
"Saya tinggal dulu ya mba. Nanti kalau ada perlu apa apa, mba bisa panggil perawat."
Leana tersenyum pada perawat yang baru saja memindahkan Keysa ke ruang pasien, kemudian ia duduk di samping gadis itu. Tak ada pergerakan, tak ada suara, hanya rasa sepi yang kini menjadi penghuni lain di kamar itu. Wajahnya masih pucat, sangat pucat, hanya saja bibirnya tak sebiru saat pertama ia di bawa ke klinik. Untuk pertama kalinya setelah 3 tahun terakhir gadis itu bisa berada begitu dekat, tak lagi ada emosi, tak ada rasa kesal, apalagi rasa dendam. Bersalah, hanya rasa bersalah yang kini menyelimuti Leana, menyesal dan semua perasaan yang tak mampu menggambarkan betapa jahatnya apa yang ia lakukan. Ia mendekat pada telinga gadis itu, membisikkan sesuatu dengan harapan ia bisa mendengar meski matanya terpejam.
"Key? Apa lo nggak mau bangun. Ini gue key. Lea. Lo harus cepet sadar. Gue mau curhat sama lo, kaya dulu. Ada banyak hal yang belum gue ceritain sama lo. Banyak banget, semua hal yang gue alamin selama 3 tahun ini, masa mas buruk gue tanpa lo, karena nggak ada orang lain yang mau berbagi kesedihan sama gue. Gue nggak pernah bener bener dapet sahabat sebaik lo sampai saat ini. Gue ngelupain begitu banyak kenangan dan lika liku persahabatan kita cuma gara gara satu kesalahan. Satu kesalahan yang sebenernya gue juga tahu lo nggak mau itu terjadi. Jadi please. Buka mata Lo ya. Lo denger kan Key. Lo harus sadar. Sadar Key bangun. Gue mohon bangun."
Leana tak mampu lagi membendung air matanya. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain menangis, air mata mengalir begitu saja di pipinya.
...ceklek...
Terdengar suara pintu terbuka. Ken masuk dengan wajah yang tertunduk lesu. Leana tak menoleh, ia masih menggenggam tangan Keysa dengan sejuta doa dan harapan. Ken menatap wajah Keysa yang belum berubah seperti beberapa waktu lalu ia masih tertidur dan nampak cantik dengan keadaan nya yang sekarang. Ken hanya berdiri di belakang Leana sampai ia merasakan ponsel di dalam kantung celananya berdering untuk ke sekian kalinya.
"Angkat telponnya. Suara nya berisik. Nanti Keysa keganggu."
Kata Leana. Ken meraih ponsel dan mengangkat teleponnya.
"Hallo."
"Selamat malam Pak Ken."
"Iya ada apa?"
"Maaf Pak, ini ada klien yang bersikeras ingin bertemu Bapak, padahal saya sudah bilang, ini sudah malam, dan Pak Ken tidak bisa diganggu.
"Kamu nelpon buat ngabarin hal nggak penting kaya gitu. Klien mana yang nggak punya etika cari saya malem malem gini
Saya lagi di klinik, nggak bisa ketemu dengan siapapun."
"iya maaf pak."
"Kalau ada yang cari lagi. Kamu bilang aja saya sibuk."
Ken kembali memasukan ponselnya ke dalam celana. Dan tak lagi berkata apa apa.
"Apa kata dokter Nita tadi?"
Tanya Leana.
"Nggak ada, Cuma Keysa akan baik baik aja"
Ken menggigit bibirnya, menahan diri untuk berusaha terlihat baik baik saja, menutupi kebenaran apa yang terjadi, ia begitu malu untuk sekedar memberitahu apa yang telah ia perbuat.
Trauma yang dialami pacar kamu itu nggak main main. Aku nggak tahu kapan dia akan sadar, belum lagi kemungkinan bahwa dia akan merasakan sakit saat berhubungan atau jangka panjangnya jika dia hamil dan melahirkan. itu akan sangat mengganggu masa depannya. Berdoalah semoga dia hanya perlu penanganan dokter dan terapi.
***
"Gimana mba?"
Tanya Rio penuh harap. Saat ini Rio sudah berada di hotel milik Ken dan berhadapan dengan Resepsionist wanita, yang untungnya bisa di ajak kerja sama.
"Wah, Bapak harus tanggung jawab, saya kena omel nih sama Pak Ken."
Gerutu wanita itu.
Rio nampaknya benar benar memohon. Ya tentu saja, bertemu dengan Ken adalah satu satunya petunjuk dimana keberadaan Keysa dan apa yang terjadi.
"huuhhh Untung saya orang baik. Sekarang saya tahu Pak Ken dimana."
"Beneran mba, dimana?"
Rio sudah tak sabar, wanita itu hanya tesenyum penuh arti, ia hanya mengedipkan sebelah matanya. Mulanya Rio berpikir mungkin wanita itu sedang merayunya.
"mba jangan genit genit gitu. Saya udah punya pacar."
Kata Rio dengan percaya diri. Wah, wanita itu langsung melotot, pertanda dugaan Rio salah
"Ihh, Bapak geer ya. Masa nggak ngerti sih maksud saya."
Rio tertegun sejenak, dan mulai mengerti. Ahhh, tentu saja kenapa tak terpikirkan oleh nya. Di dunia ini mana ada yang gratis.
"Euuhh mata duitan juga. Ya udah nih cukup kan. Kan cuma minta kasih tau doank Ken dimana?"
Rio menyodorkan beberapa lembar uang, yang dengan secepat kilat segera menghilang dari hadapannya. Benar benar salah satu keajaiban dunia.
"Buset, ama duit semangat amat ya mba."
"Hehehe, ini namanya bisnis yang saling menguntungkan. Ya udah Pak Ken bilang dia lagi di klinik."
Jawabnya sembari menghitung lembaran uang yang diberikan Rio.
"Klinik mana? Klinik kan banyak mba?"
Wanita itu, mengalihkan pandangannya dari uang, kepada wajah pria yang masih nampak cemas.
"Pak Ken itu kalau bilang ke klinik pastiย cuma klinik dr. Nita."
"Klinik Dr.Nita?"
"Iya, Dr. Nita itu masih ada hubungan kerabat gitu sama Pak Ken. Gimana puas kan pak. Pokoknya akurat deh.
Rio terdiam. Semakin jadi saja kekawatirannya mendengar Ken ada di klinik. Mengingat darah, lalu sekarang klinik, jelas sudah. Terjadi sesuatu pada kekasihnya.
"Ya udah makasih ya mba."
"Iya, sering sering ya Pak tanyain Pak Ken. Biar uangnya ngalir terus."
Rio menghampiri motornya di parkiran hotel, dan sudah bersiap untuk segera menjajal kebolehannya di jalanan. Dengan kata lain, ia harus sampai secepat mungkin.
Tungguin gue key, gue pasti dateng.
****
Belom greget ya. Hehe author lagi bingung disini ujan mulu. Sekarang gue tahu, perasaan emak emak yang kalau jemur baju nggak kering kering tuh, ribet banget ๐๐
lah gue jadi curhat . Oke jangan lupa like dan vote nya. Mohon sarannya supaya author bisa bikin cerita yang lebih baik lagi.๐