I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 29



Rio memarkirkan kendaraannya di pekarangan rumah Keysa, ia terus menggerutu sepanjang perjalanannya menuju tempat itu. Klien nya kali ini benar benar menyita waktu, bertanya hal hal tak penting yang membuat Rio dilema jika ia tak meladeninya. Karena peraturan nomor 1, pelanggan adalah raja.


Sekarang sudah pukul 09.00 malam. Rio melihat pintu rumah Keysa yang terbuka.


*h*aduh kasian, Key pasti nungguin gue dari tadi. sampe lupa nutup pintu.


Tapi sekarang, Rio sudah siap. Ia sudah membawa seikat bunga, coklat dan mengemas kalung yang tempo hari di belinya dalam kotak kecil cantik. Sesuatu yang standar. Rio tak mengerti apa itu romantis menurut Keysa. ia juga tak tahu apa Keysa akan menyukainya, tapi tentu harapannya Keysa akan menangis terharu dan memeluknya. Wah imajinasi yang terlampau jauh.


Ia melangkah kan kakinya dengan santai, tak ada sedikitpun rasa curiga di hati maupun pikirannya. Yang ia tahu, ini adalah hari hari sempurna, tak akan ada yang bisa menggagalkan hari ini. Sampai di depan pintu, ia juga masih merasa baik baik saja. Barulah setelah mulai masuk beberapa langkah, ia bisa melihat dengan benar, Keysa orang yang apik dan telaten. Tapi kenapa ruang tamunya agak sedikit berantakan, ya hanya sedikit. Dan Rio masih belum menyadari apa apa. Ia hanya menduga mungkin Keysa kelelahan dan belum sempat bebenah.


"Keysa... key. Gue dateng key. Lo lagi dimana?"


Teriak Rio. Hemmm tak ada jawaban.


Ia masih tetap berjalan santai sampai di ruang tengah, tempat dimana biasanya Ia dan Keysa menghabiskan waktu dengan camilan dan dvd. Tapi ini lebih parah.


Keadaannya lebih berantakan. Barulah Rio mulai curiga. Firasat buruk kini menyeruak di dalam hati dan pikirannya.


"Gawat..." ucap Rio lirih. Ia melihat pintu kamar Keysa yang terbuka dan masuk kesana.


Meski kerap kali menginap, Rio belum pernah masuk dalam kamar Keysa. Ini pertama kalinya ia melihat isi kamar wanita yang kini benar benar menjadi kekasihnya.


Dan sama seperti sebelumnya. Keadaannya parah, bahkan lebih berantakan, dan yang lebih membuatnya tak bisa berkutik adalah saat kedua matanya bisa melihat dengan jelas warna merah mencolok yang ada ranjang Keysa. Ia mendekat, memastikan dengan seksama hingga ia yakin.


"DARAH...!!!!"


Tubuhnya melemas, pikirannya kalut. Berusaha menyangkal apa yang ditemukannya.


"Nggak Keysa... Key.. KEYSAAAA"


Rio panik keringat dingin mengalir dengan sempurna pada wajah dan tubuhnya. Ia tak bisa diam seperti ini, Rio mulai bergerak, ia berteriak teriak memanggil nama gadis itu, mencari ke kolong meja, membuka lemari, berusaha menemukan gadis itu meski di tempat yang tak masuk akal. Ia keluar kamar dan mulai mengelilingi setiap sudut rumah, dapur, kamar mandi, halaman belakang dan semua tempat yang bisa dijangkaunya.


"Arrrkkhhh Keysa.... lo dimana Key.."


Rio tak menemukan apapun, ia berpikir keras. Orang orang di komplek perumahan Keysa juga tak bisa diandalkan karena mereka jarang berinteraksi.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi. Keysa dimana?"


Rio kembali ke dalam, dan mengobrak abrik isi rumah Keysa. Ia harus menemukan sesuatu. Ya ia harus menemukan petunjuk. Dan tujuan terakhirnya kamar. Kamar Keysa. Ada darah disana, yang berarti terjadi sesuatu disana.


"Telpon, iya telpon. Aku harus telpon keysa."


***


"Kamu harus hubungin orang tua pacar kamu."


Tegas Dr. Nita. Ken mengacak ngacak rambutnya, menunjukan ia tak setuju dengan apa yang dikatakan Nita.


Ini benar benar ide yang buruk menurut Ken.


"Maaf sebelumnya, tapi setau gue orang tua Keysa udah meninggal. Keysa itu tinggal sendiri, dan satu satunya keluarga yang pernah ia ceritain ke gue cuma tantenya. Itupun di luar kota. Dan gue nggak tahu dimana." Leana ikut bicara.


"See, kamu dengar kan nit? Nggak ada yang bisa dihubungin. Nggak ada harapan" Tambah Ken.


"Tapi ini bukan hal sepele, harus ada yang  tanda tangan dan bertanggung jawab dengan semua resiko kemungkinan juga tindakan di klinik ini."


Semua perkataan Dr.Nita begitu merasuk ke dalam hati dan pikiran Leana. Meski ia terus mengomel dan mengoceh, tapi ia juga takut, bingung, merasa bersalah. Apa separah itu, apa kali ini ia sudah terlalu kelewatan. Ia tak bermaksud menyakiti Keysa.


"Gue tanggung jawab."


Tegas Leana.


Ken mengalihkan pandangannya pada Leana yang kini begitu serius menatap Dr.Nita


"Apah? Kamu?"


Tanya Ken.


"Ya, gue bakal tanggung jawab dengan semuanya. Lakuin yang terbaik dokter. Tolong selametin sahabat gue."


Dr.Nita mengangguk dan tak perlu menerima persetujuan dari Ken, karena bisa saja kali ini, nyawa seseorang menjadi taruhannya.


***


Rio menekan speed dial yang terhubung langsung dengan ponsel Keysa. Tak lama kemudian samar samar ia mendengar dering ponsel keysa yang sangat ia kenal. Ia mengikuti sumber suara yang ternyata berasal dari ranjang Keysa. Rio mengangkat bantal yang ada di ranjang gadis itu, ia memutuskan panggilan karena sudah menemukan ponsel gadis itu. Tapi yang lebih membuatnya tertarik saat ini adalah benda yang juga ada di balik bantal itu.


"Ini, ini punya siapa. Ini bukan punya Key."


Rio memperhatikan benda itu dengan seksama, sebuah jam tangan pria. Sangat bagus dan nampaknya bukan barang sembarangan, ini pasti barang mahal dan asli.


"Darimana Keysa punya barang kaya gini. Apa ini petunjuk. Lebih baik gue telpon polisi."


Rio sudah kembali meraih ponselnya dengan niatan untuk menghubungi polisi. Tapi tunggu, itu terlalu lama. Akan ada banyak pertanyaan, dan ia akan semakin panik. Rio mengurungkan keinginannya, dan berpikir keras.


"Pikir Rio, pikir. Lo tahu semua orang yang  berhubungan dengan Keysa akhir akhir. Siapa cowok kaya yang mungkin punya jam semahal ini"


Rio memukul mukul kepalanya, merasa marah pada diri sendiri, kenapa ia tak kunjung mengingat sesuatu. Namun sebuah nama kini terlintas dalam benaknya ia membuka mata, dan nama itu semakin jelas dalam ingatannya.


"KEN....!!!!!"


***


Disarankan untuk membaca I WANT YOU bagian pertamanya juga ya. Oke terima kasih atas dukungannya. jangan lupa like dan coment 😚😚😚