
..ttttttiiiiiiittttttt
Suara bunyi panjang dari EKG kini hampir membuat semua jantung orang di dalam ruangan ini melompat. Ini pertanda detak jantung Keysa menghilang.
"Detak jantung pasien berhenti Dokter."
Ken melebarkan kedua matanya, dengan mulut yang menganga. Ia ingin sekali berucap. Tapi kenyataan seperti ada sesuatu yang menahan suaranya untuk tidak keluar.
Ini nggak mungkin. Jantung Keysa nggak mungkin berhenti. Ya Tuhan ada apa ini.
"Tolong siapkan alat Pacu jantung."
Seru Nita. Dengan sigap perawat itu menyiapkan benda yang disebut Dr. Nita.
"Nita.. ini kenapa ta. Kamu harus kasih tahu aku apa yang terjadi. Ini nggak mungkin kan Ta? Alat itu pasti salah kan Ta."
Sudah cukup, Nita sekarang benar benar kesal. Ia sedang berusaha menahan kepanikannya sebagai seorang Dokter, tapi kehadiran Ken benar benar menambah masalah baru.
"Nita, detak Jantung Keysa berhenti. Kenapa muka kamu biasa aja. Ayo cepat tolong dia Ta."
Demi Tuhan, Nita juga syok, cemas dan gugup di dalam hatinya. Tapi jika ia memperlihatkan itu semua maka semua orang juga akan ikut panik. Tapi Ken benar benar tidak melihat kondisi dan situasi.
"KAMU LEBIH BAIK DIAM ATAU KELUAR."
Teriak Dr.Nita.
Tatapan mata wanita itu tak main main, iya sudah cukup bersabar menghadapi Pria yang membuat ia harus berurusan dengan hal busuk seperti ini. Tapi nampaknya gertakan Nita berhasil. Buktinya sekarang Ken berusaha sebisa mungkin untuk diam. Demi Keysa ia harus bisa menahannya.
"Oke dalam hitungan SATU"
Seru Dr.Nita dengan Defiblillator di kedua tangannya.
Keysa. Kamu harus bertahan
"DUA
Jangan tinggalin aku Key
"TIGA
Tubuh gadis itu terlonjak saat menerima kejutan listrik dari alat yang digunakan Dr. Nita. Ken menunggu kabar baik, tapi sayangnya...
"Masih belum Dokter"
Seru perawat itu.
Keringat dingin mengalir dari tubuh Ken, Dr Nita dan semua yang berada dalam ruangan itu.
"Oke sekali lagi Dalam hitungan SATU
Keysa please
"DUA
Terakhir kalinya Key. Wake up Key, wake up
"TIGA
Bunyi panjang dari EKG yang masih sama kini benar benar menunjukan bahwa segala usaha yang kini telah mereka lakukan tak bisa merubah takdir seseorang. Nita masih berusaha mengecek kalau kalau masih ada tanda-tanda kehidupan pada gadis itu. Tapi sayangnya Nihil, denyut nadi pun kini menghilang. Ken masih mematung diam, menunggu jawaban, Tapi ia hanya mendapati Nita menggeleng gelengkan kepalanya pada Ken.
Dengan secepat kilat ia menghampiri Dr.Nita yang masih berada di samping Keysa. Memastikan bahasa isyarat sebuah gelengan kepala itu bukan hal yang buruk.
"Ini maksudnya apa Nita. Apa??"
"Maaf Ken. Aku cuma manusia biasa aku udah berusaha semampuku. Tapi nggak ada siapapun yang bisa menyalahi takdir. Maaf Ken, pacar kamu. Meninggal."
Apa? Apa ini akhirnya. Apa ini benar benar berakhir, haruskah ia percaya dengan apa yang dilihatnya. Ken menyangkal.
"Nggak ini nggak mungkin nggak mungkin."
Ken meraih tangan Keysa, ia tak mampu lagi membendung air matanya. Ini mustahil bagaimana mungkin, Keysa pergi. Pergi begitu saja. Ken menggenggam nya kuat kuat meremasnya, mencium nya berkali kali, akan tetapi tangannya sudah benar benar dingin sekarang, diantara wajahnya sudah tak nampak lagi tanda tanda kehidupan. Ken menangis. Ya dia menangis dan tak bisa berkata apa apa lagi.
"Lakukan sesuatu Nita. Dia nggak mungkin pergi secepat ini. Pasti ada kerusakan di alat kamu, surter saya mohon, pasang lagi alatnya. Pasti ada harapan kan suster. Seseorang ayo cepat tolong Keysa. Jangan cuma diam disana. Keysa bangun... bangun... bangun...
Suara Ken semakin melemah. Nita juga tak bisa membendung air matanya menyaksikan kegagalannya menyelamatkan nyawa seseorang. Ia memberi isyarat pada perawat untuk keluar bersamanya. Wajahnya lesu. Kehilangan nyawa seorang pasien juga bukan hal mudah.
Rio dan Leana menyadari kedatangan Dr. Nita mereka sama sama berdiri di hadapan wanita itu. Dari ekspresinya tentu saja semua orang akan menyadari sesuatu yang tak baik telah terjadi.
"Maaf"
Ucap Dr.Nita. perlahan.
"Ada apa ini dokter?"
Tanya Leana.
"Lebih baik kalian masuk."
Tanpa menunggu lagi Rio dan Leana segera masuk ke dalam kamar Keysa. Nampak Ken yang kini sedang memeluk gadis itu. Pemandangan ini cukup jelas memberikan gambaran. Rio dan Leana mulai menebak nebak dalam pikirannya. Tanpa perlu ada yang memberi tahu tanpa perlu penjelasan, air mata kembali tumpah.
Rio terjatuh, tubuhnya kini lemas. Pandangannya kabur. Leana juga kini hanya menutupi mulutnya, ia berlari ke arah Keysa. Ikut membaur di samping tubuh yang kini tak lagi bernyawa. Tubuh yang hanya menyisakan luka mendalam, juga penyesalan.
Rio bangkit dan segera meraih tubuh Ken memisahkannya dari Keysa dan dengan mata yang merah, pikiran kalut emosi yang kini benar benar memuncak ia mulai melayangkan tinjuan, pukulan dan menghantam pria itu terus menerus. Tapi Ken sama sekali tak membalas. Ia sudah tak memiliki kekuatan, selain kesedihan dan rasa bersalah. Leana juga tak mampu menghentikan ini semua. Ia juga terlalu bingung dan sedih untuk sekedar mengatakan sudahlah ini bukan waktunya untuk ribut, atau hey seseorang meninggal disini dan kalian masih berusaha adu jotos di sana. Tapi Ken juga nampaknya sudah mulai kewalahan karena tak membalas Rio.
"Udah Rio udah. Dia bisa mati."
Suara itu, membuat Leana dan Rio menoleh. Axel, ada disana, menambah daftar orang orang yang kini menjadi saksi atas korban perbuatan Leana Dan Ken. Ia tahu apa yang terjadi, ia tahu Keysa kini sudh tiada. Ia hanya belum tahu apa penyebab semua ini.
Axel mendekat pada gadis yang pernah dicintainya, atau mungkin malah masih dicintainya, ia meraih tangan gadis yang kini sedingin es dan seputih susu itu dengan lembut, dengan sayang. Tangan yang selalu ingin ia genggam dan keinginannya terwujud, ia tak mendapat penolakan saat menggenggam tangannya. Tapi sayangnya Keysa tak menolak karena sudah tak ada jiwa dalam raga itu.
"Key... aku kira ninggalin kamu adalah pilihan terbaik untuk kebahagiaan kamu."
Matanya berkaca kaca, Axel ingin sekali menangis, sangat ingin.
"Tapi ternyata aku salah. Andai aku bisa lebih egois dan sedikit lebih memaksa untuk tetap ada di samping kamu. Mungkin.... mungkin....
***
****Huaaaaaa sedih apa nggak sih?
please tinggalkan komen dan vote nya sobat.
Sekian dan terima gajih 😘**