
"Kalian tunggu dulu di luar oke."
Seru Nita saat akan memasuki kamar rawat Keysa.
"Kenapa Nit? aku nggak mau, aku perlu disana Nit. Keysa butuh aku. Aku harus temenin dia"
Tegas Ken. Bukankah ini kabar bagus, setelah sekian lama ada kemajuan dan Nita malah tidak memperbolehkan nya masuk?
"Ini sudah prosedurnya. Ada beberapa pemeriksaan yang tidak cocok untuk menjadi tontonan. Mengertilah, aku hanya menjalankan tugas sebagai dokter."
Nita berusaha keras memberikan pengertian pada Pria yang nampaknya sudah mulai akan emosi.
"Udah udah. Ken Dr.Nita bener. Biarin dia kerja di dalem. Kita tunggu disini. Lo harus inget ini demi Keysa. Oke."
Tanpa menunggu jawaban siapapun, Dr.Nita dan 2 orang perawat segera masuk lalu menutup pintu. Ken menggerutu kesal, Ia berharap diantara rasa senang dan cemas, senang melihat ada kemajuan dalam diri Keysa, juga cemas takut kalau kalau kebahagiaannya dalam beberapa detik terakhir bisa menghilang begitu saja. Ia tak ingin kehilangan harapan apalagi setelah ini. Keyakinannya akan kesembuhan Keysa sudah sangat kuat.
Leana yang baru mengerti tanpa sempat mendapat penjelasan dari Ken pun hanya bisa pasrah, hanya doa? apalagi yang bisa diperbuatnya. Ia tak punya kekuatan apapun, selain harapan dan keinginan.
"Kenapa Nita selalu lama kalau lagi meriksa Keysa. Apa dia nggak tahu kalau semakin lama dia di dalem semakin panik aku mikirin segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi."
Ken mengacak ngacak rambutnya dengan gusar.
"Lo jangan bikin gue panik. Makin lo kaya gini, gue juga jadi ikut bingung."
Dan sekali lagi nasib sedang bermain main rupanya. Disaat kepanikan mulai melanda bersamaan dengan rasa gugup, dan kecemasan 2 orang yang sedang berdiri di depan pintu juga belum reda. Seorang perawat keluar dengan tergesa gesa. Dan tentu hal ini menimbulkan pertanyaan lain.
Tak lama kemudian, perawat itu kembali dengan beberapa alat yang tak dimengerti Ken dan Leana. Mereka menghentikan laju perawat itu, dengan rasa penasaran. Apa yang terjadi di dalam sana.
"Mba mba mba, bentar ini kenapa ya? Kok mba nya buru buru gitu. Terus ini alat alat buat apa mba? ada apa di dalem?"
Tanya Leana mendahului Ken.
"Detak jantung pasien melemah. Kami sedang berusaha melakukan tindakan, tolong keluarga pasien tenang disini. Maaf saya buru buru"
"APAAAHHH?"
Jawab Ken dan leana berbarengan. Mereka berdua saling melempar tatapan tak percaya. Apa yang baru saja dikatakan perawat tadi. Pasien yang di maksud ini Keysa kan.
"Nggak mungkin. Ini nggak mungkin. Baru aja aku ngerasa Tangan Keysa bergerak. Dia gerak, masih ada kehidupan. Ini nggak mungkin."
Leana enggan menanggapi. Ia juga cukup syok dengan apa yang terjadi. Segala pikiran dan dugaan buruk kini benar benar menguasainya, yang salah satunya apa jangan jangan ini akhirnya, apa yang akan terjadi, bagaimana kalau ada kemungkinan paling buruk yaitu...
"Aku harus tahu apa yang terjadi di dalem sana."
Ken menerobos masuk ke dalam sana. Meski Leana sempat menahannya, ia tak peduli lagi dengan apa yang terjadi. Ia juga tak mengindahkan larangan Dokter, ia hanya harus tahu bagaimana keadaan Keysa.
Leana di luar kamar sibuk menggigiti kukunya sendiri, berusaha keras, berpikir apa yang bisa dilakukannya selain berdoa dan menangis. Apa yang bisa ia lakukan untuk menolong Keysa. Dan satu nama tiba tiba saja terbesit dalam pikirannya. Rio... Rio harus tahu soal ini. Meski ia tak tahu apa gunanya ia menghubungi pria itu, tapi jelas. Rio berhak tahu, ia kekasih Keysa bukan? setidaknya jika ada Rio ia tak akan sendiri disana.
***
"Maksud lo apa? Gue sama Keysa cuma masa lalu. Lo tahu sendiri gue udah mau tunangan"
"atau jangan jangan terjadi sesuatu sama Keysa. Dan lo lagi nutupin sesuatu dari gue.?"
Tambahnya lagi.
"Lo tuh....!"
Dan tepat di saat Rio akan membalas apa yang dikatakan Axel, ponselnya berdering. Nama Leana tertera disana. Rio sempat melirik pada wajah Axel yang santai sebelum ia menjawab panggilan nya.
"Hallo. Rio?"
"iya Lea kenapa?"
Mendengar sapaan Lea yang keluar dari bibir Rio membuat Axel mengerutkan keningnya. Ia merasa familiar akan nama itu, dan membuatnya menduga duga.
"Lo harus buru buru ke klinik"
Suara Leana yang terdengar cemas dan panik membuat Rio khawatir, ia bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi.
"ya tapi kenapa? ada apa? lo harus cerita dulu."
"lo harus tenang oke."
"tenang tenang, apanya sih."
"Detak jantung Keysa semakin melemah. Doktet dan perawat lagi ngambil tindakan. Gue nggak tahu, tapi mereka kelihatan panik. Lo harus kesini sekarang juga. Gue tunggu."
Leana memutuskan sambungan Telponnya lebih dulu. Dan tentu saja apa yang dikatakan Leana barusan sangat berpangaruh. Dalam seketika tubuh Rio menjadi kaku, lemas, matanya hampir tak berkedip tatkala bukannya mendapat berita baik, ternyata malah semakin buruk.
Ia juga sudah tak bisa mengambil keputusan apa apa lagi, satu satu nya yang harus dilakukannya adalah pergi ke klinik se segera mungkin.
"Nama Lea yang lo sebut tadi itu, maksudnya Leana kan?"
Tanya Axel.
"Iya. Itu Leana. Gue harus buru buru. Lo kalau masih betah disini terserah tapi gue harus pergi."
Ujar Rio meninggalkan Axel di ruangannya.
"Heh...heh.. tunggu. Rio"
Axel masih tak habis pikir, bukannya Rio adalah pacar Keysa, kenapa ia malah terburu buru saat mendapat Telepon dari Leana. Dimana Keysa? Sejak kapan Leana kembali? ada begitu banyak pertanyaan dalam diri pria itu sekarang, dan ia tak ingin menjadi orang yang seperti arwah penasaran. Axel bangkit dari duduknya dan mengikuti kemana perginya Rio.
***
Kayanya bakal ada reuni alumni hati nih. Sayang aja Reno nya udah almarhum ya 😧
Oke jangan lupa, like vote dan commentnya.
Sekian.. terima gajih 😆