I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 46



Keysa Nadira Putri.


"Ehmmm wanginya sampe keluar. Kamu lagi masak ya key?"


Setelah agak lama Rio pergi sekarang giliran Axel yang datang. Aku dari tadi tak beranjak dari dapur. Jadi ku pikir mungkin dia sudah pergi tanpa pamit. Kulirik sedikit pada gadis yang pura pura sibuk di sebelahku, Leana sempat melihat nya, cukup lama. Lalu kembali pada aktifitasnya. Aku bisa menyimpulkan sesuatu yang jika ku utarakan akan membuat salah paham


"Bukan aku, coba lirik ke sebelah sana. Dia keren kan. Sekarang aku lagi jadi asisten dapur."


Axel tampak melihat sekilas padanya, lalu mengalihkan perhatiaanya lagi padaku. Aku jadi nggak enak sama Lea.


"Key, ya ampun gue lupa, beli jahe sama lengkuas. Lo punya nggak di kulkas?"


"Aku jarang simpen bahan masakan. Lebih sering beli jadi atau yang instan. Harus banget ya pake itu, nggak bisa diganti yang lain?"


"Ya harus, kalau nggak nanti nggak enak."


Aku nggak suka liat mukanya yang jadi sedih. Padahal dia sudah berusaha keras untuk menyenangkan hatiku.


"Axel, kamu mau nggak beli dulu apa yang dibutuhin Lea. Pleaaasssee."


"Hah?


Axel menggaruk garuk kepalanya.


"Aku mana ngerti beli gituan Key. Jahe, lengkuas, bentuknya aja aku nggak tahu kaya gimana?"


"Ya udah, ya udah. Gue aja yang beli."


Hah, apa, Leana akan meninggalkan ku bersama Axel. Mana boleh, bisa bisa ada salah paham.


"Eh jangan jangan, aku aja deh yang beli."


"Nggak nggak lo lagi sakit. Lo tunggu sini. Gue nggak lama. Lagian gue juga masih ada beberapa daftar barang lain yang mau gue beli. Axel lo harus jaga Keysa. Jangan di apa apain. Udah punya Rio dia."


"Heeeemmmm"


Axel hanya menjawabnya dengan deheman. Dan berakhirlah aku dan Axel ada di dapur berdua. Kenapa bisa pas banget sih Rio pergi, Leana pergi. Ditinggalkan berdua disini bersama Axel. Rasanya canggung. Canggung banget. Yang membuatku canggung adalah tatapan pria itu, masih sama seperti dulu. Tatapan yang tak pernah ku mengerti. Meski aku tak memiliki perasaan apapun lagi, tetap saja ini tidak bagus kan. Hati manusia itu rapuh. Kalau bukan aku yang baper, bagaimana kalau dia yang baper lagi. Semua memang berawal dari baper baperan kan.


"Aku bantu ya Key."


"Bantu apa? Bantu ngeliatin. Udah kamu diem aja. Katanya nggak ngerti ama beginian.


Setelah perih mengupas bawang, sekarang aku merasakan perih, saat mengirisnya. Mungkin sudah lama aku tak menyentuh benda di dapur dan....


Crek..


"Awww"


Jariku teriiris sedikit. Hanya sedikit. Ada sedikit darah menetes disana.


"Key.. kamu kenapa. Sini aku liat."


Tanpa bertanya lagi dia meraih jariku, lalu menghisapnya, membersihkan sisa sedikit darah yang ada disana. Aku jadi inget moment ini saat aku bersama Reno dulu. Aku bisa melihat Axel begitu kawatir. Segera ku tarik lagi jariku dan menyembunyikannya di belakang tubuhku. Memandangnya dengan tajam, agar ia tahu aku keberatan. Harus ada sedikit jarak. Lagipula Ayolah ini juga hanya luka kecil. Aku bukan anak kecil, tak perlu berlebihan.


Dia mundur satu langkah, dan terlihat kikuk. Sudahlah lupakan, semakin lama di pikir. Kan semakin tidak masuk akal. Tapi mungkin ada baiknya kalau aku teras terang, pada perasaanku yang sudah benar benar bersih tanpa dia. Agar tak ada lagi kejadian seperti ini.


"Axel, aku harus perjelas sesuatu, aku.


Deg...


saat aku ingin protes atas sikapnya, tiba tiba saja, pandanganku teralihkan pada pada sesuatu. Kalimat ku terhenti, aku seperti merasa ada bayangan pada jendela di belakang punggung Axel. Bukan merasa, memang ada bayangan seseorang disana. Aku berlari menabrak tubuh Axel. Lalu melihat keluar jendela sesegera mungkin. Mengelilingkan pandanganku ke segala arah, tapi tak ada siapapun dan bayangan itu juga hilang entah kemana.


"Kamu kenapa sih Key. Kamu lihat sesuatu atau apa?"


Mungkin Axel juga bingung melihat tingkahku, yang tiba tiba berlari menabraknya.


"Aku tadi kaya liat sesuatu disini. Ia kaya ada bayangan orang, aku juga ngerasa kaya ada yang merhatiin kita dari luar.


Axel berjalan keluar menuju pintu belakang, agak lama, lalu kembali muncul tepat di depan jendela yang ku maksud. Ia mengangkat tangannya, pertanda tak ada apapun, dan tak menemukan apapun.


"Aku udah cek. Nggak ada apa apa. Mungkin kamu pusing kamu kan baru sembuh. Coba inget inget, mungkin itu bayangan kucing atau apa gitu."


"Nggak ada kucing segede Axel. Kamu pikir aku bohong."


"Ya nggak Key. Maksud aku bukan gitu."


Axel sepertinya tak percaya dengan apa yang ku katakan. Baiklah, kalau begitu aku yang akan bergerak. Aku berlarian keluar, mengelilingi rumah. Damn.. Axel benar, tak ada apapun. Tapi aku jelas melihat sesuatu. Ahhh gawat, aku tidak mau membuat asumsi gila.


"Key... udah, kamu baru sembuh. Jangan kemana mana terus."


"Tapi aku nggak bohong Axel. Aku beneran liat sesuatu."


"Tapi nyatanya kita nggak nemuin apa apa. Kamu kenapa sih halu?"


Aarrkhhh geram juga aku dibuatnya. Axel masih bersikeras. Tapi dia tak merasakan apa yang kurasakan.


"Kalian kenapa sih, aku denger kalian berantem lo dari dapur."


Tepat saat itu, kepala Leana muncul dari jendela. Agak kaget juga. Dia nggak bawa mobil ya. Aku nggak denger suara mobil atau kendaraan sama sekali.


"Kok kamu udah pulang, cepet banget Le?"


"Iya, ternyata deket sini ada warung. Jadi gue jalan kaki. Eh belom pada jawab. Kalian berdua pada ngeributin apa disitu? Mending sini deh. Bantuin gue, biar cepet beres. Laper gue."


Aku memandang Axel sekilas. Agak kesal karena dia tak percaya padaku. Aku ingin cerita pada Leana, tapi bagaimana kalau dia juga tak percaya seperti Axel. Apa memang benar aku halu. Ya udahlah, yang penting disini ada mereka, kalau pun ada sesuatu, pasti nggak ada yang berani jahat di rumah yang rame penghuninya kan.


***


**Semoga Author lagi baik hati dan nggak bikin sesuatu terjadi ya sobat. Hahaha


Jangan lupa Like, vote dan commentnya ya. Jangan lupa lagi baca juga novel yang satunya HUJAN SATU MALAM.


Oke Sekian Terima gajih 😊**