
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
"Berhentilah menjadi orang bodoh, dan hentikan semua ini."
"Gampang buatmu untuk ngomong kaya gitu. Kamu nggak ada di posisiku. Kamu nggak pernah ada di pihak yang mengejar. Kamu hanya tahu kalau semua orang harus ikutin semua mau kamu."
"Maksud kamu ini apa sih? Aku nggak ngerti."
"Kamu egois Key. Kamu mencoba untuk bahagia dengan orang lain tanpa tahu keadaanku gimana."
Kata kata Rio tadi siang kini terngiang ngiang di kepala Keysa. Meski akhirnya pria itu tetap mengantarnya pulang, kenyataan bahwa Rio tidak akan menyerah sudah sangat terlihat jelas. Keysa sekarang tengah berbaring di ranjangnya. Menatap langit langit, kamarnya, sambil sesekali melihat jam pada dinding. Sudah jam 8 malam. Tapi Axel belum juga pulang. Tidak seperti biasanya. Memang belum larut sama sekali, tapi bukankah mereka susah memiliki rencana.
Keysa bangkit dari tidurnya, Ia meraih tas yg digunakannya tadi siang, merogoh ponsel di dalamnya, lalu mengumpat dalam hati saat menyadari ponselnya mati.
"Sial lupa Gue cas Lagi." Batinnya.
Diliriknya kembali tas yang masih terbuka, menampakan secarik kertas yang masih setia menjadi perdebatan batin dan logika dalam hatinya. Kertas yang ingin sekali di buangnya tapi juga merasa akan membutuhkannya.
Namun sekarang keadaannya berbeda. Saat Keysa berkata ingin mencobanya, bukanlah tanpa alasan. Beberapa waktu terakhir, beberapa kali juga Keysa pergi ke Psikiater. Tidak, jangan berpikir bahwa psikiter hanya melayani orang gila. Mereka bilang ...
"Kau akan tahu dengan sendirinya jika memang sudah sembuh. Bersabarlah,karena semua asumsi ada pada pikiranmu sendiri."
Karena itu, hari ini Keysa sudah bersiap, merapikan kamarnya sebersih mungkin, mandi, berkali kali melihat ke cermin sambil terkadang tersenyum sendiri. Jika memang harus, jika memang trauma nya hilang, hanya satu orang yang boleh melakukannya, dan orang itu adalah Axel.
Jadi di raihnya kertas tadi, diremasnya kertas tersebut. Lalu dibuanglah nomor Rio ke dalam tempat sampah, bersama semua kenangan dan asumsi praduga yang memang harusnya enyah sejak lama dari hidup Keysa.
__________
Axel sudah bersiap siap untuk pulang, senyum merekah, terpancar dari raut mukanya, membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. Sambil bersiul, ia berjalan di parkiran menuju mobilnya. Sudah agak malam, tidak disangka setelah ia membiarkan Caffe itu tanpa arahanya, masalah rumit benar benar menguras tenaganya. Tapi sudahlah. Jalan menuju Apartement kan cepat. Ia sedang membuka pintu mobil saat sesuatu menarik perhatiaannya.
"Ahhh, ampun Kak ampun. Huuuuhu. Lepasin aku kak."
"Gue nggak akan lepasin sebelom lo balik sama gua."
"Nggak, aku nggak mau. Lepas!"
Samar samar, terdengar suara sepasang muda mudi yang bertengkar. Axel berusaha tidak peduli tapi, suara tangisan seorang gadis itu mengingatkannya pada sesuatu.
Ia menutup kembali pintu mobil, lalu berkeliling mencari sumber suara yang ternyata berasal dari pojok parkiran. Matanya melebar saat mendapati karyawannya sedang bertengkar dan mendapati gadis itu sempat mendapat perlakuan tak pantas. Ia ingin tidak peduli, tapi menyakiti wanita di daerah kekuasaanya ternyata cukup membuatnya panas. Bolehlah, menawar tidak peduli di tempat lain. Tapi ini parkiran Caffenya loh.
Dengan segera Axel menghampiri mereka, menarik baju si pria dari belakang, lalu melesatkan beberapa pukulan yang langsung saja membuatnya KO. Membuat si gadis bengong antara kaget, lega dan kagum yang bersatu.
Axel menghampiri karyawan yang ditolongnya.
"Jangan lupa, bilang terima kasih," serunya pada Inara yang masih melongo. Namun dengan panik Inara berteriak.
"Awas Pak Axel!"
Axel menoleh, dan didapatinya pria tadi menodongkan pisau. Untunglah Axel masih sempat menghindar, meski lengannya sedikit tergores.
"Kamu pergi atau aku lapor polisi!" ancam Inara.
"Heh, coba aja kalau lo berani."
Pria itu kalang kabut, ia pergi namun masih juga mengancam.
"Urusan kita belom beres. Liat aja nanti."
Inara bernafas lega setelah pria itu pergi dan hampir saja melupakan fakta pertama, bahwa Axel menolongnya. Si bos tidak berprasaan yang sempat membuatnya menangis tadi siang justru kini menolongnya. Ia menghampiri Axel dengan ragu dan kikuk.
"Pak ...Pak Axel, terima kasih ya Pak. Maafkan saya pak."
"Saya antar kamu pulang."
"Ja ...jangan Pak. Nggak usah. Bapak udah nolongin saya. Itu udah lebih dari cukup."
"Mau saya antar pulang, atau mau saya pecat lagi."
"Eeh ..."
Mau tidak mau Inara menurut juga. Daripada dipecat lagi pikirnya. Mencari pekerjaan itu tidak mudah.
"Kok bisa sih lo punya hubungan sama laki laki macem preman kaya gitu. Lo **** ya." Teriak Axel sambil mengemudi.
Inara mendelik kesal. Mendadak rasa hutang budinya pergi berlalu begitu saja.
Axel juga mungkin mendadak lupa bahwa Inara, gadis sampingnya ini hanyalah karyawan yang kebetulan membutuhkan pertolongan. Ia malah memarahi gadis itu.
"Cari cowok itu yang bener. Jadi cewek itu jangan mau dibego begoin."
"Bapak ini nggak tahu apa apa."
"Tapi gue nggak ****."
"Bapak pernah denger istilah cinta itu buta kan pak. Jalan cinta bapak mungkin terlalu mulus."
"Hehh, lo cuma nggak tahu, gue udah kebal sama yang namanya buta karena cinta, karena cinta gue lebih dari itu."
________
"Ehmmp"
Keysa menggeliat merasakan tubuhnya yang mulai memasuki dunia nyata, namun tubuhnya terasa susah bergerak. Saat sadar, ia mendapati Axel yang masih tertidur pulas, memeluknya. Keysa lupa sampai jam berapa ia menunggu Axel pulang, tapi terkhir kali seingatnya, ia ada di ruang tengah, menonton netflix.
Mungkin Axel menggendongnya. Axel bahkan masih menggenakan kemeja dan celana yang sama. Perlahan lahan Keysa mengangkat tangan Axel dan beranjak dari tempat tidur.
Drrtt ... Drrtt
Keysa melirik ke arah ponsel Axel yang menyala diatas nakas. Tidak seperti biasanya Keysa merasa ingin tahu. Biasanya ia akan acuh tak acuh, mengingat Axel yang sangat jelas mencintainya. Tapi kali ini, entah kenapa Keysa begitu penasaran
"Selamat Pagi Pak. Semoga hari ini Bapak sudah lebih baik ya. Terima kasih untuk segalanya tadi malam ya Pak. Semoga hari Bapak menyenangkan."
Keysa menelan ludah, menarik nafas panjang. Merasakan jantungnya yang berdebar, Keysa mendekati suaminya yang masih tertidur lelap perlahan lahan. Ia mencium, mengendus seuatu pada tubuh pria itu dan menemukan wangi yang berbeda. Aroma parfum yang tak dikenalnya, dan sukses membuatnya melemah.
Ia berjalan mendekat ke arah tempat sampah, dekat pintu kamar. Memungut beberapa kertas yg di remasnya semalam. Menatapnya deretan angka itu dalam diam. Bertengkar dengan hati dan pikirannya sendiri.
__________
Terima kasih. Atas waktunya, setiap Chapter selalu saling berhubungan, jadi baca terus, setia terusa sama I want you. Jangan lupa like, coment dan vote nya ya.