I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 42



Sudah hampir satu jam, tapi Rio belum juga keluar. Axel dan Leana masih berada diluar. Ken sudah pergi sejak ia keluar dari kamar Keysa, ia mendapat kabar buruk mengenai Stella yang mengharuskannya untuk segera menyusul anak itu ke rumah sakit lain.


Pertanyaan yang sama terlintas di dalam benak Leana dan Axel. Apa yang sedang Rio bicarakan dengan Keysa, hingga menghabisakan waktu yang begitu lama. Padahal Axel dan Leana juga sudah tak sabar untuk bertemu Keysa. Merasa mulai kehilangan kesabaran, Axel membuka pintu perlahan lahan. Tubuh yang tadinya ia paksa untuk masuk ke dalam sana, tiba tiba saja terhenti. Agak lemas dan sakit. Tapi tak apa, ia harus mulai terbiasa. Terlihat pemandangan yang manis disana. Rio dan Keysa sedang tertidur, dengan tangan kiri Rio berada di puncak kepala gadis itu dan tangan kanan yang saling terkait dengan tangan milik Keysa.


"Haaaaaahhhh"


Ia menghela nafas panjang. Lalu menutup kembali pintu itu. Pemandangan yang romantis. Sepertinya Axel benar benar kalah. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Rio untuk saat ini, dan itu benar. Pandangannya teralih pada Leana yang sedari tadi duduk di kursi dengan wajah yang juga pucat. Sudah lama ia tak pernah bertemu gadis itu. Tapi mereka malah dipertemukan dalam situasi yang benar benar tak tepat. Wajah gadis itu terlihat pucat, dia juga pasti kelelahan.


"Lea... Ayo aku anter kamu pulang."


Wajahnya terangkat. Ia juga sudah tak lama bertemu dan mendengar kabar dari pria itu. Tapi sekarang siapa peduli. Sudah tak ada lagi perasaan seperti dulu pada Axel.


"Aku masih mau disini. Aku mau ketemu Keysa dulu."


Jawabnya, lalu kembali menunduk.


"Keysa sama Rio ketiduran, mereka pasti capek. Aku juga pengen ketemu mereka. Tapi nggak sekarang. Kamu juga nggak boleh sakit. Kamu harus pulang, coba berkaca sekarang. Kamu bener bener kusut."


Benar apa yang dikatakan Axel. Ia memang lelah dan sangat lelah. Ia juga tidak tahu kapan Rio akan keluar dari sana. Atau kapan Keysa akan bangun. Leana akhirnya bangkit menuju tempat parkir.


"Apa kabar Lele?"


Ahhh sudah sekian tahun Leana tak pernah mendengar ada orang yang memanggilnya dengan nama itu. Karena pemilik panggilan itu memang hanya Axel. Mereka sedang di dalam mobil dalam perjalanan menuju rumah Leana. Jarak rumah Leana dan Klinik Dokter Nita cukup jauh. Membuat mereka memiliki waktu cukup lama untuk mengobrol atau mengenang masa lalu mungkin.


"Kurang baik. Kamu pasti tahu kenapa."


Iya bagaimanapun Axel sudah tahu semua yang terjadi. Hanya saja ia lebih memilih untuk tutup mulut. Emosi bukanlah penyelesaian dari suatu masalah.


"Denger denger, kamu mau tunangan. Selamet ya"


Leana memaksakan seutas senyum. Bukan karena cemburu atau sakit hati, pikirannya hanya masih kalut. Ia masih belum tenang jika belum menceritakan sendiri apa yang ada di dalam otak nya pada Keysa.


"Ya, tapi kayanya aku mau batalin itu."


Wajah Axel masih fokus ke depan. Sedang Leana, malah jadi tertarik dengan jawaban Axel.


"Kenapa?"


Tanya Lea penuh keingin tahuan.


"Calon tunanganku orang yang baik. Aku nggak mau kecewain dia, dengan memberi cinta yang palsu. Aku udah berusaha menyukai dia, mencintai dia sebagai seorang perempuan. Tapi nggak bisa."


"Kamu masih nggak berubah ya. Masih aja pintar bohongin diri sendiri dan orang lain."


Axel sedikit tersenyum. Rasanya nyaman bisa sedikit berbagi perasaan dengan orang lain.


"Kamu kan juga tahu apa sebabnya Le.."


"Ya Keysa beruntung. Dia dikelilingi orang yang sayang dan cinta sama dia. Meskipun Ken udah bikin dia celaka, tapi aku tahu, dia juga sangat sayang sama Keysa. Nggak kaya aku, nggak ada yang sayang sama aku."


"Hey.. kita udah nggak di klinik. Jangan bawa kesedihan kamu disini. Kamu  nggak sendiri. Keysa sayang sama kamu. Aku juga sayang kamu, sebagai adikku tentunya dan kamu tahu itu. Cuma kamu yang terlalu menutup diri dan selalu berpikir jelek tentang kita. Kita lupain masa lalu okey. "


Andai bisa seperti itu, tapi setelah apa yang dilakukannya Leana tak mungkin bisa melupakan masa lalu.


"Oke kita sampe."


Kata Axel setelah menghentikan mobilnya.


"rumah kamu masih bagus ya kaya dulu."


Tambahnya lagi.


"Ya, bagus dan sepi."


Jawab Lea sekenanya. Memang benar, dia anak tunggal dari rumah sebesar ini, hanya ada pembantu dan tukang kebun. Sedangkan orang tuanya. Jarang, sangat jarang ada di rumah.


"Kamu mau masuk dulu? Aku akan bikin kopi."


Hanya sekedar basa basi. Jujur saja, ia begitu lelah. Ia ingin sekali istirahat, sendirian hingga tertidur lelap. Dan melupakan semua kisah ini. Menjadikannya sebagai mimpi buruk, lalu menukarnya dengan kenyataan yang indah.


"Udah malem. Lagian aku juga malu ketemu sama om dan tante."


"Malu?"


"Ya, aku yakin mereka masih inget. Kalau aku pernah nyakitin anak mereka. Mungkin lain kali."


Leana hanya tertawa kecil mendengarnya. Itu sebuah masa lalu, bohong jika ia tak mengingatnya. Tapi jujur, ia tak lagi perduli dengan semua itu.


"Oke aku pulang dulu ya. Kamu istirahat."


Senyuman Axel berubah muram, begitu ia menaikkan kaca jendelanya. Berganti dengan tatapan benci. Mungkin ada beberapa hal yang sudah berubah saat ini. Seperti sifat dan hati seseorang.


*h*aaahh berpura pura baik pada orang yang nyakitin kamu itu sulit key. Tapi aku tahu, Leana adalah orang paling penting dalam hidup kamu. Aku nggak ada kesempatan untuk tetep ada di sisi kamu karena Rio. Tapi dengan Leana, mungkin akan lebih mudah.


Axel mengambil Ponsel dan menekan speed dial, dengan nama My Sweet Rania.


"Hallo iya sayang. Bisa kita ketemu?"


***


****Baca koment kalian itu sesuatu banget. Bikin aku semangat. Makasih banyak ya, yang tetep setiap jadi pembaca I WANT YOU. Pokoknya I love you ppuuulll


BTW promo di lapak sendiri boleh kan. Baca juga Novel terbaru gue Judulnya HUJAN SATU MALAM.


Soo jangan lupa like, comment dan vote nya ya. Terima kasih 😊****