I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
IWY-3 EPISODE 4



I WANT YOU PART 3


AXEL AND KEYSA


SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE


Setiap manusia pasti memiliki masa lalu yang buruk. Dari sana kita bisa berkaca dan belajar bagaimana caranya untuk membenahi diri. Mengingatkan diri sendiri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Mengingatkan diri bahwa agar tidak jatuh di lubang yang sama. Tapi aku sekarang takut. Aku takut melakukan hal yang sama. Masih terekam jelas memori beberapa tahun lalu. Sebelum aku mengetahui semuanya, alasan yang awalnya mereka katakan adalah, umur kami masih terlalu muda, aku dan Reno masih sama sama kuliah. Biarkan kami berkembang lebih dulu. Baru kita bicarakan soal hubungan selajutnya. Pernikahan adalah urusan orang dewasa yang rumit.


But that is bullshit. Semua omong kosong, satu satunya alasan yang paling masuk akal adalah meski latar belakang ku tidak buruk, status dan levelku masih berada jauh di bawah keluarganya. Karena setelahnya Reno meninggalkanku, ku dengar dia dijodohkan, mereka bertunangan. Dan setahun kemudian mereka menikah. Reno menikahi perempuan dengan gangguan mental yang hampir membuatku menggila.


Tapi pada akhirnya semua itu menyadarkanku, bahwa uang adalah segalanya, tahta dan harta adalah segalanya. Semua harus sepadan. Si cantik dengan si tampan, si kaya tak bisa dengan si miskin. Jadi setelah ini apa yang akan terjadi.


"Key, are you ok?"


Axel menyentuh tanganku dengan tangan kirinya, sedang yang kanan masih setia berpegangan pada setir mobil.


"Aku tahu kamu pasti gugup."


Ayolah, kami menikah diam diam dengan alasan tak jelas. Siapa yang tidak akan gugup.


"Aku akan cerita sedikit, about story of Axel." Serunya sambil tersenyum.


"Baik, aku dengarkan."


"Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku, juga laki laki tapi dia sudah menikah. Kamu belum tahu kan?"


Betul, aku tidak tahu apa apa tentang Axel. Keluarganya, kesukaannya kebiasaanya, aku tidak tahu apapun. Tapi dia sangat tahu semua tentang ku.


"Sejak kecil Papaku selalu menyetir semua kegiatan kami, keinginan kami, cita cita kami. Ahh, nggak ada yg namanya cita cita kami. Yang ada hanya cita cita mereka. Papaku punya usaha besar di bidang IT dan ia ingin kami melanjutkannya. Kakakku ingin menjadi seorang arsitek, dia sangat pintar dalam hal itu. Sedangkan aku, aku tidak tahu ingin jadi apa saat itu. Hanya saja, aku tahu, kalau aku tidak ingin berada di bawah perintah orang lain."


Aku hanya manggut manggut mendengarnya bercerita dengan seksama. Ya jarang jarang Axel mau bercerita seperti ini.


"Kamu dengerin aku nggak?"


"Denger kok. Ya makanya aku diem. Aku lagi dengerin kamu. Jadi mau lanjut?"


"Oke, aku lanjut ya."


Ku anggukan kepala, tanda menyetujui permintaannya. Ia melepaskan tanganku. Dengan tatapan yang masih fokus, ia kembali bercerita.


"Kakakku, lebih penurut. Dari kecil hingga saat ini ia menjadi kebanggaan kelurga. Dirga ini dirga itu. Dirga is perfect. Beda denganku, yang lebih sering membuat masalah. Percaya nggak? Aku pernah hampir di DO waktu SMA. Simplenya aku tidak ingin diatur. Bahkan oleh guru."


"Sangat mudah bagi orang tuaku untuk menentukan jalan takdir Kak Dirga, mulai dari pekerjaan, kehidupan, setiap tindakan, dan juga jodoh."


Tepat sekali, jalan hidup orang kaya memang sudah di tentukan dari lahir. Kita tidak memiliki pilihan. Kecuali jika kamu berani hidup susah dan mengambil jalan lain.


"Tapi aku tahu Key, Kak Dirga sama sekali nggak bahagia. Aku sangat tahu. Karena itu aku beranikan diriku, bertekad kalau aku tidak ingin seperti Kak Dirga. Aku mau berdiri di kakiku sendiri, keluar dari rumah merintis usahaku sendiri sampai aku bisa membuat keluargaku percaya kalau aku tak akan seperti Kak Dirga. Aku bisa sukses."


Panjang lebar Axel bercerita, tapi itu adalah ceritanya. Aku tidak menemukan alasan yang membuatku untuk tetap bersikap tenang. Apalagi setelah akhirnya kami sampai. Kami melewati gerbang rumah Axel yang membuatku tercengang. Ya Tuhan, jadi ini rumah suamiku yang asli. Semakin ciut saja nyaliku bertemu dengan mertua yang pasti tidak merestui hubunganku.


"Ayo turun."


"Serius?"


"Oiya, aku jadi lupa. Inti dari ceritaku selama di jalan adalah begini. Apapun yang terjadi setakut apapun, se mustahil apapun hal yang kita lakuin, kita harus coba. Sama sepertiku, semua orang bilang nggak mungkin aku bisa hidup tanpa embel embel bantuan keluarga. But see, aku yakin kalau cuma buat ngajak kamu liburan ke luar negeri sebulan sekali, aku sanggup. Apalagi ini, cuma ketemu mertua."


"Serius. Kamu mikir gitu."


"Leana yang otaknya gesrek itu aja pernah bikin mamaku suka. Apalagi kamu, perempuan satu satunya yang paling aku cintai. Lagi pula, kalau memang mamaku ternyata punya pendapat lain. Aku masih punya rencana B."


Baru saja aku ingin bertanya, apa maksudnya, apa rencana B yang ada dalam pikirannya. Axel sudah keluar dari mobil, berlari berputar, lalu membuka pintu untukku. Memaksaku ikut masuk ke dalam rumahnya yang akan membuatku tersesat jika ingin ke toilet.


_________


"Bang Dirga, lo disini juga?"


Bukannya memberi salam, atau sekedar basa basi untuk menyapa. Setelah kami berjalan cukup panjang dan sampai ke ruang keluarga, pertanyaan itu yang terucap pertama kali dari Axel. Aku lega dia tidak melepaskan tanganku, itu memberiku sedikit kekuatan. Mataku menangkap sosok Wanita ayu keibuan yang sedang duduk di sofa, membolak balik halaman majalah, lalu terdiam saat melihat kedatanganku dan Axel. Dan ada seorang pria juga, yang nampak memperhatikanku dari atas hingga ke bawah. Dari garis wajahnya yang mirip Axel, kuperkirakan itu adalah Kakaknya.


Mamanya tersenyum memandang ke arahku, dan Axel. Tapi aku tidak menemukan keramahan dari ekspresi Axel. Kulihat Ibunya Axel atau Mamanya Axel menepuk nepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Sini duduk."


Axel membawaku melangkah. Tapi langkah kami mendadak berhenti saat Mamanya berkata, sembari menunjuk ke arahku.


"Bukan kamu."


Mendadak jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Kamu diam disana. Saya hanya butuh bicara dengan anak saya."


"Mah...,"


Terdengar suara Bang Dirga alias Kakak dari Axel lembut. Dia mungkin keberatan dengan sikap mamanya.


"Bang Dirga diam."


Axel membawaku mendekat ke arah Mamanya. Membuatku semakin takut. Jangankan untuk bicara, menatapnyapun aku tidak berani.


"Ceraikan dia."


Bagai disambar petir. Benar saja, apa yang kutakutkan menjadi kenyataan. Kali ini lagi lagi semua terulang, dan bahkan lebih parah.


"Dia istriku sekarang mah."


"Ceraikan dia."


"Nggak mungkin. Aku cinta dia. Maaf ma, Keysa sedang hamil. Dan dia hamil anakku."


"Apa?"


Aku, Mama Axel, bahkan Bang Dirga menyerukan kata yang sama. Semua terkejut. Bahkan aku juga. Apa yang ada di dalam pikiran suamiku ini. Sejak kapan aku hamil anaknya. Melakukannyapun aku belum pernah.


_________


Terima kasih atas waktunya jangan lupa like, comment dan vote nya. Ada yang kangen Rio? Episode berikutnya mungkin dia muncul. Salam sayang :*