I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 52



Seperti orang yang dikejar bahaya, aku menuruni tangga darurat secepat mungkin, namun aku masih kalah cepat dengan lift yang dinaiki Keysa. Tapi aku bisa melihatnya, sedang berjalan dengan setengah berlari.


"Key... Keysa."


Aku masih berusaha memanggilnya sebisaku. Tapi dia malah maju semakin cepat sampai akhirnya dia melewati pintu keluar dan tiba di jalan raya. Aku juga semakin dekat padanya, namun di pada saat bersamaan, Keysa menyebrang jalan tanpa melihat ke kiri dan kanan, sedangkan mungkin ia juga tak menyadari ada mobil melaju kencang dari arah kiri.


"Keysa ... Awasss"


Aku berlari sambil terus meneriakan namanya. Tapi mungkin otaknya yang sedang mendapat guncangan membuatnya tuli. Tanpa pikir panjang lagi, aku berlari secepat mungkin, dan berhasil meraih tubuhnya, membuat kami berdua jatuh dan berguling guling di aspal.


Dan mobil itu juga berhenti tepat pada waktunya, Ya Tuhan, terlambat beberapa detik saja, mungkin Keysa akan kembali masuk ke rumah sakit. Pengendara mobil itu keluar dan menghampiri kami yang baru saja sama sama bangkit dan duduk di tepi jalan.


"Heh... lo mau cari mati? Mau bunuh diri hah. Udah gila lo ya."


Ah sial, beberapa warga sipil mendekat dan mengerumuni kami. Kami menjadi bahan tontonan yang menarik rupanya. Aku tak bisa membuat pembelaan karena jelas, Keysa lah yang salah, ia terus saja berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya.


"Iya, maaf  Mas, pacar saya lagi sakit, jadi nggak konsen jalannya. Maaf ya mas."


Setelah selesai mencaci maki aku dan Keysa, dia kembali pada mobilnya dan langsung pergi. Orang yang mengerumuni kami juga mulai bubar. Aku lalu mengalihkan perhatian pada Keysa, ada beberapa luka lecet di tubuhnya. Aku jadi ingat, tadi dia tak menyangkal sama sekali saat aku mengatakan ia pacarku. Upz ini bukan saat nya memikirkan hal hal seperti itu.


Aku memapah Keysa untuk kembali ke parkiran mobil. Meski sempat menolak aku tetap memaksanya. Aku harus tahu apa yang terjadi. Segera ku landaskan gas di bawah kakiku secepat mungkin, ke sebuah tempat dimana Keysa mungkin akan merasa nyaman dan bisa menenangkan diri.


Aku tak perduli meski ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia akan menceritakannya jika dia sudah merasa lebih baik. Cukup lama perjalanan kami, sekitar kurang lebih 2 jam perjalanan aku menghentikan mobil di area bukit, yang sunyi. Dari sini, kita bisa melihat dengan jelas deretan gedung gedung tinggi juga struktur kota yang jika malam telah tiba, lampu lampu akan menyala kerlap kerlip bagaikan bintang yang bertaburan. Pemandangan yang cukup indah, jika saja suasana hati Keysa sedang baik, tapi sayangnya, air mata itu terus saja jatuh.


Aku tak memanggilnya, aku juga tak mengalihkan perhatianku padanya, aku menunggu sampai dia mau mengeluarkan suara tanpa ku minta.


"Aku menyerah..."


Seru Keysa. Akhirnya ia bicara juga, aku sudah sangat kawatir dengan keadaannya.


"Menyerah?"


"Aku nyerah. Aku nggak akan pernah percaya lagi pada cinta. Semua omong kosong. Sesuatu yang berawal dari cinta semuanya berakhir menyakitkan"


"Sebenernya apa yang terjadi Key?"


"Tadi itu mantan pacar Rio. Aku dengar dia minta tanggung jawab, kamu tahu karena apa? Heh, aku nggak mau memperjelas itu. Itu membuat aku semakin merasa sakit. Aku sakit Axel, Aku sakit..."


Keysa kembali menangis, dan membuatku merasakan kesedihan yang sama.


Aku menarik kepalanya, dan kudekatkan pada dadaku. Ku buat ia bersandar di sana, agar a tahu, bahwa ia masih memilik ku.


"Nangis aja Key. Aku tahu kamu hanya butuh itu sekarang. Ini bukan salah kamu Key."


Aku mengusap ngusap kepalanya. Jujur saja, melihatnya tak berdaya membuat aku juga merasa lemas.


"Kenapa Axel? Kenapa setiap aku mulai percaya dengan adanya cinta, percaya dengan sebuah komitmen, kenapa selalu jadi kaya gini. Apa aku


Nggak pantes buat bahagia. Aku harus gimana Axel."


"Nggak, kamu pantes kok. Sangat pantes untuk bahagia. Cuma mungkin Rio memang bukan kebahagiaan kamu."


"Axel..."


"Ya Key???"


"Apa kamu masih cinta aku?"


"Apa?"


"Apa kamu masih cinta sama aku?"


Pertanyaan macam apa ini. Kenapa Keysa tiba tiba bertanya seperti itu padaku. Ini agak membuatku terkejut tentunya.


"Selalu, aku masih cinta kamu, selalu dan nggak pernah berubah..


Tiba tiba saja Keysa berhenti bersandar di dadaku, ia langsung menarik kepalaku, ke arah wajahnya, dan tanpa ku duga ia justru mendaratkan bibirnya yang lembut pada bibirku. Sebuah ciuman yang harusnya terasa manis, tapi kini terasa menyedihkan. Ironis sekali, 3 tahun yang lalu aku menjadi obat kesedihan Keysa pada Reno, dan saat ini aku menjadi obat kepedihan Keysa pada Rio.


Aku bisa melihat matanya yang tertutup, juga raut wajahnya yang penuh kesedihan, karena mataku justru terbuka lebar. Tak ada gerakan apapun yang terjadi bahkan saat aku mulai menutup mata, tapi aku justru merasakan sedikit basah di pipiku, mengalir menuju bibirku dan aku merasakan sedikit asin karenanya. Menyadari air matanya yang ternyata tak kunjung berhenti kulepaskan ciuman kami, aku dan dia sama sama diam dalam tatapan bisu, tak bisa saling membaca ekspresi satu sama lain.


Lalu aku memikirkan ide gila. Sebuah ide gila, yang mungkin adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan keadaaan ini. Aku menarik Keysa dan memeluknya dengan erat, sangat erat hingga aku merasa begitu takut kehilangan nya. Aku membenamkan wajahku di antara lehernya yang harum. Aku memberanikan diri untuk mengatakan ini, tak ada yang bisa menghentikannya, dan akan ku lakukan...


"Aku janji, ini terakhir kali kamu nangis karena kesedihan. Mulai hari ini, aku nggak akan ngebiarin semua hal buruk lain terjadi lagi. Keysa, kita akan menikah. Besok kita akan  menikah, besok aku akan nikahin kamu. Dan nggak akan ada yang bisa gagalin itu, bahkan kamu sekalipun. Mulai besok kamu akan jadi Nyonya Axel Yudisthira."


*Udah ketebak nggak akhirnya Keysa sama siapa? jangan lupa like, comment dan vote nya ya. makasih banyak buat yang masih setia baca I want you. kalian the best banget. oke tetap stay at home, jaga kesehatan.


sekian terima gajih 😁😁😁