I WANT YOU (PART 2)

I WANT YOU (PART 2)
Episode 51



Axel Yudisthira


Pagi ini aku keluar dari rumah, mengarahkan mobilku, menuju bengkel. Tapi di tengah perjalanan entah kenapa aku justru mengambil jalan alternatif menuju rumah Keysa. Heh, ternyata melaksanakan move on tak semudah mengucapkannya. Beberapa hari yang lalu aku sempat bertemu dengan Rania. Dia masih sama seperti dulu sangat cantik. Ku dengar dia sedang dekat dengan salah satu pria yang ternyata adalah teman masa kecilnya. 


Aku senang mendengar ia sudah bisa melupakanku dan mendapat seseorang yang baru. Itu membuat rasa bersalah dan bebanku agak berkurang. Tapi kenapa berbeda sekali denganku. Bertahun tahun aku malah terjebak dengan seorang wanita yang bahkan belum sempat berhubungan denganku. Ahhh sudahlah. Aku akan jadi gila jika terus memikirkannya. 


Pintu rumah Keysa sudah terbuka saat aku tiba disana. Harum masakan yang kuat tercium dan menari nari di dalam rongga hidungku. Apa yang sedang di lakukannya. Aku masuk begitu saja, dan mengikuti wewangian yang berasal dari dapur. 


"Key..."


Aku memanggilnya, Keysa menyadari kehadiranku dan berbalik. Wajahnya berseri sekali. Ahhh, memang setelah hari itu Keysa terlihat lebih bahagia dari biasanya. Sesuatu yang ku sesali, kenapa bukan aku sumber kebahagiaan itu. Tuh kan lagi lagi aku memikirkan sesuatu yang membuatku kesal.


" Kamu nggak sama Lea???"


"Ya aku, aku nggak sengaja buat kesini. Aku mau ke bengkel, kebetulan lewat komplek rumah kamu. Jadi ya mampir."


Bohong, jalan rumahmu dan bengkel ku sama sekali tidak searah. Bahkan jauh, aku hanya tidak bisa menahan rindu dalam jarak untuk bertemu kamu.


"Ohhh oke, karena kamu udah disini. Kamu harus cicipin masakan aku."


Bagaimana mungkin aku menolak. Justru aku merasa sangat senang. Ini keberuntungan. Mungkin besok besok aku akan ke rumah Keysa setiap hari. Masih tetap dalam posisi berdiri di dapur, aku menunggu Keysa yang sedang menyajikan makanan di piring. Lalu dia menghampiriku, dan wangi masakannya yang semakin dekat membuatku lebih senang. Dia menarikku untuk duduk di kursi dan makan di meja makan.


"Ayo coba. Aku bikin chiken katsu sama bakwan jagung. Sebenernya pasangan yang agak nggak nyambung. Tapi kayanya enak kok."


Dari wangi dan penampilannya saja sudah terlihat enak. Apalagi rasanya. Tanpa basa basi lagi, segera kulahap makanan di hadapanku. Dan ya ampun benar saja rasanya enak banget. Setahuku Keysa memang jago masak atau mungkin dia membuat makanan ini dengan cinta. Hingga makanan ini terasa begitu lezat


"Gimana???"


"onok bongot.."


"Haahh?


Aku bicara dengan mulut penuh makanan. Jadi kuulangi lagi.


"Ini enak banget Key."


"Oyahh, fiiuuhh syukurlah. Kalau kamu suka, berarti Rio pasti juga bakal suka?"


Deg...


Aku menghentikan suapanku, saat Keysa menyebutkan nama kekasihnya. Sepeti ada sesuatu yang sangat mengganggu.


"Rio??"


"Iya Rio. Aku sengaja masak buat dia. Ya rencananya aku mau ke apartemen dia. Sambil bawa ini. Eh kebetulan kamu datang jadi kan ada yang nyicipin hehe"


Ya ampun Axel, ternyata kamu mulai halu lagi. Ini untuk Rio Axel, untuk Rio. Lupakan rencana untuk datang ke rumah ini setiap pagi. Atau kau akan merasakan sakit hati karena menjadi bahan percobaan masakan Keysa untuk Rio. Mendadak masakan Keysa jadi terasa pahit di dalam mulutku.


"Ohhh, buat Rio."


"Kamu tahu Axel, aku seneng. Hubungan kita masih tetep baik baik aja. Dan kamu bisa buka hati lagi buat Leana. Aku juga seneng kamu sama Rio bisa temenan lagi."


"Ya... me too.."


Ahhh kenapa aku tidak bisa menjadi egois. Aku tak tega mematahkan kebahagiaannya. Gara gara malam itu, Keysa jadi mengira aku akan kembali pada Leana. Tapi sungguh, saat itu aku hanya membayangkan bagaimana jika Keysa yang ada di hadapanku. Dan ternyata siapa yang tahu kalau akhirnya akan jadi seperti ini.


"Kamu mau ke rumah Rio. Kalau gitu aku anter aja sekalian."


"Seriusan, nggak ngerepotin. Kamu katanya mau ke bengkel?"


"Tapi nanti kamu telat."


"Hehh, aku ini bos nya."


"Yeee, kalau gitu aku ganti baju dulu. Kamu tunggu bentar ya. Kalau mau nambah, ambil sendiri oke."


Binar matanya sangat berbeda jika berhubungan dengan Rio. Dasar sialan, aku jadi kesal. Mungkin seharusnya mereka cepat cepat menikah. Agar aku tidak terus menerus menjadi nyamuk sukarela disini.


***


Kupacu mobilku di jalanan dengan agak lambat. Aku juga sengaja memilih jalan jalan yang biasanya macet di jam jam seperti ini  hanya karena aku ingin menghabiskan waktu berdua lebih banyak dengannya. Hahh aku seperti orang bodoh sekarang.


Dia menggenakan bando berwarna abu abu di kepalanya, entah kenapa terlihat sangat serasi dan manis di kepalaku, rambut hitamnya yang panjang terurai, jatuh begitu saja. Membuatku gatal untuk menyentuh menapakan jejak tanganku di antara helaian yang lembut itu.


"Key..."


Panggilku pada Keysa. Mencoba untuk mencairkan suasana sebelum jadi lebih dingin daripada Ac mobilku.


"Iya,,, kenapa xel?"


Nah sekarang aku jadi bingung mau bertanya apa.


"Emang kamu tahu Rio ada di rumah, gimana kalau dia nggak ada.?"


"Aku udah telpon orang kantor kok. Katanya hari ini dia libur.


"Ohhh, btw apa kamu udah yakin sama dia. Udah bener bener yakin bakal lebih serius."


"Kenapa harus nggak yakin? Sejauh ini aku memang ngerasa kalau sama dia aku akan jauh lebih baik. Aku dan Rio tuh lebih seperti saling melengkapi."


Ahhh, aku memicu pertanyaan yang membuat ku kecewa sendiri. Lalu kualihkan lagi obrolan ku pada hal hal lain. Yang ternyata bisa membuatnya tertawa, aku senang sekali bisa melihat garis lengkung di bibirnya. Tak lama kemudian. Aku dan Keysa sampai. Setelah memarkirkan mobil, kami lalu masuk ke kawasan apartemen elit dan segera menaiki lift. Setelah di lantai 10 kami berjalan bersama menuju rumah Rio. Tiba tiba saja telponku berdering.


"Kenapa Axel?"


"Aku ada telpon kamu duluan aja ya. Tahu kan pintunya yang mana?"


"Ehm, oke."


Aku melihat telpon, ternyata dari salah satu karyawan ku di bengkel. Aku memang berniat kesana karena ada problem. Dan sepertinya mereka memang membutuhkanku. Cukup lama aku bicara pada telpon sampai aku mendengar suara..


Prang... 


Seperti benda jatuh. Aku melihat dari kejauhan Keysa berdiri mematung di depan pintu rumah Rio. Dengan makanan yang berceceran di lantai. Loh ada apa ini. Aku mematikan telponku sepihak dan berlari ke arahnya berdiri di balik dinding di samping Keysa. 


Aku tak tahu apa yang terjadi, dan tidak bisa bertanya dalam keadaan seperti ini. Yang aku tahu, setelah Keysa bicara 2 kali susunan kalimat, lantas ia berlari begitu saja.


"Beresin dulu masalah lo sama cewek itu. Baru lo temuin Keysa."


Dan seketika itu juga, aku meraih tangan Rio, menghentikannya yang hendak mengejar Keysa. Aku melihat seorang gadis di dalam sana yang sedang memperhatikan kami.


"Beresin dulu urusan lo sama cewek, baru lo temuin Keysa."


Setelah melepaskannya aku langsung mengejar Keysa. Tanpa melihat lagi ke belakang. Tanpa peduli apa yang terjadi di belakangku. Keysa semakin jauh dan aku mengejarnya.


"Key..tunggu."


Aku mengejarnya, dan sial dia langsung menutup lift nya. Aku terlambat. Aku beralih, berlari lalu menggunakan tangga darurat.