersisa, berusaha bangkit, berjalan sempoyongan menyusuri dinding, dan membuka pintu. Ia terdiam sejenak.
harusnya gue tahu. siapa lagi orang gila yang bisa dateng malem malem kesini.
"Key..."
panggil Rio lembut.
Keysa menarik nafas panjang.
"huuuhhhfffttt Lo ngapain kesini?."
"Gue boleh masuk?"
"Cowok gue aja belom pernah masuk kesini. Lo siapa mau bertamu ke rumah gue jam segini."
Rio menunduk mendekatkan wajahnya pada Keysa. Jantung Keysa hampir copot mendapati jarak yang sedekat ini dengan Rio.
"Lo yakin tega ngebiarin gue nginep di luar?"
Ya ampun baru aja gue tadi nangis nangis liat dia ciuman. Sekarang sedeket ini, gue masih aja deg degan.
"Gue anggep diem nya lo itu setuju. Lo liat di tas gue udah penuh sama cemilan. Minuman dan Dvd film horor"
"Ayo cepet kita nyalain. Sebelom lo ngantuk."
Buru buru Rio menarik tangan Keysa, membawanya masuk ke dalam, dan lupa dengan siapa pemilik rumah sebenarnya.
"Lo mau nonton yang mana dulu? yang ini ini apa ini?"
Tanya Rio. Keysa bengong dan kesal dengan Rio. Ia pikir Rio akan menjelaskan sesuatu atau melakukan sesuatu yang membuatnya tersentuh. Tapi Rio malah asik dengan dunia nya sendiri.
"Lo nggak malu apa nginep di rumah karyawan lo mulu?"
Kata Keysa sinis.
"Sejak kapan lo ngaku jadi karyawan?"
Rio meletakan semua dvd dan barang yang dibawanya. Ia Mengalihkan tangannya pada bahu keysa, dan membuat gadis itu bersandar di dadanya yang bidang. Jantung Keysa kini berpacu dengan suara hati yang harusnya menolak kedekatan ini.
Tapi sayang sekali. Keysa telah jatuh hati, entah sejak kapan tapi ia pun enggan mengakuinya. Ia terlambat menyadari perasaannya setelah ia memiliki yang lain.
"Maafin Gue Key."
Ujar Rio sembari mengusap lembut rambut Keysa.
"Apapun yang lo liat tadi, semua itu cuma kebetulan. Semua di luar kuasa gue."
"Emang ada gitu yang namanya ciuman di luar kuasa."
Kenapa sih lo nggak bilang aja kalau lo cemburu.
"Ya pokoknya, gue nggak ada maksud buat sedeket itu sama dia."
"Lo nggak ada kewajiban buat jelasin apa apa sama gue. Gue nggak peduli."
"Tapi gue peduli Key."
Bukan nggak peduli. Gue cuma nggak mau egois.
"Lo tau key?"
Tanya Rio. Ia masih bertahan dengan posisinya semula. Sembari sesekali mengecup rambut gadis itu.
"Tau apa?"
"Kita nggak punya ikatan apapun. kita juga udah janji buat nggak bahas ini lagi. Tapi jujur gue nggak tahan, gue nggak tahu sejak kapan tapi...😳
Rio terdiam sejenak, memikirkan bagaimana caranya menyusun kalimat tepat untuk membuat Keysa mengerti.
"Tapi...?"
"Haaahhh udahlah. Intinya adalah gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo. gue suka sama lo. Gue nggak peduli lo pacaran sama siapa suka sama siapa jalan sama siapa, gue juga nggak peduli lo punya perasaan apa nggak sama gue. Tapi gue cuma mau tetep ada disini sebagai orang yang penting buat lo, orang yang selalu ada buat lo meskipun lo bahagianya bukan sama gue. Jadi jangan pernah berfikir untuk menjauh dari gue."
Rio mengucapkan satu paragraf penuh tentang perasaannya dalam satu tarikan nafas, Keysa tak tahu untuk mengutarakan itu semua Rio benar benar membuat jantungnya berlari lari. Keysa melotot mendengar itu semua, ia bangkit dari sandarannya dan memandangi wajah Rio yang gugup. Sulit di percaya pria ini bisa mengatakan hal itu semua, saat ini, detik ini, pada Keysa.
"Apaan sih Lo liat liat."
Kata Rio ketus. Diperhatikan Keysa pada saat seperti ini benar benar membuatnya tak nyaman.
--------
****Huuhhhh, lega bener mau diterima apa nggak yang penting udah ngomong.
Kalau versi aslinya di kehidupan gue sosok Rio itu emang bener bener super, super pede, super somplak, tapi cuma dia yang bener bener ngertiin gue.
lah jadi curhat.
udah lah ya, jangan lupa kasih vote dan like nya ya. dan tolong berikan saran karna author masih amatira*n.😁*