
..brug...
Leana tergesa gesa membuka pintu kamar Keysa. Hari ini Keysa akan keluar dari klinik. Ini sudah seminggu sejak kejadian keysa yang mati lalu hidup lagi. Memang sesuatu yang mustahil, tapi benar adanya. Di samping Leana juga ada Axel. Dengan ekspresi yang tak jauh berbeda, Leana dan Axel seperti terkejut atau telah melihat sesuatu yang membuat mereka tampak cemas, atau kaget. Atau apalah itu semacamnya. Tapi jelas ini bukan sesuatu yang baik.
"Kalian berdua kenapa. Kompakan gitu ekspresinya."
Tanya Rio dengan rasa bingung, sementara Keysa menungu Axel dan Leana menjawab, dengan raut muka yang tak kalah bingungnya.
"Lo nggak ngecek hp Ri. Atau Keysa? Lo udah liat hp?"
Bukannya menjawab pertanyaan Rio, ia justru bertanya balik.
"Keysa sih emang udah lama nggak pegang hp. Tapi gue tadi liat, dan nggak ada yang aneh kok."
Ujar Rio, sembari mengangkat bahunya.
"Coba deh Xel kasih liat ke mereka."
Pinta Leana. Menuruti permintaan Leana, Axel mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sesuatu di dalam ponselnya pada Rio dan Keysa yang pastinya akan membuat mereka tercengang.
Seorang pengusaha Muda sukses, pemilik Hotel dan Resto Berlian berinisial (K) ditemukan tewas di kamarnya. Dengan sejumlah luka tusukan pada bagian punggung. Tak ditemukan bekas lebam atau tanda tanda adanya perkelahian. Polisi masih menduga duga dan memburu tersangka yang masih simpang siur. Dan bla...bla...bla..
Keysa sampai merampas ponsel Axel dan membacanya berkali kali. Merasa tak percaya dan memastikan, benarkah ini yang terjadi. Apa ini hanya hoax. Tapi bagaimana ada hoax sebesar ini.
"Ini...ini beneran Ken kah? Ini nggak mungkin kan?"
Leana dan Axel mengangguk.
"Pantesan beberapa hari ini, dia nggak pernah lagi dateng kesini. Dan Dr.Nita juga nggak pernah periksa Keysa."
Tegas Rio.
"Iya, gue udah konfirmasi, hubungin Hotel Berlian. Dan mereka bilang Bos mereka meninggal, soo itu bukan Hoax"
Tegas Leana.
Mendengar kabar duka ini membuat Keysa jadi takut dan sedih sekaligus. Ia tahu Ken memang sudah berbuat jahat, menyakitinya, menghancurkan hidupnya, tapi jika ia tahu hidup pria itu begitu singkat, ia tak akan bersikap seperti tempo hari. Sekarang ia jadi takut, semua orang yang mencintainya tiba tiba saja pergi. Pergi ke tempat yang tak akan bisa di gapai. Terlintas sedikit pikiran buruk dalam benaknya.
Ya Tuhan, kenapa jadi kaya gini. Setelah Reno, sekarang Ken. Apa aku adalah pembawa sial, membuat orang orang yang mencintaiku pergi. Bagaimana kalau setelah ini ada korban lagi. Bagaimana kalau setelah ini Rio yang...
"KEYSA....!!!"
Teriak Rio di telinga Keysa. Nampaknya setelah membaca kabar itu Keysa hanyut dalam lamunannya sendiri. Beberapa kali Rio memanggil nama gadis itu, tapi tak di gubrisnya sama sekali.
"ehhhh iya, Ehm Ri... kenapa?"
Sekarang ia jadi gugup. Bagaimanapun juga berita ini membuatnya sedih. Meski ia membencinya, tapi ia juga tak pernah berharap akan kematiannya.
"Sebenernya ada yang aneh juga disini."
Seru Leana, membuat Keysa, Axel dan Rio mengalihkan pandangan padanya.
Tanya Axel.
"Ya gue sempet kepo gitu kan ya, tanya tanya sama karyawan disana, ada yang bilang Stella ilang, dan sampai saat ini belum ketemu. Emang sih Polisi nggak nemuin bukti apapun di tkp apalagi soal stella. Dan yang gue denger Stella mungkin kabur lagi karena beberapa waktu belakangan ini, dia memang sering kaya gitu katanya. Tapi kalian ngerasa aneh nggak sih. Stella hilang lagi di saat saat berita Ken di bunuh. Dan waktu Ken terakhir disini, dia bilang dapet tlp soal Stella yang ngamuk ngamuk di rumah dan terus...
"Nggak nggak cukup."
Rio memotong sederet paragraf tentang dugaan Leana yang menurutnya mulai ngawur.
"ihhh kenapa sih lo, gue belom beres ngomong."
" Lo denger sekarang ya? Keysa baru aja selamat dari maut. Dia baru sembuh,mau pulang dan nggak seharusnya dikagetin sama berita berita semacam ini. Kalau Ken mati, itu udah seharusnya. Apalagi karena di bunuh. Dia itu pengusaha, sukses, banyak saingannya , banyak musuhnya. Nggak usah bikin asumsi tentang hal hal, yang polisi pun belum bisa pecahin. Dia pantes dapetin itu."
Ujar Rio berapi api.
"Rioo...."
Panggil Keysa lembut.
"Kenapa? Kamu mau bela dia. Denger Key, hukum karma itu berlaku. Dan dia pasti lagi dapet hukumannya.
"Nggak. Kamu nggak boleh kaya gitu. Apalagi sama orang yang udah meninggal. Lebih baik, kita berdoa, semoga dia tenang dan dosa dosanya diampuni. Yang udah ya udah aja. Toh sekarang dia udah nggak ada."
Rio menarik nafas panjang, ia merangkul pundak Keysa. Membuat gadis itu mendekat, dan menyandarkan kepalanya pada dada pria yang bidang itu.
"huuuhhhhhh oke. Kalau kamu yang sebagai korban ini malah maafin dia. Ya aku bisa apa. Paling nggak sekarang kita tahu, Ken udah dapet balesannya. Nggak akan ada lagi yang ganggu kamu."
Keysa mengangguk. Mengiyakan apa yang dikatakan Rio.
Ken, semoga kamu tenang di alam sana. Sejahat apapun kamu, meski kamu udah membuat aku hancur. Tapi aku tetap berharap arwah kamu tenang. Tapi kalau semua ini bener karena Stella, dimana dia sekarang. Jangan jangan akan ada hal buruk lain terjadi.
Pemandangan yang romantis setelah berbagai macam rintangan yang dihadapi Keysa dan Rio. Tapi sayang sekali. Axel harus melihat itu semua di tepat di depan matanya. Pria itu mengepalkan tangan yang berjajar si di samping kiri dan kanannya. Tapi dengan sekuat tenaga dan hatinya ia masih tetap saja diam. Menahan perasaan yang ingin sekali ia ledakkan.
Harusnya aku yang ada disana. Harusnya aku yang jadi sandaran kamu saat ini. Mendingan gue pergi dulu sekarang. Toh semua ini nggak akan bertahan lama.
"Ya, gue juga ikut ngerasa kehilangan juga sih sama kepergian Ken. Meskipun nggak terlalu jauh, tapi gue sama Ken kan sempet saling kenal juga."
Seru Leana lagi.
"Ehm, kalian lanjut aja ngobrolnya. Gue siapin mobil dulu di depan."
Axel berkata sembari bejalan ke luar kamar.
***
**Jangan lupa mampir ke lapak sebelah, novelku yang berjudul HUJAN SATU MALAM.
Tinggalkan like, comment dan vote nya yah. terima kasih banyak. 😊😊😊😊**