
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
Untukmu yang kini mulai jenuh
Akan padatnya tuntutan hidup
Namun minim cara penyelesaian
Yakinlah kamu tak sendiri,
Percayalah setiap pertanyaan ada jawaban,
Setiap kesulitan juga ada kemudahan
Dan setiap doa akan ada yang mengabulkan.
(Nenk Triska)
Rio Setiadi
Ya ampun, apa aku tidak salah lihat? Aku meghentikan mobil di bahu jalan, dan melihat dengan sangat jelas dari dalam mobil. Antrian pembeli Martabak, sudah seperti antrian pembagian blt. Aku cek lokasi di ponsel, dan memang benar ini tempat yang dimaksud Viona. Martabak Manis dari Pak Kumis.
Nama marketing yang sangat menjual. Sekali lihat, aku langsung teringat pada Pak Kumis, bukan pada martabaknya. Atau jangan jangan yang membuat terkenal sebenarnya adalah kumisnya bukan Martabaknya, kengerian ini membuatku garuk garuk kepala sendiri. Ku parkirkan mobil, dibantu anak kecil yang entah dari mana datangnya. Setelah keluar, menutup pintu, aku menghampiri anak itu.
"De, ini emangnya tiap hari selalu rame gini?"
Tanyaku basa basi. Anak laki laki di hadapanku, yang kutaksir berusia sekitar 12 tahun ini lumayan rapi jika dibandingkan dengan anak jalanan yang sering kutemui.
"Ini sepi Bang." Jawabnya tanpa dosa.
"Segini lo bilang sepi?"
"Kalau rame, Abang nggak akan bisa parkir disini."
Benar juga ya.
"De, kamu kan orang dalem nih, bisa kali bikin gue dilayanin duluan."
"Abang emangnya mau ngelamar kerja pake orang dalem?"
Sialan, malah ngelucu anak ini. Ia nyengir, memamerkan deretan giginya yang tak beraturan.
"De, istri abang nih lagi ngidam. Dia pengen martabak. Maunya buru buru, kalau nggak nanti anak gue ileran."
"Abang nggak liat disana?"
Anak itu menunjuk deretan Bapak-bapak suntuk yang sedang bersandar pada dinding. Firasatku buruk, jangan jangan ...
"Itu mereka juga kesini karena istrinya pada ngidam. Keren kan bang, ngidam berjamaah."
Keren apanya kampret. Aku mengusap wajah. Dan merasakan ini akan jadi hari yang panjang. Setelah mengambil nomor antrian dan mendaftar list pesanan, aku berjalan menuju Caffe 02 di sebrang jalan. Dari pertama datang, aku sudah memperhatikan tempat itu. Agak ramai, tapi tidak seramai Pak Kumis, maksudku Martabak Pak Kumis. Jajanan harga merakyat memang pasti lebih dinikmati. Sambil menunggu aku bisa istirahat disana.
"Selamat Sore Pak."
Lumayan ramah juga pelayannya. Ingatkan aku untuk merekomendasikan tempat ini, karena belum coba makanannya, ku beri bintang 4 dulu. Suasananya lumayan sejuk. Caffe nuansa hijau seperti ini harusnya memang pas untuk ditujukan pada rakyat Jakarta, yang mayoritas gersang dan panas.
Aku mengelilingkan pandangan mencari cari sudut yang pas untuk sekedar ngopi sambil menunggu Kumis itu. Eh maksudku martabak Pak Kumis. Itu berarti aku harus ada di dekat jendela, agar leluasa memperhatikan. Tapi lumayan juga Caffe ini, hanya ada beberapa tempat kosong. Yang salah satunya ditempati seorang gadis. Tapi tunggu dulu. Apa aku tidak salah lihat? Aku memicingkan mata, lalu melebarkannya kembali. Gadis itu kan?
Aku menghampiri lalu berdiri di sampingnya. Aku bisa melihat wajahnya yang makin cerah dari samping. Di hadapannya ada tiga gelas minuman yang telah kosong. Dari aromanya aku tahu ini Ice Capuccino kesukaannya. Tapi kalau sampai sebanyak itu, ini seperti bukan dia. Memang dia kenapa?
"Keysa ..."
Aku memanggilnya. Kurasa dia mendengarku, karena raut wajahnya berubah.
"Keysa, kamu disini ...?"
Ia berbalik, dan nampak amat terkejut. Dress manis yang dikenakan nya tadi siang masih sama. Ya Tuhan, ini adalah takdir dan keajaiban. Namun rasanya hanya aku yang senang dengan pertemuan ini. Aku harus berterima kasih pada trio ubur ubur yang memintaku melakukan dare. Jika tidak, pasti aku tak akan bertemu Keysa.
Ia sudah terburu-buru akan beranjak, tetapi aku menahannya. Bagaimana bisa aku rela kehilangan dia setelah beberapa bulan ini merasa sunyi, dan mencari keberadaanya. Ku pikir Axel membawanya keluar kota. Tapi nyatanya kami masih berada di langit Jakarta yang sama.
"Lepas, ngapain kamu disini?"
Keysa jadi begitu kasar. Keysa ku yang manis dan lembut jadi begitu bringas, kenapa?
"Kenapa kamu jadi ketus gini Key?"
Gawat, aku bisa menimbulkan keributan. Aku memaksa Keysa, menariknya keluar dari Caffe lalu membawanya menuju parkiran mobil di sebrang caffe. Memaksanya masuk lalu kami duduk di belakang.
Keysa memalingkan wajah. Ada rasa sedih, tapi juga begitu senang karena bertemu dengannya.
"Kamu apa kabar Key?" tanyaku pelan pelan.
"Kamu cuma basa basi."
"Aku ini nanya, bukan basa basi. Kamu apa kabar? Gimana hidup kamu sekarang. Kenapa kamu ngilang sih. Kenapa kamu block semua akses komunikasi aku sama kamu?"
"Tanyakan itu pada diri kamu sendiri. Siapa yang akan baik baik saja setelah tahu pacarnya ngehamilin wanita lain !"
Dia menatapku, lalu kembali menunduk. Jadi dia masih mengingatnya. Dia masih ingat dengan rasa sakit yang ku gores di hatinya. Dasar bodoh kau Rio, siapa yang akan begitu mudah melupakan hal yang begitu sakit semacam itu. Aku meraih tubuhnya, memaksanya untuk melesak, bersandar di dadaku. Aku rindu kamu Keysa, sangat.
"Maaf ya sayang. Aku menyesal, hidupku juga nggak lebih baik setelah kita pisah. I love you Key. I miss you soo bad."
"Me too, i miss you to."
Tapi kemudian Keysa melepaskanku, pandangan kami bertemu. Sudah sangat sering aku melihat serpihan mata Keysa yang sarat akan kesedihan. Tapi kali ini, ini lebih terasa sakit. Mengingat status kami yang sama sama tak wajar.
"Maaf, tadi aku tampar kamu."
Dia mengusap pipiku lembut. Aku menggengam tangannya, reaksinya membuat aku yakin kalau dia masih mencintaiku, sama sepertiku, yang juga masih mencintainya.
"Sakit ini nggak seberapa dibanding berbulan bulan tanpa kabar dari kamu. Kamu lagi apa di Caffe itu?"
"Itu Caffenya Axel."
Aku melepaskan tangannya.
"Ah iya, aku sampai lupa kalau kamu milik orang lain."
"Rio ..."
Aku sudah lupa, kapan terakhir kali dia memanggil namaku dan mendengarnya lagi membuatku semakin ingin memilikinya lagi.
"Kamu sendiri ngapain disini?"
Haruskah aku jujur, kalau ini adalah bagian dari pertanggung jawaban yang menyakitkan hatinya.
"Kamu nggak mau jawab?"
"Vi ...Viona lagi ngidam, dia minta aku beli itu."
"Heh, iya aku juga lupa kalau kenyataannya kamu akan jadi seorang Ayah. By the way selamat ya! aku ikut senang ..."
Aku tak sanggup mendengar itu lagi, tanpa aba aba ku hentikan potongan kalimat yang keluar dari bibir Keysa dengan satu ciuman. Satu ciuman yang kuharap bisa membuatnya sadar, kalau perkataannya tak membuatku baik.
Tapi aku merasakan kedua tangannya yang mendorong tubuhku. Membuat tautan kami terlepas.
"Rio ... kamu apa apaan sih?"
"Sekali kamu bohong, aku akan telanjangin kamu disini."
"Kapan aku bohong. Nggak pernah sekalipun aku bohongin kamu."
"Kamu tadi bilang, kalau kamu ikut senang. Kalau kamu senang, kamu nggak akan hindarin aku selama ini."
__________
Terima kasih atas waktunya. Semoga menghibur. By the way, sebagai bocoran Part kali ini adalah hasil dari pengembangan salah satu cerita temanku, kisah nyata yang kubuat halu😁.
Jadi gimana selanjutnya. Bagaimana nasib Martabak Pak Kumis yang masih dalam antrian? Jangan lupa like, comment dan vote nya ya.