
I WANT YOU PART 3
AXEL AND KEYSA
SPECIAL PART PLAYING WITH FIRE
Bersyukurlah untuk apa yang sudah kau miliki saat ini. Meski sejatinya, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas.
(Nenk Triska)
Axel Yudhistira
"Nanti jam makan siang, aku kesana kita makan bareng."
Aku tersenyum saat chat dari Keysa masuk. Kali ini apa yang akan di bawanya ya? Masakan Keysa itu enak, aku pernah merasa bersalah saat satu bulan pertama kami menikah, ku paksa dia mencicipi hasil eksperimenku selama itu. Tapi tak pernah sekalipun ia marah, ia hanya tersenyum, atau sedikit menambah bumbu pada masakanku yang tak karuan.
Tapi ...
Sudah seminggu ini Keysa memang agak aneh. Dia bersikap manis, dan sering menghubungiku saat aku tak di rumah. Sebenarnya hanya perhatian perhatian kecil seperti menanyakan, sudah makan belum, sudah ibadah belum, jangan lupa istirahat, atau pulang jam berapa. Sepele kan, seperti abg yang baru mengenal cinta. Tapi terasa sangat special untukku.
Sudah cukup berhalu rianya. Aku masih harus memeriksa laporan Caffe yang terbengkalai sejak aku menikah. Sejuknya ac di ruanganku, untungnya bisa meredakan cuaca panas diluar. Akhir akhir ini cuaca ekstrem di Jakarta kian meningkat. Aku berhadapan dengan laptop di ruanganku, di temani Allan, staff admin yang memang sudah ku percaya.
Aku sempat memicingkan mata, mendapati satu nama yang nampaknya bermasalah. Dan setelah ku teliti lebih jelas, memang bukan hanya nampak. Tapi sangat sangat bermasalah.
"Allan, tolong panggil yang namanya Inara ya." pintaku pada Allan, yang disahut dengan anggukan. Tak berapa lama setelah ia pergi, suara ketukan pintu terdengar. Terlihat seorang gadis masuk ke ruanganku. Cantik, rambutnya pendek diatas bahu. Perawakan yang tinggi dan langsing. Tingginya mungkin hanya beda sejengkal denganku
"Permisi Pak, saya Inara, Bapak panggil saya?"
"Iya, masuk, silahkan duduk."
Gadis itu atau Inara, mendekat dan duduk di hadapanku. Aku menutup laptop, lalu mengalihkan perhatianku padanya. Hanya ada meja yang menjadi jarak di antara kami sekarang.
"Kamu tahu kenapa kamu saya panggil?"
"Ehmm ... "
Sepertinya dia tahu jawaban dari pertanyaanku. Tapi dia nampak ragu, entah ragu atau takut justru. Namanya juga berhadapan dengan bos, toh aku juga pernah mengalaminya.
"Ok, saya yang akan jelaskan. Kamu baru 3bulan disini betul?"
Inara mengangguk.
"Tiga bulan, artinya kamu masih dalam masa percobaan. Dan selama masa percobaan ini saya mendapat kenyataan buruk."
"Maksud bapak?"
"Terlambat empat kali setiap minggunya. Keluhan dari pelanggan, sering nggak fokus, sp tiga kali dan ..."
Aku berhenti, dan ia nampak gugup. Pasti karena semua yang kukatakan ada benarnya.
"Atau ..., kamu masih ada yang mau ditambah?"
Dia masih juga diam, menunduk dan sepertinya begitu enggan melihatku.
"Dengan sangat terpaksa, saya harus memberhentikan kamu ya Inara."
"Bapak ... Bapak pecat saya."
"Haduh, jangan bilang di pecat, kesannya saya ini jahat, padahal ini juga karena kesalahan kamu. Saya berhentikan kamu. Dan kamu bisa coba cari kerja di tempat lain. Saya minta mami"
Bukan hal mudah untuk memecat orang sembarangan. Apalagi, melihat kedua manik manik bersih yang kini berkaca-kaca tepat di hadapanku. Sungguh, aku tidak tega. Tapi ini bisnis, ini dunia kerja. Setiap detik yang dilalui itu berharga dan menghasilkan.
"Bapak ... Huhuhu ... Jangan pecat saya pak. Saya janji akan berubah pak."
Ya Tuhan, anak ini malah nangis. Air matanya keluar, seolah aku sudah menyiksanya aduh, bagaimana ini.
"Ehm ... Inara."
"Huhuhu ..."
"Aduh, kamu ini."
"Huhuhu ... "
Ya Tuhan, aku harus bagaimana?
"Axel ... Kamu jangan galak galak donk."
"Kamu keluar dulu ya. Pak Axel jangan dianggap. Nanti aku ngomong dulu sama dia."
Dasar Keysa, hilang sudah wibawaku di depan karyawan ini.
"Keysa." seruku pada Keysa.
"Iya bu. Makasih ya bu. Makasih udah nolongin saya." Gadis itu pergi dan tersenyum hangat pada Keysa.
Keysa beralih menarik tanganku, membawaku duduk di sofa kecil yang masih juga ada di ruanganku.
"Niatku udah bulat. Mau kamu ngomong kaya apapun, dia bakal ku pecat."
"Iya, terserah kamu." ujar Keysa sembari menyiapkan makanan.
"Kesalahannya udah fatal."
"Iya Axel."
"Orang dapet sp 3 udah di pecat. Dia ku kasih sp 4 juga udah untung masih ku kasih pesangon."
"Heemmm"
"Kamu ini kok tanggepannya gitu doank sih Key?"
"Kan kamu bos nya? Kamu yang punya, aku yang jadi rakyat, bisa apa?"
"Jangan gitu ngomongnya. Aku kan udah pernah bilang, semua milikku adalah milik kamu."
"Really?"
"Sure"
"Oke, karena semua adalah milik aku, aku punya wewenang menghentikan kamu buat mecat karyawan tadi. Setuju? nice. Ayo makan."
Akhirnya aku masuk lagi dalam perangkapnya. Dia sangat tahu, kalau aku tidak akan pernah bisa menolak apapun permintaannya. Aku menjadi lemah di hadapannya.
Ada tiga peraturan tak tertulis di dunia yang wajib di ketahui semua orang, satu wanita selalu benar dua laki laki selalu salah, tiga jika wanita salah maka kembali ke point pertama, true kan?
Ahh iya, mumpung mood nya terlihat baik. Aku harus bicara serius pada Keysa. Semoga saja kali ini dia mengerti.
"Key, dua hari yang lalu, Mama telpon."
Keysa terdiam, begitupun aku. Tapi Keysa ini istriku. Aku harus membicarakan apapun dengannya. Dia harus tahu masalah apa yang saat ini akan kami hadapi.
"Mama bilang apa Xel?"
"Mama, mama nanyain cucunya."
Ohh aku tahu ini bukan hal yang baik. Ini salahku, kenapa aku harus berbohong saat itu, dan kini aku jadi tidak tega untuk berkata sejujurnya.
"Ayo kita buat."
Wajahku yang sempat tertunduk mendadak terangkat. Pandangan kami bertemu, aku tak menemukan raut kekhawatiran pada wajahnya.
"Kamu serius? Tapi Key?"
"Ayo kita coba Mas. Nanti malem, di rumah."
"Mas?"
"Iya, Mas Axel. Ayo kita mulai coba hidup baru. Aku boleh panggil kamu Mas kan?"
Demi Tuhan, aku belum pernah sebahagia ini. Aku memeluk Keysa erat erat, bahkan hampir membuatnya tercekik saking senangnya.
"Kamu boleh panggil aku kaya gitu kapanpun kamu suka. Bahkan aku akan marah kalau sehari aja kalau kamu nggak panggil aku kaya gitu."
Aku melepaskan tubuhnya, dan saling berhadapan dalam diam, namun senyumnya membuatku terkekeh kecil.
"Jelek banget sih kamu. Untung aku sayang"
Ujarku sembari mencubit hidungnya yang mungil.
__________
Terima kasih untuk waktuny, mohon sertakan like, vote dan commentnya ya sayang. :)