
Mengemudikan mobil dalam kondisi panik itu berbahaya, bagaimana tidak? Sekarang Axel agak kewalahan mengikuti laju mobil Rio yang seperti orang mabuk dan tak waras.
Ia sudah menerobos lampu merah, menyalip kendaraan tanpa ampun dan menjadi pemicu kecelakaan. Belum lagi beberapa pejalan kaki yang hampir di tabraknya saat menyebrang. Jika Axel tak menjaga jarak, bisa bisa nyawanya terancam.
"Udah gila kali ya si Rio nih."
Axel terus menggurutu mengomentari apa yang dilakukan Rio. Padahal ia sama sekali tak tahu, bagaimana perasaan Rio saat ini. Antara cemas, takut, panik dan khawatir, menjadi satu kesatuan yang harmonis dalam otaknya. Tujuannya hanya satu, Ia harus segera sampai ke klinik secepat mungkin. Memastikan keadaan Keysa.
Setelah sekitar setengah jam Axel akhirnya ikut berhenti ketika mendapati Rio memarkirkan mobilnya di area parkiran Klinik Dr.Nita. Kecurigaannya kini semakin menjadi. Pertanyaan pertanyaan seperti apa yang terjadi? siapa yang akan ia temui setelah ia menerima telpon dari Leana? kini bermunculan. Ya tapi, dalam beberapa menit lagi Axel akan tahu. Dia akan segera tahu apa yang terjadi.
***
Rio berlari menuju tempat dimana Keysa berada. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat Leana yang tengah duduk tertunduk. Ia menghampiri gadis itu, dan berdiri di hadapannya. Firasatnya semakin buruk, ketika mendengar suara sesenggukan dari bibir gadis itu, karena bisa dipastikan ia pasti sedang menangis. Dan itu bukan tangisan biasa.
"Lea..."
Panggil Rio lirih. Wajah gadis itu terangkat, saat mendengar suara yang dikenalnya. Suara yang ditunggunya sedari tadi. Perlahan ia bangkit. Sekarang Rio bisa melihat jelas matanya yang sembab dan merah, pipinya yang basah dengan air mata juga nampak jelas, menggambarkan bahwa saat ini tak ada yang terlihat baik baik saja.
"Rio... rio... itu ehmm Keysa Ri."
Mendadak Leana menjadi gagap dihadapan pria ini. Padahal tadi ia ingin sekali segera menceritakan apa yang terjadi.
Rio meraih bahu gadis itu, merasa tak sabar. Ia bahkan belum mendengar apapun, tapi hatinya sudah merasa sakit dan pastinya akan lebih sakit lagi.
"Lo harus bilang ada apa. Buruan bilang ada apa. Lo harus jawab sekarang Keysa kenapa. Jangan kaya gini.
Rio bersikeras. Rasanya begitu sulit.
"Tadi kan Ken ada di kamar Keysa, dia bilang.. dia bilang tangan Keysa sempat gerak untuk beberapa detik. Tapi waktu dokter ngecek, kondisi Keysa malah semakin buruk. Dan dan...
"Dan kenapa, jangan setengah setengah donk lo ngomongnya."
Rio membentak Leana. Ia benar benar marah di saat seperti ini Leana masih sempat sempatnya gugup.
"Detak jantung Keysa semakin melemah. Dan tadi Perawat keluar lagi bilang dia makin kritis."
Tambahnya lagi.
Rio melepaskan tangannya dan mundur satu langkah dari Leana. Ia menatap seolah tak percaya, tapi harus percaya, ia takut, dan ketakutan itu menjadi nyata. Dan malah semakin bertambah.
"Lo nggak lagi bercanda kan."
"Jangan, lo nggak boleh masuk Dr.Nita sama perawat lagi berusaha di dalam sana. Ken ada disana, dan dia juga udah cukup mengganggu. Lo nggak usah nambah nambahin."
Dan sekali lagi susunan kalimat dari Leana membuatnya tak percaya lagi.
"Ken? Ken ada di dalam sana? Lo malah biarin penyebab dari semua problem ini ada disana. Lo udah gila Lea, lo udah gila. Gue lea, gue pacarnya. Gue yang lebih berhak ada di samping dia sekarang. Bukan si brengsek itu."
"Udah lah Ri. Sekarang udah bukan waktunya mikirin itu sekarang kita harus berdoa. Kita harus percaya. Keysa nggak kenapa napa."
"Semua gara gara lo. Lo, semua gara gara kalian berdua. Aarrrkkkhhhh"
Rio berteriak dan memukul dinding sekeras mungkin ia sudah tak mampu lagi menahan emosinya. Membayangkan Keysa berada di dalam sana, sedang berusaha bertahan dalam luka yang pastinya masih sangat membekas, sungguh Rio tak tahu lagi harus bagaimana. Dari kejauhan Axel bisa mendengar teriakan teriakan perbincangan Leana dan Rio. Ini juga seperti pukulan berat, sama sekali tak pernah terpikirkan, Keysa sekarang dalam keadaan kritis dan ia sama sekali tak tahu. Sejak kapan dan apa penyebabnya apa yang telah dilakukan Leana dan Ken. Sejak pertama kali Axel bertemu dengan Ken dan Keysa Axel sudah tahu, Ken pasti memiliki maksud pada Keysa tapi Leana? Ia sungguh tak akan mengira Leana bisa seperti itu. Meski hubungan mereka tak seindah dulu, bukannya Leana pernah menjadi sahabat terbaik Keysa.
Tapi apa yang dilakukan Leana dan Ken yang ternyata bisa membuat Keysa berada dalam kondisi seperti ini. Ia ingin sekali segera bertanya, namun nampaknya. Ini bukan saat yang tepat. Akan lebih baik ia berusaha, dan menahan emosinya. Ia harus menunggu perkembangan yang terjadi, menjadin penonton sementara hingga tiba waktu yang tepat untuk menjadi pemeran utama.
***
"Nita.. ta, Keysa kenapa ta. Kamu harus tolong dia, kamu harus bantu dia, kamu harus buat dia sadar....
Ken terus saja meracau saat pertama kali masuk ke kamar gadis itu, benar benar ide yang buruk, Ken hanya menambah masalah dan membuat Dr. Nita marah.
Tapi Nita kini harus fokus pada Keysa. Ia sudah tak ada waktu untuk membuat Ken diam, atau mengusirnya.
"Dokter, denyut nadi pasien juga melemah."
Ucap salah seorang perawat. Nita sudah melakukan apapun sebisanya. Tapi kini tak ada pilihan lain. Satu satunya harapan hanyalah...
***
**Yooooo, maaf banget ya. Author udah beberapa hari ini sakit. Jadi nggak bisa up dulu. Apalagi mikir.
Tapi ini bukan Corona, seriusan.😁
Doain ya biar Author cepet fit lagi.
oke jangan lupa like, comment dan vote nya.
Sekian, terima gajih 😊**