
Leana masih diam terpaku pada tempatnya berdiri. Ia ingin membaur ikut menyentuh sahabatnya yang kini tak bernyawa. Tapi ia juga terlalu merasa kotor. Merasa bahwa untuk berada di ruangan ini pun ia tak pantas, merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tahu, ia terlahir sebagai gadis yang manja, ia terbiasa mendapatkan apapun yang ia mau hanya dalam sekali tepukan. Itu menjadikan nya pribadi yang egois, dan merasa tak puas jika ada yang menyaingi nya. Tapi kali ini, ia juga tak menyangka sifatnya yang buruk bahkan telah menghilangkan nyawa seseorang, terlebih orang itu adalah sahabat baiknya.
Keysa, jika kamu mendengar ini maka tolonglah, aku minta maaf. Aku menyesal, aku sangat menyesal. Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk sekedar melihat mata kamu terbuka. Ini salah, aku tahu, aku tahu kesalahanku. Kamu jangan kawatir disana. Aku akan bertanggung jawab. Setelah ini aku akan menyerahkan diri pada polisi. Aku nggak mau hidup dihantui rasa bersalah.
Ken terduduk di pojok ruangan itu setelah Rio berhenti memukulinya, wajahnya membiru penuh dengan lebam, ada sedikit darah mengalir di sudut bibirnya. Jika normalnya, ia pasti akan membalas semua rasa sakit yang diberikan Rio, tapi saat ini. Kehilangan Keysa adalah hal terburuk yang lebih menyakitkan. Ia pernah memiliki perasaan cinta dan terluka karena kesalahan juga hubungan terlarang yang tak mungkin akan berujung menjadi satu. Dan ia mulai merasakannya lagi pada gadis yang kini terbaring rapuh pada ranjang di hadapannya. Ia menyukai gadis itu sejak lama, bahkan mungkin sebelum ia dan Rio sadar bahwa mereka saling menyukai.
Beberapa tahun lalu, tepat di hari pernikahan Stella, tepat disaat ia berpura pura menebarkan senyum kebahagiaan, ia juga menangkap sosok gadis itu. Sosok wanita ayu, manis yang menatap pasangan pengantin itu cukup lama. Cukup lama bahkan hingga berderai air mata. Ken sempat berpikir gadis itu akan mengacaukan segalanya, kebahagian pada Stella yang tak bisa diberikannya. Tapi tidak, gadis itu hanya diam. Menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi dan kesedihan nya. Hari itu Keysa membuatnya yakin, bahwa ia tak sendiri. Ada hati yang juga sakit menyaksikan semua ini. Namun saat ia ingin menghampiri gadis itu, seseorang menarik gadis itu, membawanya pergi. Sesorang yang tengah menggenggam tangan Keysa saat ini, dan itu bukan Rio. Orang itu adalah Axel. Ken sempat mencari tahu siapa gadis itu, ia ingin mengenalnya, ingin tahu tentangnya lebih jauh. Gadis itu menarik perhatiannya. Tapi entah kenapa Tuhan begitu baik menyembunyikan Keysa selama ini.
Dan setelah bertahun tahun, setelah Stella mulai membaik, akhirnya Ken tahu. Stella menunjukan sebuah foto, sebuah protret yang mengingatkannya pada gadis itu lagi. Keysa lah gadis yang membuat Stella mengalami depresi berat, membuat adik semata wayang yang pernah menjadi angan angannya dalam sebuah ikatan pernikahan mengalami gangguan mental. Ia sudah berjanji akan membalaskan dendamnya. Tapi lama kelamaan perasaan itu muncul. Dan berubah menjadi rasa ingin memiliki. Dilema pada sebuah janji dan cinta.
Hingga akhirnya penyesalan hanyalah sebuat kata yang tidak berarti.
*K*ey, maaf. Aku gagal. Aku gagal menyelamatkan kamu. Bahkan jika aku ikut mati apa kamu akan memaafkan aku. Atau mungkin lebih baik kita mati bersama. Mungkin disana tak ada lagi yang akan memisahkan kita. Hanya aku dan kamu.
Tak ada yang abadi di dunia. Semua orang tahu, semua orang mengerti akan hal itu. Tapi tak ada yang bisa mengikhlaskan kepergian seseorang apalagi hanya dalam beberapa menit.
Setiap takdir, jodoh, kematian, semua sudah di atur. Jika Keysa pergi saat ini, berarti ada rencana yang lebih indah di baliknya. Kita hanya perlu percaya segala seuatu adalah yang terbaik, namun kali ini kepergian Keysa ternyata bukanlah hal yang terbaik. Dan hari ini, takdir itu tidak menjadi miliknya. Detik itu juga di saat semua orang menutup mata, mengenang akan kepergian sang gadis pengisi hati, sesuatu terjadi. Seuatu yang menurut orang tak mungkin kini menjadi mungkin, seuatu yang sangat mustahil kini benar terjadi.
Perlahan lahan sepasang mata itu terbuka, seberkas cahaya memaksa masuk pada retinanya, membuat nya berkedip beberapa kali dengan sangat perlahan, tanpa terbantu gerakan dari bagian tubuh lain. Dan tak lama kemudian matanya kini terbuka secara sempurna, sebuh pandangan yang sangat di nanti nanti kan seluruh orang di ruangan ini. Namun tak ada yang menyadarinya, semua sibuk menutup mata. Merasakan kalut, air mata dan memanjatkan doa untuk si gadis beberapa detik lalu sudah tak bernyawa. Tak ada yang ingi melihat kesedihan ini.
Kedua mata itu kini bisa melihat, terbuka dengan sempurna. Jantung nya kembali berdetak, nadinya kembali berdenyut. Ia bisa meraskan sentuhan pada kulitnya. Tapi ia juga merasakan ada yang tak beres, ia tak tahu apa yang telah terjadi. Ia hanya tahu wajah pertama yang di lihatnya adalah.
Ucapnya lirih. Namun nyaris tak terdengar.
Axel masih menutup mata, menggemgam tangan gadis itu tepat di depan wajahnya.
Ini terlalu menyakitkan. Aku bahkan bisa mendengar suara kamu memanggil namaku Key.
Keysa melihat sekelilingnya, apa yang terjadi. Kenapa sekarang semua orang ada disini. Rio, Axel, Ken, Leana. Semua orang ada disini. Keysa belum menyadari bahwa ia telah membuat seisi ruangan ini merasakan yang namanya penderitaan.
"Axel..."
Ucapnya sekali lagi tapi kali ini sedikit lebih keras.
berhenti Keysa. Jangan terus memanggilku. Kamu membuat aku semakin merasakan kehilangan. Apa aku terlalu mencintai kamu, sampai aku bahkan nggak bisa merelakan kamu. sampai suara kamu terngiang ngiang ditelingaku ?
***
**Maaf ya, agak telat. Oke , jangan lupa like, vote dan commentnya ya. terima kasih.
jangan kawatir. peran utama, kalau sampe mati, malah gue ntar yang bingung 😁**