
Axel menatap jam tangannya sekilas, lalu kembali meminum segelas jus yang dipesannya tadi. Saat ini ia sedang berada di Caffe tempat biasa ia dan Rania sering kali menghabiskan waktu. Sebelum gadis itu datang, Axel sudah benar benar mempersiapkan diri. Hari ini semua harus selesai, dan tak ada lagi kebohongan. Bukankah itu lebih baik?
"Hon..."
Panggil Rania sesampainya di meja Axel.
"maaf ya, kamu pasti lama nunggu. Tadi nggak ada supir. Terus aku takut kalau bawa mobil sendirian malem malem. Jadi tadi aku pesen taxi dulu."
Axel memperhatikan Rania dari atas hingga ke ujung kaki. Sangat cantik, gadis yang selalu bersemangat. Hari ini ia menggenakan Gaun berwarna merah Maroon, dengan sedikit belahan dada, yang membuatnya nampak sexy. Dan ia memang selalu tampil memukau di hadapan Axel. Tapi sayangnya semua itu tak cukup membuat seorang Axel kembali jatuh cinta.
"Kamu kok bengong? kenapa? aku cantik ya. Aku emang sengaja dandan dulu tadi, karena tadinya aku pikir kamu mau ngajak aku dinner romantis gitu."
Oh Tuhan, liat wajah dia yang manis dan seneng kaya gitu, gimana caranya aku mutusin dia. aku nggak tega.
"Hon, pertunangan kita tinggal 2 minggu lagi, Papa masih di luar kota, tapi dia janji bakal dateng 3 hari sebelum hari H."
Tiba tiba saja Rania mulai membicarakan soal pertunangan mereka. Padahal Axel sama sekali tak ingin mendengar itu.
"Rania...
Panggil Axel perlahan.
"Untung aja aku bisa secepatnya nemuin EO yang bisa gantiin EO nya Mba Keysa, jadi sekarang semuanya udah beres deh."
Tambah Rania lagi.
"Rania denger dulu sebentar."
"eh iya, Om sama Tante pasti dateng kan, atau mulai sekarang aku bisa panggil mereka Papa sama Mama mertua. Uh ya ampun kebanyakan ngomong aku jadi haus..."
Rania mengambil jus di hadapan Axel dan meminumnya begitu saja, ia belum sempat memesan apapun. Entah karena tak ingat, atau terlalu bersemangat. Sementara Axel, mencoba untuk tetap tenang. Sebisa mungkin, ia ingin semua berakhir baik baik.
"Ahhh, seger banget. Kamu tahu nggak kayanya tadi Ac taxi nya mati, makanya aku jadi gerah."
"Rania aku...
Axel berusaha untuk membuat Rania diam dan mendengarkannya.
"Aku bener bener nggak sabar deh Xel, akhirnya...
"RANIA...!!!!"
Akhirnya emosi Axel meluap juga, satu nama ia sebuatkan dengan keras, hingga beberapa pengunjung lain melihat ke arah mereka. Axel dan Rania sukses membuat diri mereka sendiri menjadi bahan tontonan. Dan tentu saja hal ini membuat Rania terkejut.
"Hon..kamu kenapa teriak teriak gitu. Kan bisa panggil aku pelan pelan. Lihat? sekarang tatapan semua orang mengarah ke kita."
"Kamu bisa dengerin aku dulu kan."
"Oke aku akan dengerin kamu."
Sekarang adalah saat yang tepat, Rania sudah diam, dan mereka juga sudah tak lagi menjadi tontonan. Axel merasakan jantungnya melompat lompat parah, bingung dan ragu menjadi satu. Tapi ia juga tak punya pilihan lain.
"Aku mau batalin acara pertunangan kita."
Dan akhirnya kalimat itu benar benar terucap. Tak ada rasa lega dalam diri Axel, ia justru semakin khawatir dan takut. Melihat raut wajah Rania yang berubah. Sunyi senyap, tak terdengar apapun. Rania diam dalam lamunannya, ia mendengar tapi tak ingin tahu, ia melihat tapi seakan buta.
"Rania... kamu dengar aku kan?"
Masih juga tak ada jawaban, hanya saja kini ekspresinya semakin jelas. Air matanya menetes perlahan meski matanya hampir tak berkedip.
"Heh, Are you kidding me?"
Tanya nya dengan wajah yang tiba tiba saja kembali tersenyum. Senyum yang menyakitan, gadis ini tak mungkin baik baik saja.
"No. I'm seriously. Kita nggak bisa bertunangan Rania."
"Kenapa?"
Suaranya melemah. Terdengar jelas ada nada kesedihan dari dalam sana. Ini yang Axel takutkan, ia sungguh tak bermaksud menyakiti gadis ini.
"Kenapa Hon?"
Axel menarik nafas dalam dalam, dan menghembuskannya perlahan lahan, lalu dengan tekad dan keyakinannya ia berusaha mengumpulkan keberanian.
Ya. Ayolah Axel, ini yang terbaik. jangan sampai kamu merusak masa depan gadis baik hati di hadapan kamu ini hanya karena ego.
"Rania, sayang. Kamu adalah gadis baik, sangat baik. Awalnya aku pikir dengan kamu aku bisa memulai hubungan baru yang bahagia. Tapi nyatanya aku nggak bisa. Aku berusaha untuk mencintai kamu. Tapi....
"Semua ini karena Mba Keysa kan. Kamu mau balikan lagi sama Mba Keysa kan.?"
Rania memotong kalimat Axel dengan pertanyaan yang sontak membuat Axel tercengang. Tunggu, darimana Rania tahu soal Keysa. Ada apa ini sebenarnya?
"Kamu kaget. Kamu mau tanya kenapa aku bisa tahu?"
Axel hanya mengangguk saja. Menunggu penjelasan dari Rania.
"Dari pertama kali aku kenalin kamu sama Mba Keysa, aku tahu ada yang aneh sama kamu. Sejak hari itu sikap kamu juga aneh. Jadi aku minta orang orangnya Papa, buat selidikin, buat cari tahu masa lalu kamu dan Mba Keysa."
"Jadi kamu udah tahu semuanya.?"
"Iya, aku tahu. Tapi aku lebih memilih buat diam. Karena aku pikir aku pasti bisa ngerubah kamu, menggantikan nama Mba Keysa di hati kamu. Tapi ternyata aku nggak bisa ya Xel."
Rania tertunduk menatap jari jarinya yang saling terkait di atas meja.
"Oh Rania, aku sungguh minta maaf. Aku nggak berniat buat nyakitin kamu sedikitpun. Justru karena aku takut. Aku takut kamu akan lebih sakit lagi nantinya. Aku takut kamu akan tahu dari orang lain. Dan terlebih aku nggak bisa bohongin diri sendiri lagi."
"Iti bukan salah kamu Xel, bohong banget kalau aku bilang aku baik baik aja. Kenyataannya, ini bener bener bikin aku syok."
"Ya tapi, apa gunanya aku meratapi nasib sekarang. Aku pengen marah, pengen banget. Tapi aku juga nggak mau egois. Aku nggak mau maksa orang lain untuk suka sama aku."
Mendengar serentetan jawaban dari Rania, membuat Axel kian memburuk. Tapi ia tak bisa mundur lagi. Otaknya masih memaksa untuk berpikir bahwa semua ini benar.
"Kamu gadis yang cantik dan baik Rania. Aku yakin ada banyak lelaki yang sedang menunggu dan mencintai kamu dengan tulus. Walaupun itu bukan aku."
Seru Axel.
"Kamu bisa maafin aku kan. Kita masih bisa berteman kan?"
Tambahnya lagi.
"Aku maafin kamu kok Xel.Tapi untuk berteman kayanya kita nggak bisa."
"Kenapa Rania? meski kita putus aku masih berharap kita akan tetap punya hubungan baik."
Kali ini giliran Rania yang menarik nafas panjang. Berusaha menstabilkan segala kerusakan dalam hati yang sebenarnya ingin sekali meledak. Tapi tidak, ia bertekad untuk menjadi Rania yang lebih dewasa. Dan orang dewasa tak akan menyelesaikan apapun dengan kemarahan.
"kamu nggak akan ngerti sakitnya aku sekarang Xel. Gagal tunangan di waktu waktu terakhir. Kalau kamu mau aku bahagia, bantu aku lupain kamu dengan cara menjauh, dan nggak muncul lagi di hadapan aku."
Jawaban yang tak terduga padahal Axel ingin sekali tetap menjalin hubungan baik dengan Rania. Bagaimanapun Rania adalah gadis yang juga mengisi hari hari nya selama dengan semangat. Gadis yang sejujurnya dengan tulus memberikan cintanya untuk laki laki brengsek ini.
"Its oke. Jangan lihat aku dengan muka kasian kaya gitu. Aku nggak selemah itu. Kalau gitu, mendingan aku pulang. Toh nggak ada lagi yang perlu kita omongin."
"Kalau gitu aku akan anterin kamu pulang."
"Nggak, jangan. Jangan Xel.
"Tapi kenapa? Anggaplah ini yang terakhir."
"Aku mohon, mulai detik ini, aku harus terbiasa tanpa kamu. Aku takut aku akan berubah pikiran kalau aku masih berlama lama sama kamu. Mending sekarang kita jalan masing masing. Aku pergi. Thanks for everything Axel. I love you."
Perlahan Rania bangkit, ia sempat tersenyum untuk terakhir kalinya pada Axel, sebelum akhirnya ia berbalik, berjalan perlahan dengan air mata yang semakin bercucuran, namun isak tangis yang di tahan. Ia tak ingin Axel tahu bahwa sebenarnya semua ini membuatnya hancur. Sangat hancur.
Paling nggak, kamu pernah jadi milik ku Axel. Walapun nggak lama. Tapi semua itu udah cukup bikin aku bahagia.
***
**Terima kasih atas semangat dari kalian selama ini ya. Hanya tinggal beberapa episode lagi menuju the end. Jadi setia terus baca I want you part 2.
Dan mampir juga ke lapak sebelah, novelku yang berjudul HUJAN SATU MALAM.
Oke jangan lupa like, comment dan vote nya ya**.