I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 54



Kebaya berwarna putih tulang kini membalut tubuh itu dengan pas, menunjukan lekuk lekuk tubuh yang yang memang terbentuk dengan sempurna pada tempatnya. Riasan yang cantik, layaknya pengantin pada umumnya kini menghiasi wajahnya, menyamarkan guratan guratan sendu yang disembunyikannya. Pikirannya masih jauh menerawang pada keputusan yang diambilnya. Ia masih menimbang nimbang, padahal dalam beberapa jam lagi akad akan di mulai.


"Benarkah ini, haruskah, apa aku akan benar benar melakukannya?"


Gumamnya dalam hati.


Penata rias yang didatangkan Axel sejak sebelum matahari terbit,masih sibuk mengotak atik rambut Keysa. Tak ada banyak perubahan pada wanita yang memang dasarnya telah cantik.


"Keysa... lo udah siap?"


Keysa melihat kedatangan Leana, dari cermin besar di hadapannya. Leana meminta 3 orang penata rias itu untuk pergi, lalu mendekat ke arah Keysa yang duduk di hadapan cermin.


"Lo masih bisa ambil keputusan lain kok Key. Menikah itu nggak buat main main. Ya gue sebenernya masih kaget, sama semua yang lo ceritain. Tapi, aduh gimana ya, gue ini kawatir...


Keysa memutar kursinya dan menghadap pada Leana yang sejak tadi bicaranya padanya dari belakang. Ia tersenyum, entah ada apa di balik senyum itu. Tak akan ada yang tahu. Kemarin setelah Axel bersikeras memaksa Keysa, meyakinnya, berusaha dan sampai bertengkar, akhirnya Keysa luluh dan menerima Axel. Sesuatu yang tak pernah sekalipun ada dalam bayangannya. Dengan pertimbangan yang hingga saat ini masih jadi pertanyaan di hatinya.


"Kamu nggak usah kawatir. Aku yakin kok. Jodoh itu memang udah di atur kan."


"Ya kalau itu emang udah jadi keyakinan lo, gue cuma bisa doain yang terbaik Key. Semoga ini adalah akhir dari semuanya."


"Makasih, ehm Lea aku butuh waktu buat sendiri. Bisa kamu tinggalin aku dulu."


"Oke, tapi gue mau ngingetin, tadi Axel telpon. Dia udah di jalan, dan Key,


"Ya?..."


"Selangkah aja lo keluar dari rumah ini nanti dengan keputusan untuk menikah sama Axel, lo nggak akan bisa mundur lagi."


"Iya aku tahu."


"Bagus, kalau gitu aku juga mau beli sesuatu sebentar ke supermarket di depan. Kalau ada apa apa jangan lupa telpon."


Keysa mengangguk, membiarkan sahabatnya itu pergi. Lalu ia kembali melamun di kamarnya, kamar yang tidak tahu akan diapakannya. Karena ia tak tahu, kemana ia akan pergi setelah menikah.


Pernikahan yang sangat jauh dari bayangan keinginannya, acara yang bahkan tak akan dihadiri keluarganya, ia bahkan tidak tahu apakah orang tuanya Axel akan datang. Atau bahkan sekedar tahu tentang rencana gila yang dilakukan anaknya hari ini. Ia merasakan kepalanya sakit memikirkan apa yang akan terjadi. Sampai ia merasakan sentuhan lembut perutnya, sepasang tangan yang perlahan melingkar pada pinggul gadis itu. Ia mengangkat kepala nya yang tadinya tertunduk dan melihat dari cermin.


"Rio...."


Buru buru dilepaskan tangan Rio lalu berdiri dan berbalik, melihat ke arahnya dengan rasa rindu namun takut, rasa cinta namun benci, rasa sayang tapi masih kecewa.


"Kamu... kamu kenapa bisa ada disini?"


"Baru beberapa jam kita nggak ketemu dan kamu udah nakal ya Key."


Rio berjalan maju mendekati Keysa, sedangkan Keysa justru mengimbanginya dengan berjalan mundur. Mengingatkannya akan sesuatu yang sepertinya pernah ia alami.


"Kamu .."


"Sssuutt, kamu jangan tanya lagi. Kamu keliatan cantik Key. Apa ini baju yang mau kamu pake di hari pernikahan kita."


Keysa melihat Rio dari atas hingga ke ujung kaki, hari ini ia nampak buruk. Apa yang sudah dilakukannya semalaman ini.


"Aku nggak tega. Kamu yang tega. Kamu yang buat aku nggak punya pilihan."


Rio masih saja berjalan mendekat, dan Keysa juga masih berusaha mundur menjauh. Kesedihan tergambar jelas pada wajah pria itu. Menyaksikan kekasihnya telah menggenakan baju pengatin untuk pria lain. Tentu saja, siapa yang tak sakit hati.


"Keysa, batalin semuanya. Kita pergi ya, ubah rencananya dari pernikahan Axel dan Keysa menjadi Rio Dan Keysa. Bisakan key? Kita bisa kan. Aku yakin kamu mau kan Key."


Sakit sekali rasanya menerima kenyataan ini untuk Keysa. Tapi ia tak ingin wanita lain merasakan penderitaannya. Ini sudah terlambat. Apa lagi yang bisa dilakukannya.


"Nggak Rio. Nggak bisa kita nggak mungkin..."


Axel tiba tiba saja datang dan membuka pintu kamar Keysa, tapi sayang sekali hal yang pertama kali dilihatnya justru jendela kamar yang berada lurus sejajar dengan pintu. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sebagian tubuhnya kini berada di balik dinding, tangannya terangkat, menodongkan sebuah pistol, yang sudah siap untuk melepaskan, dan seketika itu juga...


"Keysa... Awas.


...dooorrr...


Axel mendorong tubuh gadis yang dicintainya itu, hingga membentur dinding. Satu tembakan melesat dalam hitungan detik.


"Arrkkhh..."


Keysa meringis merasakan sakit pada tubuhnya. Namun yang lebih parah adalah..


...brugh...


Axel jatuh ke lantai. Rio dan Keysa buru buru menghampiri Axel yang ternyata sudah menutup mata.


"Hahahahaha,"


Mendengar suara tawa yang cukup keras membuat Rio dan Keysa mengalihkan perhatiannya secara bersamaan pada sumber masalah yang benar benar tak di duga.


"Hahaha, berharaplah calon suami lo itu udah mati. Karena kalau nggak, masih akan ada kejutan kejutan lain."


"Udah gila lo Stell.."


Teriak Rio, ia bangkit dan kemudian berlari mengejar Stella, yang sudah seribu langkah lebih dulu meninggalkan tempat kejadian. Kini hanya tinggallah berdua, Keysa dan Axel di ruangan itu, perlahan Keysa mengangkat kepala Axel dan menidurkan pria itu di pangkuannya. Nafasnya lagi lagi sesak, pandangannya kabur, tubuhnya mendadak lunglai dan lemas. Ia tak bisa berpikir apapun kecuali Axel.


"Axel, bangun. Ayo bangun, kita harus cepet cepet berangkat. Kita akan menikah kan,"


Keysa mengusap ngusap pipi pria itu dengan lembut. Seolah yakin, bahwa pria itu hanya tertidur.


"Axel, kamu lihat kan. Aku udah dandan cantik buat kamu. Buat hari kita. Aku mohon bangun. Kenapa kamu harus nyelametin aku. Apa yang mau kamu buktiin. Kamu udah cukup banyak berkorban buat aku."


"Ya Tuhan, ini sudah cukup. Tolong jangan ambil semua orang yang berada di dekatku. Aku mohon tolong, untuk terakhir  kalinya."


Isak tangis gadis itu semakin menjadi manakala tak ada perubahan, meski ia telah mengguncang guncang tubuh pria nya.


"Kalau kamu nggak bangun juga. Aku akan bunuh diri. Kamu dengar itu Axel, aku akan susul kamu. Udah cukup aku ngeliat semua orang mati karena aku. Aku nggak mau bertambah lagi yang lainnya.