
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
Rio Setiadi
Benar kata pepatah, semakin kau berniat melupakan, semakin mudah pula kau mengingatnya.
Aku kembali ke meja di mana teman teman ku berada dengan segera, sebelum aku dijadikan cemilan oleh tante tante teman Keysa yang sibuk dengan pertanyaan siapa aku? apa hubunganku dengan Keysa? kenapa Keysa bisa marah?. Aahh, dari mana Keysa bisa punya teman seaneh mereka, sosialita ngawur, yang lebih nampak seperti tante tante kurang perhatian.
"Congrat ya, you lose, digampar plus di cengcengin tante tante. Hahaha"
"Alih, profesi dari penyedia jasa event, jadi jasa ****** dia. Hahaha."
Sangat puas sepertinya mereka tertawa, aku hanya memasang muka tak acuh. Menghindari keributan, atau lebih tepatnya malas berdebat. Tapi alasan sesungguhnya adalah pikiranku melayang mengingat Keysa. Sama sekali tidak ku sangka, aku bisa bertemu dengannya disini. Dia lebih cantik, ah sial seseorang yang pernah menghilang dan harus dilupakan selalu nampak lebih menarik. Benar kata pepatah, semakin kau berniat melupakan, semakin mudah pula kau mengingatnya.
"Heh, bengong aja lo. Jangan bilang lo baper ya sama cewek tadi."
Perkataan Ryan terdengar sinis. Bagaimanapun, aku tidak ingin menjadi Rio yang lemah seperti saat saat yang lalu. Gengsi jika aku mengakui apa yang terjadi sangat berpengaruh. Reputasi ku sebagai bintang kampus bisa turun. Untunglah, mereka bertiga sepertinya tidak sadar, kalau aku pernah membawa Keysa ke acara Reuni kampus. Tapi ya Tuhan, Keysa ...,Keysa .... kenapa aku harus bertemu lagi dengannya. Sepertinya semakin lama dipikir akan semakin parah.
"Kalau masih mau lanjut sengklek sengklekannya silahkan, tapi gue cabut dulu."
Ujarku, seraya meraih kunci mobil. Berlalu meninggal kan mereka yang penuh dengan protes.
__________
Harusnya ke kantor, mengingat ada beberapa project dan event yang harus ku handle. Memang masih siang, sekitar pukul 02.00. Tapi konsentrasiku sedang terbagi. Padahal karyawan ku pasti akan lembur hari ini. Masa bodolah!
Aku merebahkan tubuh di atas kasur empuk, yang mungkin bisa membuatku rilex. Sahabat terbaik dari segala hal dan masalah adalah tidur. Dalam tidur, kamu tidak akan mengingat apapun, hanya ada mimpi, meski itu mimpi buruk. Namun sayang sekali, itu tidak bertaham lama, setelah aku mendengar
"Sayang ..."
Aku menutupi kedua telingaku dengan bantal. Firasatku buruk. Viona datang, ya bagaimana tidak datang. Dia istriku, dan tentu saja ini kamar kami berdua. Aku sangat yakin dia akan ngidam hal hal aneh lagi.
Percaya tidak, terakhir kali, ia pernah memintaku memanjat pohon mangga di depan komplek, dan pemiliknya ternyata kakek kakek galak yang dengan teganya melempariku dengan batu sampai aku turun. Lalu tak lama ia juga pernah membuatku mengerem mendadak saat melajukan mobil, hanya karena ingin menyentuh kepala seorang pria botak plontos yang lebih mirip lampu taman. Ia juga pernah ngidam dibuatkan mie instan saat tengah malam, dan tak ingin dibuatkan oleh siapapun kecuali aku, dengan terpaksa aku beranjak melawan rasa kantuk, membuat apa yang diinginkannya, lalu dengan senang hati ia tertidur pulas saat aku kembali dengan semangkuk hasil karya.
Masih banyak yang lain. Dan ya ampun, semoga sekarang dia tak akan memintaku salto, atau sekedar ngupil sambil kayang.
"Sayang ih ..."
Rengeknya lagi.
"Aarkkhh apa sih?"
Nada suara tinggi, berhasil keluar dari mulutku. Aku melemparkan bantal ke sembarang arah, berusaha menunjukan kalau aku tidak suka dengan kedatangannya. Tapi melihat perutnya yang sudah mulai besar, rasa iba bercampur kemanusiaan datang juga. Ku rendahkan nada suaraku, lalu ikut duduk di sampingnya. Menarik nafas dalam dalam, dan menghembuskannya perlahan.
"Iya Vi, kenapa?" tanyaku selembut mungkin.
"Aku lagi pengen martabak."
Serunya tanpa dosa. Martabak ya? Sekilas tak ada yang aneh, hanya makanan Indonesia, ada yang manis dan asin. Tapi tak ada yang normal dalam diri Viona, jika dia ingin martabak, kupastikan itu bukanlah martabak biasa.
Imajinasiku tampaknya semakin berkembang setelah terus menerus menghadapi kehamilan Viona.
"Astaga sayang, kok gitu sih?"
Masih juga bertanya? Dasar tidak peka.
"Ya karena kamu ngidamnya aneh aneh terus. Jadi aku curiga lah."
"Ini nggak aneh kok yang, ini normal, dan bukan martabak telor, aku mau martabak keju pake susu yang banyak."
Aku menepuk dada bersyukur, kali ini dia ngidam sesuatu yang normal. Sesuatu yang mudah di dapat dan tidak merepotkan.
"Tapi ..."
Mampuslah aku. Masih ada tapinya ternyata.
"Aku mau martabak di jalan merdeka yang. Di sebrang caffe 02, ada martabak yang lagi hits, aku liat di Ig."
Jalan merdeka? Ya Tuhan, itu jalan dimana Caffe Daniel, tempat aku bertemu Keysa disana. Perlu waktu setidaknya tiga jam. Belum lagi kemacetan di jam jam sibuk, karena banyak pabrik di sisi kiri dan kanan jalan. Sangat sial jika mendadak berhenti dan terjebak di antara ribuan orang yang baru saja selesai bekerja.
"Aku delivery aja ya Vi."
"Mereka nggak terima delivery."
"Kalau gitu pake ojol aja ya."
"Tapi aku maunya kamu yang beli."
"Vi, aku baru aja dari sana. Butuh waktu tiga jam sebelum aku sampe ke jalan itu, dan nyariin martabak yang kamu maksud."
"Aku nggak keberatan buat nunggu."
Viona ini anak orang kaya manja yang terbiasa makan dari sendok emas. Jangankan martabak, pecel lele aja dia tak tahu seperti apa bentuknya. Kenapa setelah hamil mendadak jadi aneh.
"Tapi Vi ...?"
"Yakin, kamu mau anak ini ileran ?"
Ya Tuhan, siapa sih ilmuwan hebat yang memberikan asumsi luar biasa di masyarakat, kalau ngidam tidak terlaksana bisa bikin ileran. Benar benar menyusahkan Bapak Bapak.
"Pleaseee ...!"
Aduh, aku benar benar tidak tega. Meski terkadang aku membencinya, tapi anak dalam kandungannya tidak bersalah. Dia anakku, darah dagingku.
"Ck, ya udah lah. Aku berangkat."
__________
Terima kasih atas waktu dan kesetian para readers. Semoga terhibur. Jangan lupa like, comment dan vote nya juga ya. Salam Author :)