
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
*Ki*ta memang bisa lebih menghargai kebahagiaan setelah mengalami luka.
Silau, hanya itu satu kata tepat yang terlintas. Tirai masih tertutup, tapi kamar begitu terang. Menandakan ini pasti sudah siang. Kepalaku sakit, mataku berat, pipiku panas. Ah iya, pipi yang panas ini mengingatkanku betapa bodohnya apa yang terjadi semalam. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Sialnya, kebodohan itu ternyata berasal dari ku.
Awalnya semua baik baik saja. Aku dan Axel hanya melakukan ritual malam pertama seperti kebanyakan pasangan lain. Tapi kenapa semakin Axel menyentuhku semalam. Semakin aku merasakan sakit. Bayangan tentang semua yg pernah terjadi di masa lalu benar benar menakjubkan. Rasanya aku bisa merasakan sakitnya hingga ke dalam tulang. Ya, aku memang merasakan sakit. Tapi Axel? Ya Tuhan aku lupa.
Buru buru aku beranjak dari tempat tidur, dengan gaya khas orang bangun tidur. Rambut acak acakan, baju berantakan, mata yang sembab dan bengkak. Aku benar benar nampak payah.
Kulangkahkan kaki keluar kamar, tanpa mandi atau sekedar mencuci muka. Mengingat betapa memalukannya aku semalam, membuatku ingin segera bertemu Axel. Aku khawatir, aku takut dia marah dan tak terima dengan sikapku. Sangat tidak lucu jika ia menceraikan ku pada hari kedua kami menikah.
Kutemukan sosok Axel ada di ruang tengah. Berdiri, tertunduk pada ponsel yang digenggamnya. Itu ponselku. Aku mengenalinya. Ku hampiri dia, tapi mungkin ia terlalu serius dan tak menyadari kehadiranku.
"Axel.."
Ia terperanjat kaget. Dan hampir saja menjatuhkan ponselnya. Panik dan gugup tergambar di wajahnya.
"Itu hp ku kan? Kamu lihat apa?"
Ia tak langsung menjawab. Malah diam, dan membuatku penasaran. Ku rebut ponselnya, ah maksudnya ponselku yang ada ditangannya. Membuka riwayat aplikasi, dan menemukan galeri foto ku kosong. Bukan sepenuhnya kosong, hanya file khusus berisi fotoku dan Rio kosong. Nomor Rio, sisa sisa pesan dan chat wa darinya juga sudah terhapus.
"Kamu hapus semua yg ada di hp ku?"
"Nggak semua. Hanya beberapa kenangan buruk yang nggak seharusnya kamu ingat."
Kenangan buruk? Kenapa Axel bisa seenaknya memberi ultimatum bahwa Rio kenangan buruk.
"Tapi Rio bukan kenangan buruk. Dia sahabatku."
" BULSHIT..."
Axel berteriak. Axel berteriak padaku. Untuk pertama kalinya ia berteriak padaku. Aku diam dan mematung, nafasku tersengal sengal. Kaget? Iya. Takut? Sudah pasti. Tapi yang lebih dominan saat ini adalah aku menyadari aku bersalah. Dia suamimu Keysa, he is your husband. Tidak salah jika dia menghapus foto pria lain. Tidak salah jika dia cemburu. Justru kamu yang salah.
"Kamu ingin aku diem aja, setelah tahu justru foto pria lain yang ada di ponsel istriku. Aku nggak sebaik itu Key. I can't pretend that I'm alright."
Dan lagi lagi Axel membuang muka. Membuatku semakin tak karuan. Harusnya aku berterima kasih. Axel mau menerima keadaanku. Mau menerima kekuranganku, bahkan mengerti posisiku semalam. Aku memberikan malam pertama yang buruk dan ini balasanku. Tak tahan lagi, kuangkat kedua tanganku. Ku peluk tubuh yang semalam menenangkanku. Ku hirup aroma pria yang menciumi puncak kepalaku dengan penuh sayang semalam. Kurasakan setiap debaran jantung pria yang kini menjadi suamiku.
Dan ku buat perjanjian dengan diriku sendiri. Mulai saat ini, Keysa adalah milik Axel. Dia tak kunjung membalas pelukanku, tapi aku malah semakin melesak ke dalam tubuhnya. Kurasa dia mulai tak tahan, karena setelahnya, tangannya terangkat, membuat tubuhku dan tubuhnya semakin merapat. Aku juga bisa merasakan, ia menciumi puncak kepalaku lagi seperti semalam.
"Mengertilah." ucapnya lirih.
Sebuah ketulusan yang harusnya kusadari sejak lama. Jika saja aku menyadarinya sejak awal mungkin aku tak harus mengalami semua kenangan buruk ini. Tapi kita memang bisa lebih menghargai kebahagiaan setelah mengalami luka.
"Ayo kita cari makan. Berantem sama kamu itu bikin aku lapar tau nggak."
Masih tetap dalam pelukannya aku terkekeh kecil. Terima kasih Ya Tuhan. Axel adalah pria paling baik sedunia.
__________
Sudah lebih dari satu jam Axel membawaku berkeliling di supermarket. Dan sudah sejak itu juga ia tidak melepas genggamannya. Satu tangannya ada padaku, dan lainnya mendorong troli belanjaan kami yang hampir penuh. Sudah seminggu sejak pernikahan kami, dan kami hanya menghabiskan waktu di rumah. Juga sudah seminggu pula kuhabiskan waktu setiap malam hanya dengan tidur dalam pelukannya. Aku bersyukur karena Axel mau mengerti dengan keadaanku. Ia sama sekali tak memaksakan keinginannya, dan malah selalu bertanya, kalau kalau aku merasa tak nyaman.
Sesekali ia mengajakku makan di luar, tapi selebihnya ia yang memasak untukku. Ia sama sekali tidak menginjinkanku menyentuh dapur. Padahal aku ingin sekali memasak. Jika boleh jujur, Axel itu lebih dominan pada menghancurkan makanan daripada membuatnya. Tapi mana bisa aku menghancurkan semangatnya yg ingin membuatku bahagia.
"Axel, ayo pulang."
Aku mulai pegal dan kesal. Axel memasukan semua barang yang di lihatnya. Semua orang bahkan menatap ke arah kami. Ada yang senyum senyum sendiri, ada juga yang erbisik tak jelas. Mereka mungkin heran, karena mayoritas yang belanja saat ini ibu ibu. Sedangkan Axel? Aduh suamiku yang ganteng ini menggantikan tugas ku, dan akan memberikan keuntungan besar pada tempat ini.
"Iya, sebentar sayang."
"Kamu belanja segini banyak tuh buat apa. Kita kan cuma berdua."
"Aku mau menghabiskan waktu selama sebulan penuh di rumah bersama istriku, sebelum mulai ke kantor lagi."
"Jangan donk Xel, nanti kamu di pecat."
"Aku bos nya, siapa yang mau mecat aku. Tugas pecat memecat itu ada padaku."
Sepertinya Axel mulai gila. Aku seminggu bersamanya sudah hampir mati merasakan berbagai macam eksperimen masakannya, dan sekarang ditambah satu bulan lagi. Dia pasti bercanda.
Tiba tiba saja, ponsel Axel berdering ia melepaskan tangannya dari troli lalu meraih ponselnya dari saku celana. Setelah melihat nama pemanggil dari layar ponsel yang menyala, ia juga melepaskanku, dan kemudian memberi isyarat kalau dia butuh privasi. Aku tidak terlalu jelas saat melihat ponselnya. Soo aku tidak tahu siapa yang menelponnya. Tapi kurasa itu penting. Karena setelahnya, wajahnya yang sejak pagi berseri agak aneh. Aku masih menunggu dalam diam. Menunggu suamiku yang menggenakan celana pendek abu abu dan kaos putih yang sama sekali tak kurencanakan, ternyata bisa sama denganku. Bedanya, celana yang ku kenakan lebih panjang.
Setelah selesai, ia menghampiri ku. Ia menarik nafas dalam dalam lalu berkata
"Key, kita ke rumah orang tuaku sekarang ya."
"Heh?"
"Aku akan jelaskan nanti. Pokoknya kita kesana sekarang ya."
Orang tua Axel itu mertuaku kan? Aku benar benar lupa dengan semua ini. Axel ini keluarga terpandang. Bagaimana jika aku mendapat penolakan seperti saat aku bersama Reno.
__________
Terima kasih atas waktunya. Mohon sertakan Like, Vote, dan Commennya supaya author lebih semangat. Terima kasih :)